Test Case: Hedonic Treadmill

hedonic treadmill | berita broadcastPertanyaan: Kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan? Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yg kemudian dikenal dengan nama: “hedonic treadmill”.

Jadi apakah yang dimaksud hedonic adaptation itu? Konsep ini diperkenalkan oleh dua orang ilmuwan bernama Philip Brickmann dan Donald Campbell. Inti dari konsep hedonic treadmill adalah bagaimana seseorang ternyata cenderung kembali pada standar kebahagiaan hidup yang sebelumnya.

Gampangnya, hedonic treadmill ini adalah seperti ini : saat gajimu 5 juta, semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta perbulan, eh semua habis juga. Kenapa begitu? Karena ekspektasi dan gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilanmu. Dengan kata lain, nafsumu untuk membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan income-mu. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill: seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju!

Nafsu materi tidak akan pernah terpuaskan

Saat income 10 juta/bulan, mau naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan pengen berubah naik Alphard. Itu salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill.

Hedonic treadmill membuat ekspektasimu akan materi terus meningkat. Itulah kenapa kebahagiaanmu stagnan, meski income makin tinggi.

Prinsip hedonic treadmill adalah “more is better”. Makin banyak materi yang kamu miliki makin bagus. Jebakan nafsu yang terus membuai. Godaan nafsu kemewahan yang terus berkobar-kobar.

Ada eksperimen menarik: seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp 5 milyar dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah. Apa yang terjadi? 6 bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level kebahagaiaan orang itu sama dengan sebelum ia menang undian berhadiah. Itulah efek hedonic treadmill.

Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill? Lolos dari jebakan nafsu materi yg tidak pernah berujung ?

Terapkanlah gaya hidup yg bersahaja! Sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.

Mengubah orientasi hidup! Makin banyak berbagi, semakin banyak memberi kepada orang lain, teruji justru semakin membahagiakan… Bukanlah banyak mengumpulkan materi yg membuat kebahagiaanmu terpuaskan !

When enough is enough

Kebahagiaan itu kadang sederhana: misal masih bisa menikmati secangkir kopi panas, memeluk anggota keluarga yang sehat, tersenyum memulai hari hari, menyapa dan mengasih tip ke tukang sampah, lanjut membaca “makanan” spiritual sepanjang perjalanan menuju tempat tugas berbakti untuk bangsa dan agama, maka betapa indahnya hidup ini!

Selamat menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya kawan.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)” (QS al-Takâtsur [102]: 1-3)

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia semakin kikir.” (QS al-Mârij [70]: 19-21).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kekayaan itu bukanlah lantaran banyak harta bendanya, akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kebahagiaan jiwa.” (HR al-Bukhari).

Semoga bermanfaat…

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *