Semua Dosen Harus Belajar ke Guru TK

Pada 2014, hanya ada dua kampus, yakni UI dan ITB, yang masuk 500 besar versi QS World University Ranking: UI di 310 dan ITB di 470. Sementara itu, versi Ranking Web of University, tak satu pun masuk 500 besar, hanya ada 4 universitas masuk 1000 besar, yakni UI, ITB, UGM dan Universitas Brawijaya. Aspek kognitif mahasiswa Indonesia secara keseluruhan juga rendah, peringkat 49 dari 50 negara dalam survei Pearson di tahun yang sama.

Selain manajemen pendidikan yang amburadul, sebab lain yang sangat berpengaruh adalah kualitas pengajar mahasiswa kita. Harus berani mengatakan bahwa mayoritas dosen gagal memberikan penuntukan dan pengajaran kepada mahasiswa seperti yang seharusnya.

Jika diamati, kegagalan mereka yang paling utama terletak pada cara mengajar. Mereka gagal membuat mahasiswa Indonesia mencintai penelitian, suka belajar, mampu bertanya, menganilisis masalah secara tajam dan sanggup mempresentasikan idenya dengan bahasa yang lugas dan bernas, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

Oleh karena itu, para dosen harus belajar kepada guru TK. Tentu saja bukan meminta para profesor memulai kelas dengan menyanyi lagu Balonku Ada Lima, tapi meneladani strategi guru TK membuat murid mencintai ilmu pengetahuan dengan suasana yang ceria dan penuh suka-cita. Harus diakui, setidaknya untuk kasus Indonesia, di antara semua level pendidikan, taman kanak-kanaklah yang secara umum dan kasat mata paling ideal dalam melakukan proses pendidikan.

Hampir semua dasar yang diperlukan dalam pendidikan diajarkan di TK, terutama terkait nilai dan kecintaan terhadap belajar/ilmu. Hanya anak TK yang merengek minta sekolah dan punya imajinasi yang besar terhadap tempat mereka belajar. Tengok saja obsesi mereka dalam permainan sekolah-sekolahan. Bandingkan dengan kemuakan sebagian siswa dan mahasiswa kita terhadap bangku sekolah/kuliah.

Guru TK selalu melakukan persiapan yang patut sebelum mengajar: entah itu permainan, lagu anyar, seni dan kerajinan, dan sederet media pembelajaran lainnya. Bahkan, guru TK tak langsung pulang usai mengajar demi mempersiapkan sesuatu yang baru untuk pelajaran esok hari.

Guru TK juga selalu tertantang untuk senantiasa membuat murid merasa rileks dan bahagia sebelum materi utama disampaikan. Hal ini sering jauh bertolak belakang di bangku universitas. Tak jarang, dosen memulai kelas dengan curhat tentang gajinya yang minim, kesibukan dan kelelahnnya, jika tidak memulainya dengan cerita-cerita narsisistik tentang kehebatan dirinya. Bahkan, ada dosen yang selama kelas hanya bercerita tentang keunggulannya.

Di TK, para murid diajarkan untuk melakukan observasi dengan bimbingan yang sangat memadai. Objeknya tentu sederhana, misalnya membedakan binatang pemakan daging dan pemakan rumput. Coba kita ingat, betapa antusiasnya kita saat itu terhadap penelitian sederhana ini, lalu bandingkan dengan sengasaranya mahasiswa Indonesia kalau diminta melakukan riset. Tak heran jika ada yang harus sakit jiwa, keguguran dan bahkan bunuh diri gara-gara tekanan batin saat skripsi.

Patut diyakini bahwa kesalahan ada pada cara dosen membuat mahasiswa bergairah terhadap temuan baru. Sebabnya, semua orang tahu, tak ada bimbingan atau supervisi dari dosen yang memadai selama proses tersebut berlangsung. Mahasiswa seolah di lepas di alam liar dan siap-siap dihakimi setelahnya. Jika hasilnya bagus, tak ada apresiasi. Namun, jika hasilnya tak sesuai dengan harapan dosen, siap-siap saja dihakimi dengan penghakiman yang sangat traumatis. Ada dosen di kampus ternama menempel karya mahasiswa yang dianggapnya jelek di dinging kelas untuk dipermalukan ke seluruh pemakai kelas tersebut. Manusia jenis apa pun tak akan sudi diperlakukan seperti ini.

Selanjutnya, saat TK, apa pun bisa ditanyakan dan guru akan dengan sangat senang menjelaskannya. Bahkan, guru TK akan berusaha membuat anak-anaknya mampu bertanya. Di sejumlah perguruan tinggi, pertanyaan-pertanyaan cerdas mahasiswa sering dianggap sebagai perlawanan. Bahkan, satu kasus di sebuah universitas negeri, seorang dosen memberikan label “Bani Israel” kepada mahasiswa yang dianggapnya nanya melulu.

Padahal, kata filsuf Perancis, Peter Abelard (1079-1142), ”Dengan ragu-ragu kita bertanya, dan dengan pertanyaan kita sampai pada kebenaran.” Oleh karena itu, patut dinilai bahwa pertanyaan harus menjadi karakteristik yang melekat pada diri mahasiswa. Tak jarang, mahasiswa tak pernah mau lagi bertanya karena sekali waktu pernah dibully akibat pertanyaan yang dianggap bodoh dan tak berbobot.

Intinya, suasana yang dikembangkan oleh guru TK selama pengajaran adalah melakukan semua aktivitas belajar dengan menyenangkan. Guru-guru TK selalu berusaha enerjetik dan antusias dalam mengajar. Tak heran jika murid-muridnya pun selalu ceria.

Hal ini sering berbanding terbalik dengan atmosfer di universitas. Para dosen harus menyadari bahwa semakin tua, orang cenderung semakin konservatif. Sehingga, sangat mungkin mereka menjadi spesies paling membosankan di dunia. Oleh sebab itu, strategi dan kemampuan menyampaikan pengajaran harus selalu ditingkatkan dan diperbarui.

Sangat aneh dan ironis, tak sedikit dosen yang merasa senior alergi terhadap aneka training tentang pelbagai metode dan strategi pengajaran. Bahkan, ada seorang dosen setelah menghadiri workshop tentang pengajaran yang menyenangkan berseloroh, “Emang kita guru TK?!” Ya, semua dosen harus belajar ke guru TK supaya mahasiswa tak perlu lagi tersiksa, bermandi air mata, gantung diri, stress dan menembak dosennya karena frustasi dengan pendekatan mereka kepada para penuntut ilmu.

Ditulis oleh Dhuha Hadiyansyah

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *