Refleksi 70 Tahun Proklamasi : Penguatan Karakter & Ekonomi Rakyat

Dirgahayu-Republik-Indonesia | berita broadcastMomen 17 Agustus tiap tahunnya selalu spesial bagi bangsa Indonesia. Karena pada hari itu menjadi momentum bangsa ini menapaki usia yang ke- 70 tahun. Sejarah mencatat 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka, bebas lepas dari belenggu pendudukan bangsa luar dan berdiri tegak di tanah sendiri.

Meski sebenarnya kemerdekaan yang dikumandangkan Bung Karno dan Bung Hatta saat itu masih dalam suasana yang sebenarnya belum benar-benar merdeka. Kemerdekaan yang disuarakan pada hari jumat jam 10 di jalan pegangsaan timur jakarta saat itu sebagai momentum untuk mengisi kevakuman pemerintahan setelah awal agustus 1945, Jepang sebagai pemerintah yang menduduki Hindia Belanda menyerah ditangan tentara sekutu.

Meski kalah perang, namun tentara jepang di wilayah pendudukan Indonesia masih memegang senjata lengkap. Amunisi dan persenjaatan militer, serta armada tempur masih bersliweran di jalan-jalan kota. Tidak ada yang berani melucuti apalagi melawan tentara Jepang yang masih kuat. Maka generasi tua saat itu pun berpikir panjang untuk menndapatkan momen kemerdekaan tanpa ada pertumpahan darah dengan Jepang. Dibawah pimpinan bung Karno , generasi tua lebih sabar dan memilih kemerdekaan RI mendapat dukungan dari Kaisar jepang.

Berbeda dengan generasi muda, yang lebih menggebu-gebu dan bersemangat untuk segera merdeka. Apalagi ada momentum yang tepat sehingga dibawah pimpinan Caherul Saleh, generasi muda “mengamankan” tokoh utama bangsa yakni Bung Karno dan Bung Hatta ke sebuah desa kecil bernama Rengasdengklok, Karawang, pada 16 Agustus 1945. Mereka mendesak agar dua tokoh bangsa tersebut segera memproklamasikan kemerdekaan RI.

Namun peredebatan yang terjadi malam Jumat di bulan Puasa itu berlangsung alot. Bung Karno masih keukeuh bahwa kemerdekaan RI sejalan dengan persetujuan jepang yang telah berjanji akan memberikan kemerdekaan dengan pembentukan BPUPKI dan PPKI. Tidak mudah bagi para pemuda saat itu meluluhkan hati bung Karno hingga dini hari. Setelah itu, bung karno dan bung Hatta kembali ke Jakarta untuk menemui pimpinan Angkatan darat jepang, menyampaikan keinginan bangsa Indonesia untyk merdeka. Namun Jepang tidak memberi ijin bung Karno untuk mengumunkan proklamasi kemerdekaan, karena kondisi RI masih stastus quo sebelum kedatangan sekutu. Tentu saja hal ini membuat generasi tua kecewa berat karena jepang telah ingkar janji.

Maka, pada jam 2 sampai dengan dini hari, golongan tua dan muda berkumpul di rumah laksamana tadashi Maeda, seorang perwira AL Jepang yang mendukung kemerdekaan RI. Bertempat di jalan Imam Bonjol no 1 menteng Jakarta pusat, akhirnya naskah proklamasi dibuat yang ditulis sendiri dari tangan bung Karno. Tokoh muda Sukarni mengusulkan agar Bung Karno dan bung Hatta yang mennadatangi teks proklamasi atas nama bangsa Indonesia. Maka teks proklamasi kemudian diketik oleh Sayuti Melik dan dibacakan oleh bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 10 pagi di jalan Pegangsaan Timur no 56 Jakarta.

70 Tahun kemudian

Usia 70 tahun bagi manusia mungkin bisa dibilang tua, namun bagi sebuah bangsa dan Negara relatfe masih muda. Tahun 2015 jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 250 juta jiwa sedangkan tahun 1945 diperkirakan sekitar 60 juta jiwa atau mengalamai peningkatan 4 kali lipat. Situasi awal kemerdekaan masih suasana revolusiner karena masih menghadapi tentara sekutu yang diboncengi Belanda. Hingga tahun 1949 ketika diadakan perjanjain meja bundar secara de fakto bangsa Indonesia mendapatkan kemerdekaan dengan wilayah yang terbatas. Dan baru tahun 1964 kemudian Papua Barat bergabung dalam NKRI. Kemudian disusul Timor Timur tahun 1975 meski akhirnya menjadi Negara merdeka.

Nuansa jaman sekarang jelas berubah, bangsa Indoensia sudah membangun. Dalam segala hal bangsa ini sudah mengalami kemajuan, kota-kota semakin maju, inftsratuktur banyak dibangun, ekonomi berliat dan pendidikan sudah menjamur. Teknologi semakin maju dan peralatan kian canggih

Namun tahun 2015 ini bangsa ini mengalami tantangan yang tidak mudah. Dalam pidato kenegaraan presiden 14 Agustus 2015 di gedung MPR Senayan, Jokowi menyampaikan laporan dan rencana pemerintah membangun bangsa. Dengan dana yang dikelola Negara mencapai Rp 1600 triliun presiden Jokowi bertekad untuk menciptakan kemajuan bangsa dengan berbagai program kerjanya. Antara lain, pembanguan infrastuktur yang digenjot, subsidi ntuk rakyat miskin dan kebijakan lainnya.

Bangsa ini masih mempunyai pekerjaan rumah yang besar. Tahun 2015 jumlah penduduk miskin Indonesia saat ini sekitar 27,5 juta jiwa sesuai data BPS 2015. Jumlah penggangguran mencapai 7,4 juta jiwa. Pendapatan per kapita bangsa 41 juta setahun atau rata2 peghasilan Rp 3,5 juta per orang. Dan pendapatan Negara atau APBN 2015 sekitar Rp. 1800 trilun

Sedangkan dalam ekomomi makro, bangsa ini sedang mengalami perlambatan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia turun hanya 4,7 persel kuartal 1 tahun 2015, tingkat inflasi yoy 6,8 %, nilai tukar rupiah mencapa 13.700 per 1 dollar AS. Cadangan devisa Negara 107 milyar dollar As dan jumlah hutang negara mencapai Rp 4000 trilun .

Dari data diatas dan gejolak ekonomi dunia saat ini, artinya fondasi ekonomi kita belum terlalu kuat. Maka pemerintah harus membuat kebijakan agar postur anggaran lebih langsing namun berisi. Selain itu pemberantasakan korupsi juga harus digalakkan agar uang Negara seamat dari tangan –tangan kotor para penjahat berdasi.

Selain ekonomi yang tak kalah penting adalah pembinaan karakter bangsa, yang kian lama makin tergerus jaman. Budaya gotong royong yang terkikis, budaya malu yang hilang, budaya kebersihan yang terbuang, budaya antre yang sulit, budaya toleransi yang acak adut, budaya penghormatan anak pada orang tua yang buyar dan budaya untuk saling nenghormati perbedaan yang kian tersingkir.

Pemerintah harus berupaya memperbaiki segala sendi kehidupan disamping ekonomi juga karakter bangsa yang luntur. Percuma jika Negara ekonominya kuat tapi banyak koruptor, banyak kejahatan, banyak kedholiman dan kemunafkan. Bangsa ini akan kuat jika karakter bangsa kembali pada dasar Negara pancasila . bangsa ini harus bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan. Maka 70 tahun kemerdekaan Indonesia adalah momentum untuk mewujudkan karakter bangsa yang kuat dan ekonomi nasional yang tangguh. Sehingga bisa membuat masyarakat adil dan sejahtera baik jasmani maupun rohani serta menempatkan Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat dan disegani bangsa lain di dunia.

Dirgahayu bangsaku Tercinta!

Ditulis oleh Dudun Parwanto via www.pusakaindonesia.org

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *