Kesemokan Bokong Penduduk Jakarta

Di Jakarta, betapa sulit penduduknya untuk sedikit menggeser bokong demi memberikan kelapangan atau kursi ke orang lain. Kejadian ini sering kita jumpai di sejumlah ruang publik, seperti di ruang tunggu, acara seminar, dan terutama di beberapa alat transportasi seperti bus dan angkot.

Di sejumlah angkot, misalnya, banyak alasan orang tak sudi untuk sedikit menggeser tubuhnya guna memberikan ruang kepada yang lain. Beragam alasan untuk orang duduk membatu di tempat yang dirasa adalah miliknya. Ada yang mengatakan sudah telanjur duduk, ada yang bilang sebentar lagi turun.

Yang lebih parah, banyak orang mematung di dekat pintu sebuah alat transportasi sehingga orang kesulitan masuk dan keluar. Banyak orang lupa bahwa memberikan ruang adalah anjuran agama dan merupakan bentuk kesalehan sebagai wujud nyata seseorang telah beriman.

“Hai orang beriman, jika dikatakan kepada kalian ‘lapangkanlah’ dalam sebuah majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberikan kelegaan untuk kalian.” (QS. al-Mujadilah [58]: 11).

Perintah di atas aslinya adalah penegasan terhadap anjuran Nabi Muhammad saw untuk berbagi ruang dalam sebuah pertemuan. Menurut Ibnu Abbas ra, ayat ini terkait Sabit bin Qais. Karena pendengarannya terganggu, ia ingin mendekati Rasulullah saw dalam sebuah pertemuan. Di antara hadirin, ada yang menolak memberikan tempat duduk untuknya.

Namun, ayat di atas tetap relevan digunakan pada konteks yang berbeda, seperti memberikan kelapangan di sarana transportasi.

Kesemokan atau egoisme akut?

Entah karena bokong orang Jakarta yang kelewat semok sehingga terlampau susah untuk digeser, atau ini adalah bentuk egoisme yang akut? Namun, sepertinya yang kedua. Sebab, yang tak mau bergeser tak hanya yang semok, yang kerempeng juga demikian.

Jika ke daerah, betapa mudahnya kita mendapai orang menggeser tubuhnya ketika ada orang lain guna memberikan tempat duduk. Di Jakarta, banyak orang lebih senang duduk membatu dan pura-pura tidak tahu, bahkan terhadap manula dan ibu hamil sekali pun. Tak hanya di Jakarta, jika hidup di kota besar, Anda harus lebih hati-hati terhadap egoisme seperti ini.

Memberikan sesuatu ke orang lain merupakan latihan untuk meruntuhkan egoisme pada diri seseorang. Semakin tinggi tingkat egoismenya, kian tinggi pula keengganan untuk berbagi.

Jangan sampai kelemahan terbesar kita adalah minimnya pemberian. Jika ditanya siapa orang paling berharga dalam hidup, kita pasti menjawab bahwa orang yang paling berguna dalam hidup kita adalah dia yang paling signifikan memberikan sesuatu ke kita.

Demikianlah hakikat menjadi manusia terbaik, yakni menjadi yang paling bermanfaat. Orang yang paling berguna adalah dia yang paling banyak memberikan sesuatu, termasuk tempat duduk. Wallahu a’lam.

*Ditulis oleh Dhuha Hadiyansyah

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *