Metode Rukyatul Hilal dan Hisab 'Alternatif'

Seperti yang kita ketahui, penentuan awal dan akhir Ramadhan bisa ditentukan dengan dua cara, rukyatul hilal dan hisab. Banyak umat Muslim dibingungkan dengan metode rukyatul hilalRukyatul hilal adalah aktivitas mengamati visibilitas bulan sabit yang tampak pertama kali setelah terjadinya ijtima’ (konjungsi).

Lalu, bagaimana sebenarnya metode rukyatul hilal dilaksanakan?

Menghitung ketinggian hilal harus dilakukan pada masing masing tempat observasi/rukyat, meliputi kegiatan kegiatan, yaitu ;

a. Menentukan tempat dan waktu penghitungan, yaitu tempat akan dilakukan rukyat, pada sore hari setelah konjungsi terjadi, meliputi lintang dan bujur tempat dimaksud, tanggal, bulan dan tahun rukyat dilakukan. Waktu dilakukan rukyat yaitu saat matahari terbenam.

b. Mempersiapkan data yang diperlukan, yaitu lintang dan bujur tempat, deklinasi bulan dan sudut waktu hilal pada saat matahari terbenam setelah ijtima terjadi.

c. Penghitungan tinggi hilal yaitu jarak antara hilal dan ufuk mar’i.

d. Coreksi koreksi, meliputi paralaks, semi diameter hilal, refraksi dan kerendahan ufuk. Untuk menghitungkan kerendahan ufuk diperlukan data tinggi tempat rukyat diperbandingkan keadaan ufuk yang biasanya di identikkan dengan permukaan air laut.

Akan timbul permasalahan, bila kebetulan sulit ditemukan lokasi rukyat yang ufuk sebelah baratnya laut, sehingga terpaksa dilakukan rukyat dengan menggunakan tempat yangg ufuk sebelah baratnya bukan laut yang tentu ufuknya akan terhalang oleh pepohonan, perkampungan atau bahkan gunung.

Menggunakan lokasi ufuk bukan laut akan timbul berbagai permasalahan mengenai bagaimana menghitung ketinggian, kerendahan ufuk untuk koreksi hilal dari tinggi hakiki ke tinggi mar’i. Sering terjadi, seseorang yang melakukan peninjauan calon lokasi rukyat, baru melihat sepintas, sudah mengatakan bahwa lokasi tidak mungkin dipergunakan untuk melakukan rukyat karnea disebelah barat ufuk banyak penghalang.Hal ini disebabkan oleh kekurangan pahaman terhadap konsep ketinggian hilal dikaitkan dengan ufuk mar’i. Padahal tidaklah mudah mencari lokasi rukyat berupa ufuk bukan laut, tetapi yang ideal, yaitu yang ufuk tempat matahari dan bulan tenggelam bebas dari hambatan baik berupa asap, uap air, maupun gunung ataupun pepohonan dan gedung/bangunan.

Lantas, bagaimana cara melakukan hisab guna menentukan posisi hilal, bila lokasi rukyat ufuknya bukan laut dan terhalang oleh gunung, pepohonan ataupun perkampungan? Lakukan dengan hisab alternatif.

Langkah langkah yang diperlukan untuk melakukan hisab alternatif adalah sebagai berikut :

1. Dilakukan penghitungan saat ijtima. Ini dilakuan persis seperti kalau kita melakukan ijtima pada biasanya.

2. Menentukan lokasi Rukyat. Lokasi yang telah ditentukan, kita cari data geografisnya, yaitu lintang dan bujurnya, dan kemudian diukur pula ketinggian ufuk sebelah baratnya. Mengukur ketinggian ini langsung ketinggian dalam derajat, bisa menggunakan rubu’ mujayyab teodolit ataupun lainnya. Dengan pengukuran ini tidak diperlukan lagi mengukur ketinggian tempat rukyat untuk mencari kerendahan ufuknya. Komplemen dari tinggi ufuk yaitu 90 derajat dikurangi tinggi ufuk dapat juga disebut jarak zenith ufuk (zu).

3. Mencari data data astronomis, untuk mengukur jarak zenith hilal. Data yang diperlukan sama persis dengan data bagi pengukuran tinggi hilal yaitu data tentang deklinasi bulan dan sudut waktu bulan pada saat matahari terbenam sore hari setelah terjadinya ijtima. Sumber data yang dipergunakan, sama dengan hisab pada umumnya, dari ephemeris misalnya.

4. Dilakukan penghitungan jarak zenith hilal, yakni jarak antara zenith dengan hilal, diukur dari zenith. Cara penghitungannya dapat menggunakan cara penghitungan tinggi hakiki hilal dengan sedikit perubahan. Perubahan bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan merubah rumus tinggi hilal, dari rumus awal Sin h(tinggi hilal) = sin lintang tempat x sin deklinasi bulan/cos lintang tempat x cos deklinasi hilal x cos t (sudut waktu bulan) diubah menjadi Cos h(jarak zenith hilal) = sin lintang tempat x sin deklinasi bulan / cos lintang tempat x cos deklinasi hilal x cos t (sudut waktu bulan) atau dapat juga dilakukan dengan mencari tinggi hilal dulu dengan rumus tinggi hilal biasa tanpa perubahan. Kemudian dicari jarak zenith hakiki dengan rumus, jarak zenith hilal = 90 dikurangi tinggi hilal.

Terhadap jarak zenith ini kemudian dilakukan koreksi koreksi berupa paralak (ditambahkan) semi diameter (ditambahkan) dan refraksi (dikurangkan) tidak diperlukan koreksi dengan kerendahan ufuk, karena penghitungan bukan dari ufuk mar’i tetapi dari zenith.

5. Kemudian dapat dilihat, bila jumlah dari jarak zenith + tinggi ufuk lebih kecil dari 90 derajat agtau jarak zenith hilal lebih kecil dari jarak zenith ufuk, maka teoritis hilal dapat dirukyat, karena pada saat matahari terbenam hilal berada diatas ufuk yang berupa gunung atau pepohonan dsb., yang berartirukyat dapat dilakukan pada lokasi ini.

Penghitungan jarak zenith hilal secara matematika dapat dirumuskan cara penghitungannya sbb.

Cos zh = sinp sind+cos p cos d cos t

Atau zh = 90 – (asn (sin p sin d+ cosp cos d cos t))

Apabila (zh + tinggi ufuk ) < dari 90 = rukyat dapat dilakukan karena saat matahari terbenam hilal diatas ufuk yg berupa gunung atau pepohonan

Tinggi hilal dari ufuk = 90 – (zh+tinggi ufuk)

Table singkatan :

zh (jarak zenith hilal) jarak antara zenith dengan hilal

p = lintang tempat

d = deklinasi bulan

t = sudut waktu bulan

Sekedar ilustrasi, dapat diambil sebuah contoh penghitungan jarak zenitih hilal awal Ramadhan 1432 H dengan lokasi observasi pinggiran kota Purwokerto, dengan perkiraan tinggi ufuk diukur dgn Rubu’ sebesar 2º30’ misalnya . Purwokerto, mempunyai Lintang tempat -7 º26’ dan bujur timur 109 º14’. Ijtima terjadi pada Tanggal 31 Juli 2011 pukul 01; 39’ WIB. Pada saat itu matahari ada pada deklinasi 18 º 16’ 15” lintang utara, sedang bulan ada pada deklinasi 11 º49’54”. Perata waktu – 6 mnt 25 dtk, HP 0 º 59’23’ dan s.d 0 º16’19”

Setelah dihitung Saat itu matahari terbenam pukul 17:43:26 WIB

Tinggi hakiki bulan pada saat itu sebesar 7 º20’27” yang berarti jarak zenith hilal adalah 82 º39’33”. Setelah dikoreksi dengan paralak 0 º58’54” (ditambahkan), semidiameter 0 º16’10” (ditambahkan) dan refrakasi dari table 0 º7’6” (dikurangkan) hasilnya adalah 83 º15’01”.

Dengan demikian antara ufuk yang tingginya 2º30’ yang berarti berjarak zenith 87 º30’dengan hilal yg berjarak zenith 83 º15’01 , terdapat selisih 4 º14’59” itulah posisi hilal diatas ufuk setempat. Dalam kondisi seperti ini rukyat di “pinggiran Purwokerto” tersebut dapat dilakukan.

 

Dari berbagai macam sumber.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *