Robot Pembersih Udara Raih Penghargaan

penghargaan National Young Inventor AwardPolusi udara saat ini menjadi topik utama, khususnya di Riau dan Jambi. Dibutuhkan alat untuk menekan tingkat polusi udara yang tinggi di era modern ini. Nah, ada kabar menggembirakan datang dari pelajar SMK Negeri 1 Kedungwuni, Pekalongan, Jawa Tengah. Bayu Aji Setyawan dan Galih Yuli Dwiatmaja-lah yang menemukan alat pengikis polusi udara tersebut. Alat berbentuk robot tersebut dipamerkan dalam ajang National Young Inventor Award (NYIA) ke-8 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama dengan British Council melalui program Newton Fund dari tanggal 25 hingga 27 Agustus lalu. Robot ini mengungguli 30 invensi lainnya pada puncak pemberian penghargaan yang di gelar Kamis, (27/8) malam di Auditorium utama LIPI.

Menurunnya kualitas udara saat ini melatarbelakangi Bayu dan Galih membuat alat pembersih udara. “Kualitas udara yang buruk tentunya menentukan kualitas ekonomi, kesehatan, dan juga kesejahteraan bagi manusia, tak terkecuali di Indonesia” ujar Bayu sebagaimana dilansir Humas LIPI. “Indonesia memiliki 4 kota besar, di antaranya Medan dengan kadar materi 111 mikrogram/m3, Surabaya 69 mikrogram/m3, Bandung 43 mikrogram/m3, dan Jakarta 43 mikrogram/m3. “Ini sudah sangat tinggi dari standar kadar materi udara yang ditetapkan World Health Organization (WHO) di udara yang hanya 25 mikrogram/m3,” sambungnya.

Temuan yang diberi nama AS-SHUR ini merupakan teknologi robot pembersih udara dengan tiga sistem kontrol kendali. “Kami menggunakan sistem kontrol otomatis, portable, dan remot kontrol,” jelas Bayu. Robot dapat dioperasikan untuk mendeteksi dan mensterilkan udara polusi menjadi udara bersih baik di indoor maupun di outdoor.

Ketika robot mendeteksi adanya gas polusi yang berbahaya, maka sensor akan mengkomunikasikanya melalui data digital layar LCD pada robot tersebut. “Kalau intensitas kualitas udara polusi yang dideteksi tinggi, maka robot akan otomatis berhenti dan akan menghidupkan blower yang terpasang dibagian atas dan depan robot”, jelas rekannya Galih. Blower akan menghisap dan menekan udara polusi tersebut untuk masuk dalam body atau prototype robot.

Setelah polusi itu masuk dalam robot, udara polusi akan melewati filtrasi berupa karbon aktif yang terbuat dari bahan dasar tanaman lidah mertua (sansivieria sp). “Karbon aktif bekerja untuk mengikat logam-logam berat yang terkandung dalam polusi udara. Output yang dikeluarkan oleh robot tersebut adalah udara non logam berat, karena logamnya telah terikat di karbon aktif,” ujar Galih. Setelah udara di ruangan tersebut bersih, robot akan bekerja secara otomatis kembali menyisir ruangan yang terdapat udara polusi lagi.

Sementara itu, Galih juga mengungkapkan bahwa temuan robot pembersih udara ini juga menuai banyak kritikan dengan sudah tersedianya penyejuk ruangan yang bisa sekaligus membersihkan polusi udara. “Memang sudah ada alat seperti itu, tapi harus diperhatikan bahwa pembersih udara yang berbasis Air Conditioner (AC) mengeluarkan gas chloro floro carbon (CFC) dan tidak baik untuk lapisan ozon dan juga mahal sehingga hanya bisa dinikmati oleh masyarakat kelas menengah ke atas, sambungnya. “Ini merupakan teknologi karya Indonesia, dan mudah-mudahan bisa membantu mengatasi masalah global,” pungkas keduanya.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *