Penyakit Aphantasia, Ketidakmampuan Seseorang untuk Berimajinasi

Ilustrasi AphantasiaBanyak orang yang dengan mudah menutup mata dan membayangkan matahari terbit, atau memvisualisasikan kenangan dari masa lalu mereka. Namun, bagi beberapa orang, hal tersebut mustahil.

Para peneliti menggambarkan kondisi ini sebagai aphantasia. Istilah ini merujuk pada orang-orang yang lahir tanpa sesuatu yang dikenal sebagai ‘mata pikiran’. Studi melaporkan bahwa kondisi aphantasia memengaruhi sekitar 2,5 persen dari populasi. Namun, tak banyak yang paham, mengapa hal tersebut terjadi.

Aphantasia adalah istilah medis untuk menggambarkan orang yang lahir tanpa memiliki ‘mata pikiran’ sehingga sulit bagi mereka mengingat wajah, membayangkan suatu adegan atau menghitung domba ketika ingin tidur, seperti dilansir dari Dailymail.

Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya gangguan proses otak dalam memvisualisasikan gambar. Sebab visualisasi adalah hasil dari aktivitas dalam jaringan di otak.

Kelainan yang dimiliki sebagian kecil orang di dunia itu pertama kali diteliti oleh seorang ahli saraf kognitif di University of Exeter, Inggris, Profesor Adam Zeiman. Sebelumnya, konsep manusia yang tak memiliki kemampuan untuk melakukan visualisasi itu ditemukan di tahun 1880 oleh Sir Francis Galton. Menurutnya, kondisi tersebut bisa dialami oleh 2,5% dari total populasi manusia.

Visualisasi dihasilkan dari aktivitas otak di bagian lobus frontal dan lobus parietal, bersama dengan wilayah di otak bagian lobus temporal dan lobus oksipital. Di bagian-bagian otak itulah proses visual terjadi, sehingga seseorang bisa membayangkan bentuk, rupa, dan “rasa” sebagai efek dari visualisasi tersebut. Bagi sebagian kecil orang, pada bagian-bagian tertentu di area otak tersebut terjadi gangguan sehingga mereka menderita apa yang disebut Sir Francis Galton sebagai aphantasia.

Seorang pria berusia 25 tahun dari Ontario, Kanada, bernama Tom Ebeyer, pernah melaporkan kondisinya yang diduga adalah gejala aphantasia kepada Profesor Zeman. Dari penjelasannya, ia tidak mampu mengingat sesuatu, baik peristiwa tertentu yang ia alami atau tulisan yang baru saja ia baca. Ia lambat dalam membaca dan mengalami kesusahan saat uji memori. Bahkan, Tom mengaku bahwa ia tidak dapat mengingat wajah kekasihnya saat mereka sedang tidak bersama.

Dalam kasus aphantasia yang dialami Tom, seluruh indera yang ada pada dirinya terganggu, membuatnya tak mampu membayangkan suara, tekstur, rasa, bau, emosi, semua hal yang memerlukan kegiatan visualisasi. Ketidakmamampuannya itu membuat Tom terisolasi.

Profesor Zeman kini tengah melakukan studi lebih jauh untuk menyelidiki kelainan langka ini. Menurutnya, kasus aphantasia yang berbeda-beda pada setiap penderita membutuhkan penanganan yang juga berbeda, dan sudah semestinya kelainan itu diteliti untuk mendapatkan teknik penyembuhan yang tepat bagi para penderitanya.

Studi terkait aphantasia yang Profesor Zeman tekuni dilakukan melalui projek interdisipliner yang didanai oleh Arts and Humanities Research Council (AHRC), bernama The Eyes’ Mind.