Klarifikasi Menag Lukman Saifuddin Terkait Kicauan di Twitter

Beberapa waktu lalu, lini masa twitter ramai membahas kicauan Menteri Agama (Menag) RI, Lukman Saifuddin. Kali ini, Menag melalui akun @lukmansaifuddin menyampaikan klarifikasi terkait kicauan di situs 140 karakter itu.

Berikut ini tanggapan atas twit saya yang telah diubah kalimatnya sedemikian rupa sehingga berubah makna. Twit asli: “Warung-warung tak perlu dipaksa tutup. Kita harus hormati juga hak mereka yang tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa..”

Twit saya itu muncul sebagai tanggapan atas adanya pandangan yang kehendaki agar warung-warung ditutup saja di bulan puasa.

Ada 2 hal yang ingin saya sampaikan lewat twit itu. Pertama; tak perlu ada paksaan untuk menutup warung di bulan puasa.

Bila ada yang sukarela menutup warungnya, tentu kita hormati. Tapi muslim yang baik tak memaksa orang lain menutup sumber mata pencahariannya demi tuntutan hormati yang sedang puasa. Saling menghormati adalah ideal. Tapi jangan paksa satu kepada yang lain.

Kedua; kata ‘juga’ pada “kita harus hormati juga” secara implisit mengandung makna: selain menghormati yang sedang berpuasa, kita juga dituntut hormati hak mereka (dalam mendapatkan makanan/minuman) yang tak wajib berpuasa karena bukan muslim.

Juga menghormati hak muslim/ah yang tak sedang berpuasa karena keadaan (musafir, sakit, perempuan haid, hamil, menyusui).

Tapi kalau kalimat twit saya itu diubah jadi: “Kita harus hormati yang tak puasa”, tentu maknanya jadi berbeda sama sekali.

Saya tak tahu penyebab pengubahan kalimat twit saya itu karena ketidaktahuan, ketaksengajaan, atau memang ada motif lain.

Apapun penyebabnya, saya maklum. Moga ini bisa bikin terang konteks dan maksud dari twit saya yang diplintir itu. Sekian.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *