Nasihat Bagus: "Follow the Money" atau "Do What You Love and Money Will Follow"

Ada dua nasihat yang tampak saling bertentangan, namun keduanya saling berhubungan. Yang manakah yang seharusnya dipilih?
Yang pertama, follow the money. Orang mungkin bilang, jangan tamak, jangan mengejar uang. Kenyataannya, tidak semua orang terlahir kaya dan berkecukupan. Beberapa orang malah lahir dari keluarga yang tidak jelas atau berada dalam lingkungan tanpa masa depan.

Orang-orang seperti Mike Tyson yang lahir di lingkungan yang keras dan serba berkekurangan tidak punya banyak pilihan. Follow the money adalah satu-satunya pilihan. Dengan menjadi petinju ia bisa meraih banyak uang, meskipun boleh jadi ia membenci latihan dan kekerasan.

Banyak lagi contoh orang-orang terkenal yang melakukan hal yang sebenarnya mereka benci untuk mendapatkan kekayaan dan harapan akan kebahagiaan. Michael Jackson, Andre Agassi, Michael Jordan, Muhammad Ali, dan banyak lagi yang lain dalam wawancara atau biografinya menyatakan bahwa mereka sebenarnya tidak menyukai apa yang mereka lakukan, namun mereka melakukannya demi mendapatkan kekayaan dan hidup yang lebih baik.

Mereka bukanlah dari golongan yang berada yang bisa memilih mengerjakan yang mereka cintai dan mendapatkan kekayaan dari situ. Kebanyakan dari mereka adalah dari kelompok minoritas, kaum imigran, yang tersisihkan dan tidak punya banyak pilihan hidup.

Dihina, direndahkan, dicaci, dan dijauhi sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Maka menjadi kaya dan terkenal merupakan “pembalasan dendam” yang manis, ajang pembuktian keberhasilan diri terhadap orang-orang yang dulu menghina dan merendahkan mereka.

Kunci sukses mereka sederhana. Follow the money. Ikuti ke mana uang mengalir. Di mana bisa mendapatkan uang banyak dengan cepat namun halal? Dunia olahraga dan entertainment di Amerika bisa menjadi pilihan. Walau kompetisinya juga berat. Orang berjuang tidak hanya mengalahkan orang lain, tapi yang terpenting mengalahkan diri sendiri, terus berjuang melawan kebosanan dan rasa lelah dalam berlatih, dan senantiasa tak kenal menyerah dalam mengejar peluang dan kesempatan mengejar cita-cita. Mereka mendedikasikan hidupnya demi apa yang mereka idam-idamkan, meskipun itu juga berarti banyak hal lain pula yang mereka korbankan, termasuk kehidupan pribadinya.

Nasihat yang kedua, do what you love and money will follow. Terdengar asyik dan idealistis. Walaupun kenyataannya bisa berkata lain. Banyak orang yang berfokus pada apa yang mereka sukai untuk dikerjakan. Beberapa sukses membangun bisnis dari hobby yang mereka geluti, seperti fotografi, menanam bunga, atau memasak. Orang-orang seperti Bill Gates atau Steve Jobs memiliki keberuntungan untuk bisa memilih bekerja dan membangun bisnis dari apa yang mereka sukai. Bill Gates lahir dari keluarga kaya, yang orang tuanya bisa menyekolahkan dia dan mengikuti computer camp, hal yang sangat baru di jamannya, sesuatu yang menggugah minat Bill Gates tentang komputer, dan membuatnya tergila-gila pada komputer sehingga rela meninggalkan kuliahnya dan mulai membangun kerajaan bisnisnya yang terkenal, Microsoft.

Steve Jobs agak lain. Meskipun ia diadopsi oleh keluarga yang pas-pasan, keluarga angkatnya memberikan janji kepada ibu kandungnya, bahwa mereka akan menyekolahkan Steve Jobs sampai kuliah. Steve Jobs mendapatkan keleluasaan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, dan meskipun tidak meneruskan kuliah, ia mendapatkan kesenangan dalam mengutak-atik komputer yang membuatnya menjadi terkenal dengan perusahaan Apple-nya.

Di bangku kuliah, ia tekun mengikuti mata kuliah yang mungkin aneh buat orang lain, seperti kaligrafi. Suatu hal yang membuat tipe font dari komputernya menjadi kaya akan berbagai macam bentuk. Steve Jobs juga terkenal sangat disiplin, tekun, dan antusias dalam mengerjakan apa yang dicintainya. Ia bisa tahan duduk dan mengerjakan hal yang sama sampai berjam-jam, bahkan berhari-hari. Ia tidak terlalu menghiraukan penampilannya dan pandangan orang kepadanya.Namun dedikasinya dan kecintaannya pada bidang yang ia geluti mampu membawa dia kepada penciptaan produk-produknya yang fenomenal dan dikenang sepanjang jaman.

Dari dua nasihat di atas, apa yang bisa kita simpulkan?

1. Tidak ada nasihat yang cocok untuk segala hal dan kondisi. Buat beberapa orang, nasihat follow the money menjadi pilihan yang realistis. Sementara kecintaan kita pada sesuatu, belum tentu bisa menghasilkan uang, tapi paling tidak kita bahagia. Toh uang juga bukan segalanya.

2. Sebenarnya tidak peduli apakah kita mencintai yang kita lakukan atau tidak, kita tetap bisa sukses, kaya, dan bahagia dengan apapun yang telah kita raih atau kita hasilkan. Kunci utamanya adalah ketekunan dan profesionalitas. Kalau kita mahir dan menguasai bidang kita secara spesifik, maka kita bisa dibayar mahal atas kepakaran kita.

3. Apapun kondisi kita sebelumnya, kita selalu punya peluang untuk memperbaiki nasib kita. Kuncinya adalah kerja keras dan pantang menyerah. Senantiasa memanfaatkan peluang dan kesempatan untuk maju serta tidak menganggap kekurangan dan kelemahan diri sebagai penghalang.

4. Tidak hanya berfokus mengerjakan apa yang kita cintai atau sukai, melainkan pada pencapaian cita-cita. Untuk menjadi seorang pakar yang mumpuni kita perlu melatih diri melalui kesulitan dan pengorbanan yang tidak mudah. Mengerjakan hanya apa yang kita sukai tidak membuat diri kita maju dan berkembang, malah bisa membuat kita terlena.

5. Minat, bakat atau kecintaan terhadap sesuatu bukanlah akhir segalanya. Ia hanya modal awal untuk membuka kunci kesuksesan. Di antaranya, terbentang jalan perjuangan yang panjang dan berliku yang tidak cukup untuk hanya dibayangkan tapi juga untuk dilalui dengan keikhlasan dan kesabaran.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *