6 Karakter Anak 'Bermasalah'

anak bertengkar orang tua harus bagaimanaSebenarnya ada 6 ciri karakter anak yang bermasalah, cukup kita melihat dari perilakunya yang nampak maka, kita sudah dapat melakukan deteksi dini terhadap “musibah besar” dikehidupan yang akan datang (baca: semakin dewasa) dan secepatnnya dapat melakukan perbaikan.

Inilah ciri-ciri karakter tersebut :

1. Susah diatur dan diajak kerja sama
Hal yang paling Nampak adalah anak akan membangkang, akan semaunya sendiri, mulai mengatur tidak mau ini dan itu. pada fase ini anak sangat ingin memegang kontrol. Mulai ada “pemberontakan” dari dalam dirinya. Hal yang dapat kita lakukan adalah memahaminya dan kita sebaiknya menanggapinya dengan kondisi emosi yang tenang.
Ingat akan kebutuhan dasar manusia? Tiga hal diatas yang telah saya sebutkan, nah kebutuhan itu sedang dialami anak. Kita hanya bisa mengarahkan dan mengawasi dengan seksama.

2. Kurang terbuka pada pada Orang Tua
Saat orang tua bertanya “Gimana sekolahnya?” anak menjawab “biasa saja”, menjawab dengan malas, namun anehnya pada temannya dia begitu terbuka. Aneh bukan? Ini adalah ciri ke 2, nah pada saat ini dapat dikatakan figure orangtua tergantikan dengan pihak lain (teman ataupun ketua gang, pacar, dll). Saat ini terjadi kita sebagai orangtua hendaknya mawas diri dan mulai menganti pendekatan kita.

3. Menanggapi negatif
Saat anak mulai sering berkomentar “Biarin aja dia memang jelek kok”, tanda harga diri anak yang terluka. Harga diri yang rendah, salah satu cara untuk naik ke tempat yang lebih tinggi adalah mencari pijakan, sama saat harga diri kita rendah maka cara paling mudah untuk menaikkan harga diri kita adalah dengan mencela orang lain. Dan anak pun sudah terlatih melakukan itu, berhati-hatilah terhadap hal ini. Harga diri adalah kunci sukses di masa depan anak.

4. Menarik diri
Saat anak terbiasa dan sering Menyendiri, asyik dengan duniannya sendiri, dia tidak ingin orang lain tahu tentang dirinya (menarik diri). Pada kondisi ini kita sebagai orangtua sebaiknya segera melakukan upaya pendekatan yang berbeda. Setiap manusia ingin dimengerti, bagaimana cara mengerti kondisi seorang anak? Kembali ke 3 hal yang telah saya jelaskan. Pada kondisi ini biasanya anak merasa ingin diterima apa adanya, dimengerti – semengertinya dan sedalam-dalamnya.

5. Menolak kenyataan
Pernah mendengar quote seperti “Aku ini bukan orang pintar, aku ini bodoh”, “Aku ngga bisa, aku ini tolol”. Ini hampir sama dengan nomor 4, yaitu kasus harga diri. Dan biasanya kasus ini (menolak kenyataan) berasal dari proses disiplin yang salah. Contoh: “masak gitu aja nga bisa sih, kan mama da kasih contoh berulang-ulang”.

6. Menjadi pelawak
Suatu kejadian disekolah ketika teman-temannya tertawa karena ulahnya dan anak tersebut merasa senang. Jika ini sesekali mungkin tidak masalah, tetapi jika berulang-ulang dia tidak mau kembali ke tempat duduk dan mencari-cari kesempatan untuk mencari pengakuan dan penerimaan dari teman-temannya maka kita sebagai orang tua harap waspada. Karena anak tersebut tidak mendapatkan rasa diterima dirumah, kemanakah orangtua?

Ditulis oleh Timothy Wibowo

Kakak-Adik Bertengkar, Orang Tua Harus Bagaimana?

anak bertengkar orang tua harus bagaimanaAnak-anak berkelahi dengan saudara kandungnya umum terjadi, entah itu saat balita atau sesudah dewasa. Saat itulah orangtua kerap dibuat bingung, apakah membiarkan anak-anak menyelesaikannya atau ikut campur.

Sebenarnya, sejumlah penelitian menemukan manfaat saudara kandung bertengkar. Salah satunya bentrokan dapat membantu meningkatkan pertumbuhan sosial dan psikologis, memberikan kesempatan anak-anak melatih kemampuan resolusi konflik mereka.

Tapi, tidak semua konflik bersifat membangun. Dalam beberapa kasus, berkelahi bisa merusak dan merugikan.

Sebuah studi dalam Jurnal Pediatrics 2013 melihat pertengkaran saudara dengan saudara, seperti memukul atau mengambil barang-barang yang dimiliki saudara lainnya. Para peneliti menemukan orangtua seringkali mengabaikannya dan melihat jenis perlawanan ini normal atau tidak berbahaya. Padahal, pertengkaran semacam itu bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mental anak dan menyebabkan kesulitan di kemudian hari.

Seperti dikutip YahooParenting, memang bagian tersulit bagi orangtua adalah mengetahui apakah mereka harus mengambil sikap atau tidak saat anak-anaknya bertengkar.

Peneliti Kanada melakukan penelitian terbaru tentang konflik saudara kandung dan menemukan ketika orangtua ikut campur, akan merampas kesempatan anak-anak mengembangkan strategi resolusi konflik dan bahkan dapat membuat situasi lebih buruk.

Di sisi lain, ketika orangtua terlibat, terkadang membimbing anak-anak mereka menemukan solusi yang konstruktif.

Orangtua Harus Bagaimana?

Apabila orangtua menemukan anak-anaknya bertengkar, peneliti Kanada melihat berkomproni tampaknya menjadi cara terbaik mengatasi konflik dan kemudian membiarkan anak-anak menemukan resolusi sendiri.

Kebanyakan ahli setuju jika anak-anak meributkan hal seperti siapa yang akan bermain dengan mainan baru atau yang memegang remote TV maka orangtua sebaiknya membiarkan anak menyelesaikan masalah mereka sendiri.

“Sebisa mungkin, orangtua harus membiarkan antarsaudara menyelesaikan masalah mereka sendiri,” tulis Suzanne Barat dari Cornell University.

“Mencoba memecahkan setiap persaingan antarsaudara dapat meningkatkan, tidak mengurangi masalah, karena kebanyakan dari pertengkaran mungkin dimaksudkan untuk mendapatkan perhatian Anda. Setelah anak-anak Anda sadar bahwa Anda tidak akan terlibat, mereka mungkin menyerah menarik perhatian dengan bertengkar atau menyelesaikan argumen dengan sendirinya. ”

Sama halnya yang disampaikan Claire Hughes, penulis Social Understanding and Social Lives. Menurutnya, berdebat di antara saudara membangun karakter.

“Semakin sering anak-anak marah dengan yang lain, semakin mereka belajar tentang mengatur emosi mereka dan bagaimana mereka dapat mempengaruhi emosi orang lain,” kata Claire Hughes.

“Saya tidak ingin menjadi wanita yang mengatakan ada baiknya jika anak-anak Anda saling membenci, tetapi orangtua mungkin mendapar semacam kenyamanan, ketika anak-anak mereka berjuang, dalam belajar keterampilan sosial yang berharga dan kecerdasan yang mereka akan peroleh di luar rumah, dan berlaku untuk anak-anak lain.”

Namun, yang perlu disadari tidak semua anak-anak mampu menemukan solusi tanpa orangtua terlibat. “Saya telah melihat banyak situasi di mana anak-anak tidak berhasil, ” kata Laura Markham, PhD, penulis Peaceful Parent, Happy Kids, di situs Aha! Parenting.

“Sebaliknya, satu anak dibully oleh yang lain dan lain diizinkan melakukannya. Saya tidak akan membiarkan perilaku semacam, jelas, dan akan melakukan intervensi secara aktif yang diperlukan untuk mencegahnya. Setiap anak memiliki hak untuk menjadi aman di rumahnya sendiri. ”

Orangtua dibanding bertindak sebagai wasit, anak-anak bisa diajarkan menyelesaikan konflik mereka sendiri dengan bimbingan. “Ketika saudara datang dengan solusi mereka sendiri, mereka mungkin lebih cenderung untuk menggunakan lagi solusi mereka di masa depan,” Mark Feinberg, PhD, di Penn State, mengatakan ScienceDaily.

Orangtua yang ikut campur setiap kali anak-anaknya bertengkar dapat mencegah mereka belajar menemukan solusi dari konflik bersama-sama. Sebaliknya, cobalah mengajar anak-anak bagaimana untuk tenang, kompromi, negosiasi, dan menyelesaikan masalah mereka sendiri. Orangtua harus bersikap ketika argumen saudara meningkat ke pelecehan verbal atau kekerasan fisik.

Bila Ibu Harus Memilih [Cerita Renungan]

Anakku…
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu

Maka
ibu akan memilih mengandungmu?
Karena dalam mengandungmu
ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah
Sembilan bulan nak…

Engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata

Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia

Saat itulah…
Saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita
Rasulullah di telinga mungilmu

Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah,
atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku…
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak…
Maafkan ibu…
Maafkan ibu…
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak…
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak…
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…