Para Peneliti Ini Lebih Memilih Mengabdi di Indonesia

Apresiasi terhadap para peneliti di Indonesia yang dianggap masih kurang memang membuat sebagian ilmuwan Indonesia lulusan luar negeri memilih melabuhkan diri untuk bekerja di luar negeri. Namun beda cerita dengan peneliti muda yang baru saja meraih Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) XIII tahun 2015 ini.

Gambar: lipi.go.id
Gambar: lipi.go.id

Seperti dilansir dari Humas LIPI, ia lebih memilih kembali ke Indonesia untuk mengembangkan riset di negeri kelahirannya tersebut ketimbang di negeri orang. Suharyo Sumowidagdo adalah peneliti dimaksud. Saat ini, dia merupakan sivitas pegawai negeri sipil Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang bekerja pada Pusat Penelitian Informatika.

Aktivitas utama Suharyo saat ini adalah membangun kegiatan fisika partikel eksperimen dan bidang terkait dalam ranah kolaborasi LIPI dan eksperimen A Large Ion Collider Experiment (ALICE) di Conseil Europeen pourla Recherche Nucleaire (CERN) atau laboratorium nuklir untuk Eropa. Selain itu, ia juga aktif dalam membangun kegiatan fisika terutama fisika partikel eksperimen di Indonesia.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. L T Handoko mengungkapkan, Suharyo bisa menjadi sosok dan contoh ilmuwan muda yang memilih berkarir di Indonesia. “Keputusannya untuk kembali ke Indonesia patut diapresiasi. Saya harap Suharyo bisa menjadi role model dan memotivasi banyak anak muda Indonesia lain yang saat ini ‘berkeliaran’ di luar negeri untuk kembali dan mau berjuang bersama untuk meningkatkan dinamika riset di tanah air,” tutur pria yang juga menjadi atasan Suharyo ini.

Apalagi setelah kembali ke Indonesia dan bergabung di LIPI, lanjut Handoko, Suharyo sudah langsung tancap gas dengan berbagai raihan prestasi seperti peringkat tertinggi secara nasional pada Google Cendekia untuk karya ilmiah terindeks global pada awal tahun ini. Belum lagi penganugerahan PAB yang baru saja diterima pada Jumat (21/8) lalu.

“Bukan sekedar berbagai prestasi tersebut yang dilihat, tapi kita harus melihat keberanian dan dedikasinya sekali lagi untuk kembali dan berkarya ke tanah air meski sudah lama malang melintang sebagai akademisi di luar negeri. Inilah yang perlu digarisbawahi dan dicontoh,” tekan Handoko.

Secara khusus, Handoko berharap prestasi yang diraih Suharyo bisa menjadi penambah semangat bagi segenap peneliti muda LIPI serta diaspora Indonesia yang masih berada di luar negeri untuk berkenan kembali dan membangun riset di tanah air.

Enam Tokoh

Di sisi lain, Suharyo memperoleh penghargaan terbaru PAB XIII bersama lima tokoh lain yang dianggap berprestasi di bidangnya masing-masing. Mereka adalah Azyumardi Azra, Ahmad Tohari, Kaharuddin Djenod, Suryadi Ismadji, Tigor Silaban.

Dalam keterangan tertulisnya, Ketua Umum Organizing Committee (OC) PAB XIII, Anindra Ardiansyah Bakrie, menegaskan meski penghargaan ini diberikan oleh Keluarga Bakrie melalui Yayasan Achmad Bakrie, namun pemilihan dan penetapan para penerima PAB dilakukan dewan juri yang bekerja independen.

“Mereka berasal dari institusi perguruan tinggi, lembaga-lembaga penelitian dan pengkajian, asosiasi dan komunitas profesi, kalangan jurnalis, serta lembaga non pemerintah lain,” katanya.

Enam tokoh penerima PAB XIII merupakan insan terpilih yang disaring dari banyak tokoh kandidat lainnya. Proses penjurian berlangsung dengan merahasiakan nama-nama dewan jurinya layaknya penghargaan Nobel.

Sedangkan, Suharyo terpilih berkat peran aktifnya dalam kerjasama eksperimen global yang menandaskan keberadaan Partikel Boson-Higgs di CERN, yang diramalkan oleh model standar Fisika partikel. Pria ini bersedia kembali ke Indonesia sebagai pionir untuk memulai dan memimpin grup eksperimen global pertama di Tanah Air.

“Ya, seneng bisa meraih penghargaan tersebut. Namun bukan pada penghargaannya, ini adalah amanah agar saya ke depan bekerja lebih giat lagi,” tutup Suharyo.