NU Singkatan dari Nahdlatul Ulama Bukan Nahudlul Ulama

Organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, baru saja menggelar Muktamar ke-33 di Jombang. Organisasi berhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah yang didirikan KH Hasyim Asy’ari ini sering kali mendapatkan sorotan dalam sepak terjangnya, tidak hanya di dalam negeri, bahkan sampai ke penjuru dunia. Nah, ngomong-ngomong, mengapa namanya Nahdlatul Ulama, bukan Nahudlul Ulama?

Kata “nahdlatul” (nahdlah) dalam “Nahdlatul Ulama” adalah isim masdar dari kata “nahadla” yang berarti “qiyam” atau “rising” atau “bangkit”. Ada isim masdar lain dari kata “nahadla“, yaitu “nuhudl“.

Lalu, kenapa para ulama pendiri Nahdlatul Ulama memilih diksi “nahdla” (“nadlatul“) untuk nama organisasinya itu? Kenapa tidak memilih “nuhudl“? Kenapa “Nahdlatul Ulama”, bukan “Nuhudlul Ulama”?

Dalam ilmu sharaf, ada beberapa macam isim masdar, di antaranya adalah yang disebut dengan isim marrah. Secara sederhana, isim marrah artinya isim yang menunjukkan sebuah peristiwa terjadi hanya sekali. “Nahdlah” (nahdlatul) adalah contoh isim marrah itu. Jadi, secara harfiah, “nahdla” berarti “sekali bangkit”.

Maka, inilah kecerdasan bahasa para kiai pendiri Nahdlatul Ulama. Mereka menggunakan diksi “nadhlah” (bukan “nuhudl”) untuk Nahdlatul Ulama, dengan harapan organisasi-kemasyarakatan Islam itu sekali bangkit saja, lalu bertahan untuk selamanya. Bukan bangkit, lalu roboh.

Sekali bangkit saja, lalu bertahan selamanya. Ada kegaduhan di dalam, ada usaha penyusupan dari luar, ada usaha pemecahbelahan, ada fitnah sangat rendah … ada apa pun yang terjadi … semua itu hanyalah terpaan angin yang segera berlalu. Mungkin terpaan berbentuk badai dan membuat sedikit lunglai, namun takkan membuat roboh dan tercerai berai. Nahdlah. Sekali bangkit saja, lalu bertahan selamanya—selama Allah menghendaki.

Barangkali demikianlah harapan para ulama kita saat mendirikan NU, Nahdlatul Ulama. Sebagai sebuah harapan, mari kita aminkan.

Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya memperoleh mata pelajaran ke-NU-an, namun saya tidak mendapatkan asal-asul soal diksi “nahdla”.

Silakan simak video ceramah dari KH Mustofa Bisri  yang biasa disapa Gus Mus ini 🙂

Sumber: Blog JUMAN ROFARIF