Remaja/Pemuda Berprestasi Sebelum Usia 30 Tahun (Bag I)

Banyak orang yang meragukan kemampuan remaja/pemuda yang masih belia. Padahal banyak diantara mereka yang bisa meraih prestasi gemilang disaat yang lainnya sibuk pacaran dan hangout. Remaja/remaja berprestasi itu belajar hingga ke negeri orang, di kampus-kampus terbaik dunia. Dengan kerja keras, mencari beasiswa dan membuat penelitian yang berdampak pada dunia. Tapi satu hal yang sama diantara mereka, tetap ingin menjadi warga negara Indonesia dan berbakti untuk negeri.

Kami bagikan info tentang 9 orang remaja/pemuda berprestasi yang patut ditiru.

1. Emil Dardak, Menjadi Doktor Termuda di Jepang Saat Usianya Masih 22 Tahun

Emil Elestianto Dardak atau kerap disapa Emil Dardak adalah Executive Vice President dari PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero). Usianya yang masih terbilang muda ini mengantarnya ke gerbang kesuksesan, karena usaha, kerja keras, serta kemauannya membangun diri, khususnya Indonesia.

Pria kelahiran 20 Mei 1984 ini dipercaya memegang perusahaan BUMN yang dibentuk Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tersebut karena kapasitasnya yang tak bisa dipandang sebelah mata. Emil pun menjadi Direktur Utama ad interimlembaga pembiayaan infrastruktur bentukan pemerintah dan lembaga internasional, yaitu Indonesia Infrastructure Finance (IIF).

Di fase awal karirnya, pada usia belia 20 tahun, Emil Dardak yang telah meraih gelar paskasarjana dari Jepang, telah menjadi panelis pada Asia Pacific Experts’ Meeting for Infrastructure Development yang diselenggarakan di Malaysia pada tahun 2004, Emil meraih gelar Doktor termuda di Jepang dari Ritsumeikan Asia Pacific University  dengan konsentrasi riset di bidang infrastruktur dan pengembangan ekonomi wilayah. Dia juga menjadi peserta termuda di Executive Education Programme di University of Oxford, United Kingdom bersama para senior project managers setingkat Direktur dan Head/Senior VP yang terpilih dari seluruh dunia untuk mengembangkan disiplin ilmu Major Programme Management.

2. Cindy Priadi di usia 26 tahun, ia berhasil menamatkan studi doktoralnya di Universitas Paris-Sud 11, Perancis.

Cindy Priadi meraih predikat doktor di usia yang terbilang masih sangat muda. Di usia 26 tahun, ia berhasil menamatkan studi doktoralnya di Universitas Paris-Sud 11, Perancis.

Cindy, yang lahir di Bandung, 30 Januari 1984, mengaku sudah sejak lama tertarik dengan kebudayaan Eropa dan isu-isu mengenai lingkungan. Berangkat dari ketertarikan itu dan kemahirannya berbahasa Perancis, pada 2005 ia berkesempatan melanjutkan studi pascasarjana di Universite Paris-Sud 11, Perancis, setelah mendapakan beasiswa dari Pemerintah Perancis melalui Pusat Kebudayaan Perancis di Indonesia.

Dalam menempuh S-3,  program studi Geokimia Lingkungan seluruh biaya penelitian dan biaya hidup Cindy ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Perancis dan lembaga penelitian tersebut.  Tesis S-2 nya dijadikan proyek resmi oleh sebuah badan penelitian di Perancis sehingga mendapatkan pendanaan selama tiga tahun untuk penelitiannya. Yang membiayai penelitian tersebut adalah pengelola Sungai Seine atau semacam Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia. Mereka tertarik dengan penelitian Cindy karena ingin mengetahui kadar air di sungai tersebut serta untuk keperluan membuat instalasi dan pengelolaan air sungai dalam jangka panjang.

3. Arief Setiawan (25 Tahun), pemuda asli Semarang ini sudah mendapatkan gelar Doktor dari Tokushima University Jepang.

Prestasi membanggakan diraih Arief Setiawan, pemuda asli Semarang. Di usianya yang baru 25 tahun, ia sudah mendapatkan gelar Doktor dari Tokushima University Jepang. Ia pun ternyata menjadi doktor termuda di Indonesia.

Pemuda kelahiran 6 Januari 1990 itu mengaku tak mengetahui apakah dirinya itu doktor termuda untuk semua bidang atau tidak. Yang pasti, ia merupakan doktor bidang teknik termuda di Indonesia. Gelar sebagai doktor bidang teknik termuda itu disematkan oleh MURI beberapa waktu lalu.

Arief bercerita bahwa dirinya masuk sekolah SD pada usia 5 tahun. Lulus SD ia lalu masuk di SMP 2 Semarang. Tahun 2001 saat itu, SMP tersebut pertama kalinya membuka program akselerasi. Ia pun iseng-iseng mendaftar dan ternyata lolos.

Salah satu kunci kenapa Arief bisa meraih gelar doktor semuda itu karena ia mengikuti kelas akselerasi semasa sekolah SMP dan SMA. Usia 15 tahun, ia sudah lulus dari SMA 3 Yogyakarta. Langkah masa depannya ia tujukan ke Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM). Pendidikan di UGM pun ia tempuh lebih cepat dari umumnya, hanya 3 tahun 9 bulan. Ia lulus dari UGM sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,93 di usia 19 tahun. Ia selalu berusaha membuktikan bisa menjadi yang terbaik.

4. Prof. Nelson Tansu, Ph.D, Meraih gelar Doktor saat usia 25 tahun, tak lama berselang meraih gelar Profesornya. Dan menjadi Profesor termudah di Amerika.

Nelson Tansu (lahir di Medan, Sumatera Utara, 20 Oktober 1977) adalah seorang akademisi dan peneliti nanoteknologi dan optoelektronika asal Indonesia yang menjadi tenure-track Assistant Professor di Universitas Lehigh (Lehigh University, Pensilvania) pada usia 25 tahun (sejak Juli 2003). Tansu yang gemar nasi Padang menyisihkan lebih dari 300 doktor untuk mendapatkan jabatan Assistant Professor tersebut di Universitas Lehigh sejak Juli 2003.

Riset Tansu adalah dalam bidang fisika terapan (Applied Physics) terutama dalam bidang semikonduktor, nanoteknologi, dan fotonika. Sejak April 2007 sampai April 2009, ia menjadi Peter C. Rossin (Term Chair) Asisten Professor di Universitas Lehigh. Sejak Mei 2009 (usia 31 tahun) sampai April 2010, Tansu dipromosi menjadi Associate Professor dengan tenure di Universitas Lehigh. Sejak May 2010 sampai sekarang, Tansu dipromosi menjadi Class of 1961 Chair Associate Professor (dengan tenure) di Universitas Lehigh.

Saat ini, beliau mengajar para mahasiswa di tingkat master (S-2), doktor (S-3) dan post doctoral Departemen Teknik Elektro dan Komputer. Karena nama akhirnya mirip seperti nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya “pulang ke Jepang” untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu
mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila.

Bersambung

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *