Remaja/Pemuda Berprestasi Sebelum Usia 30 Tahun (Bag II – Selesai)

Banyak orang yang meragukan kemampuan remaja/pemuda yang masih belia. Padahal banyak diantara mereka yang bisa meraih prestasi gemilang disaat yang lainnya sibuk pacaran dan hangout. Remaja/remaja berprestasi itu belajar hingga ke negeri orang, di kampus-kampus terbaik dunia. Dengan kerja keras, mencari beasiswa dan membuat penelitian yang berdampak pada dunia. Tapi satu hal yang sama diantara mereka, tetap ingin menjadi warga negara Indonesia dan berbakti untuk negeri.

Kami bagikan info tentang 9 orang remaja/pemuda berprestasi yang patut ditiru.

5. Ariawan Gunadi, Usia 29 Tahun meraih gelar Doktor Hukum di Universitas Indonesia (UI)

Siapa sangka, orang yang terlahir dari keluarga sederhana dan harus bekerja guna bersekolah sekaligus memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarga, dapat meraih gelar doktor pada usia 27 tahun. Hal ini menjadi sejarah baru dunia pendidikan di Indonesia.

Sulung dari 3 bersaudara kelahiran Jakarta, 19 Maret 1985 selepas SMA, sudah mulai mencari uang dengan mengajar bahasa Inggris. Dari situlah ia membiayai kuliah dan mencari beasiswa.

Tidak pernah terlintas di benak Ariawan Gunadi bahwa dirinya suatu saat bakal menyandang gelar doktor bidang ilmu hukum dagang internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Ia juga didaulat sebagai doktor termuda dalam sejarah UI mengalahkan Firmanzah, yang menjadi doktor Fakultas Ekonomi UI dalam usia 29 tahun.

Ariawan mengatakan sejak awal sudah bertekad untuk membiayai sendiri kuliah S1 tanpa dana dari orangtua. Ia pun mendapatkan beasiswa, bahkan sampai S2 dan menyelesaikan doktor di UI juga menggunakan uang sendiri.

Disertasinya di Universitas Indonesia yang berjudul Perjanjian Perdagangan Bebas Dalam Era Liberalisasi Perdagangan Studi Mengenai ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) yang diikuti oleh Indonesia.

6. Andy Octavian Latief, Ph.D, Meraih gelar Doktor saat usia 25 Tahun di Maryland University Amerika Serikat.

Remaja kelahiran 3 Oktober 1988 yang hobi baca ini memang penggemar berat ilmu fisika. Berkat itu pulalah, anak pertama pasangan Abd. Latif dan Nurrahmah ini meraih berbagai kejuaraan bidang studi fisika. Tak hanya itu, dia juga pernah merebut juara bidang studi lainnya.

Bayangkan, dari tahun 2004 hingga awal tahun 2005 saja, telah ada 11 juara yang berhasil diraihnya. Itu pun selalu berada pada urutan nomor wahid. Diantaranya, juara I Lomba Fisika Nuklir BATAN 2004, juara I Olimpiade Sains Fisika 2004, pemilik predikat High Distinction dalam Australian National Chemistry 2004.

Di tahun 2005, Andy juara II Kompetisi Sains nasional Universitas Indonesia 2005, juara I Lomba Olimpiade Sains se-Kabupaten 2005, juara I Lomba Matematika Se Madura 2005. Juga juara I Fisika Untag Surabaya 2005, juara I Olimpiade Sains Fisika Universitas Surabaya 2005. Dan, terakhir, meraih juara I Lomba Fisika Tingkat Nasional dalam Even MOSI (Menuju Olimpiade Sains Indonesia).

Pemuda jenius yang pernah meraih medali emas Olimpiade Fisika Internasional. Bukan hanya dari dalam negeri, kampus dari luar negeri, seperti kampus-kampus terkemuka di Asia, Australia, Eropa dan Amerika, bahkan kampus tempat dia belajar sekarang (Maryland University) juga telah menawarkan kontrak kerja pada lelaki berkacamata ini.

7. Johny Setiawan, Doktor muda Indonesia Penemu Lebih Dari 10 Planet Baru. Menyelesaikan S-3 saat usia masih 25 Tahun.

Dr rer nat Johny Setiawan adalah astronom asal Indonesia yang bekerja sebagai peneliti di Departemen Pembentukan Bintang dan Planet, Max Planck Institute for Astronomy di Heidelberg, Jerman. Selama tujuh tahun berkarya sebagai peneliti sejak tahun 2003, astronom yang menjuluki dirinya “astronom gokil” ini telah menemukan 15 planet ekstrasurya alias planet-planet di luar tata surya kita.

Planet terakhir yang ditemukannya adalah HIP 13044b, sebuah planet yang mengorbit bintang lansia dan minim kandungan logam, HIP 13044. Penemuan ini mampu membuka cara pandang baru tentang proses pembentukan bintang sebab saat ini diyakini bahwa bintang tua dan minim kandungan logam tak mungkin memiliki planet.

Akhir tahun 2010, penemuan HIP 13044b dinobatkan sebagai 10 penemuan sains terbaik 2010 versi majalah Times. Temuan astronom yang kini berusia 36 tahun itu bisa disejajarkan dengan temuan Gliese 581g yang merupakan asing planet mirip Bumi dan temuan para fisikawan di European Organization for Nuclear Research (CERN).

Temuan besar Johny lainnya adalah planet TW Hydrae b. Penemuannya tergolong mencengangkan sebab di antara ratusan planet ekstrasurya, tak satu pun yang mengorbit pada bintang yang berusia muda. Diketahui, TW Hydrae b mengorbit bintang TW Hydrae, bintang yang baru berusia 8-10 juta tahun, 1/500 usia matahari saat ini.

8. Pandji Prawisudha, S3 Department of Environmental Science Tokyo Institute of Technology Japan , Tokyo.

Beliau adalah seorang lulusan S3 di Tokyo Institute of Technology, dan hingga Maret 2013 menjabat sebagai Asisten profesor di tempat yang sama. Sedikit sulit mendapatkan info detail mengenai Doktor Pandji ini.

9. Prof. Agus Pulung Sasmito, Menjadi Profesor di Mc-Gill University, Kanada. McGill University. Dia menyelesaikan gelar Doktor pada usia 26 Tahun.

Prestasi gemilang ditorehkan pemuda Indonesia di luar negeri. Agus Pulung Sasmito, pria asal Wonosobo, Jawa Tengah berhasil menjadi profesor (asisten) di Mc-Gill University, Kanada. McGill University merupakan salah satu perguruan tinggi ternama di Kanada yang menduduki peringkat ke-21 dalam daftar perguruan tinggi terbaik dunia dan kedua di Kanada versi QS World University Rangkings 2013.

Karier moncer pemuda yang lebih suka dipanggil Agus ini berhasil diraihnya dalam usia yang tergolong muda, 30 tahun. Di Kanada, dia lebih populer dengan sebutan Profesor Sasmito. Agus memegang peranan penting di kampus yang sangat dikenal dengan kualitas penelitiannya itu.

Selain mengajar, Agus yang merupakan profesor termuda dan terbaru di Jurusan Teknik Pertambangan dan Material McGill University, juga dipercaya memegang kendali di laboratorium mine ventilation, energy, and environment di kampusnya. Dia merupakan satu-satunya ahli dalam bidang keselamatan penambangan bawah tanah dan sistem energi hidrogen di kampus tersebut.

Agus meraih gelar S-3 di National University of Singapore (NUS) jurusan Teknik Mesin melalui program direct PhD (langsung dari S-1 ke S-3, tanpa melalui S-2) setelah mendapatkan beasiswa dari ASEAN University Network (AUN/SEED-Net) & NUS Research Scholarship.

***

Ke-9 anak muda Indonesia ini mendapatkan beasiswa dalam menempuh kuliah S-3 nya, beberapa diantaranya bahkan tidak melalui S-2 karena dianggap mampu untuk mengerjakan disertasi S-3. Kami yakin, ini hanya sebagian yang berhasil kami dapatkan infonya. Masih banyak anak Indonesia lain yang juga berprestasi baik di Indonesia maupun di kacah dunia.

 

Apakah kamu bisa melakukan hal yang sama? SANGAT bisa! Fokus dan fokus kuncinya. Selamat mencoba!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *