Kapan Terakhir Kali Traktir Orang Lain? (Bag I)

WEJANGAN PENIKAHAN: “Ben, Kapan Terakhir Kali Kamu Traktir Orang Lain?”

Perempuan-perempuan muda harus lebih menghargai lelaki-lelaki muda yang sedang galau memberanikan diri untuk melamar dirinya. Beneran! Tidak mudah bagi seorang lelaki muda untuk melepaskan hak “kemana-mana, asalkan suka, tiada orang yang melarang” *pinjam lagu Koes Plus dikit. Saya ingat perasaan dua belas tahun yang lalu itu. Berani-gak berani, yakin gak yakin -campur jadi gado-gado kegalauan di umur pria pra 30.

Untuk saya … well, things were a little more complicated. Satu hari sesudah saya melamar ‘pacar saya’, bisnis yang saya bangun luluh lantak. Mesin bisnis yang saya harapkan dapat menghidupi keluarga baru saya, berhenti menghasilkan uang yang cukup. Cashflow berantakan. Bangkrut.

Sebenarnya bukan benar-benar salah saya sih. Bisnis pertama saya memang berhubungan dengan penjualan suvenir pada turis-turis yang datang ke kota Bandung. Di tahun 2002, cukup banyak orang-orang bule berlalu lalang di Jalan Braga dan nongkrong di daerah Setiabudi. Jadi saya jualan suvenir kaos di dua daerah itu. Hasilnya lumayan, bisnis kecil itu setiap bulan naik penjualannya. Cukup meyakinkan pertumbuhannya. Makanya saya cukup percaya diri untuk melamar seorang mahasiswi psikologi UNPAD idaman saya.

DARN! Yang saya tidak tahu, di bagian lain Indonesia ini ada orang-orang yang punya agenda politik yang agak hardcore. Mereka ingin memerangi orang ‘Kafir’ dengan meledakkan bom di dua buah cafe di Bali. Tidak lama sesudah saya mengundang keluarga saya untuk menemani saya melamar Fanny, dua bom itu pun meledak. Dua ratus dua orang meninggal dunia dan seluruh turis yang ada di Indonesia hengkang dan tidak berani kembali lagi untuk beberapa tahun ke depan. Penjualan kaos suvenir saya di Bandung turun 70%. Usaha yang belum berjalan satu tahun itu kandas, gulung tikar.

Dasar sudah takdir, pemboman ini terjadi sehari sesudah saya melamar dan sepakat bahwa pernikahan akan dilaksanakan 4 bulan kemudian. Nge-hang enggak sih? Yang kebayang di kepala saya bukan hanya masalah membiayai pernikahan, tapi masalah biayain keluarga. Mau dikasih makan apa pula keluarga saya nanti? Enggak berani saya cerita sama ibu saya. Saya pikir ini masalah saya sendiri, jadi saya mikir setengah mati … sampai akhirnya nyerah juga. Saya harus berbicara dengan seseorang yang lebih bijaksana –lebih banyak ilmu dan pengalaman. 

Untungnya saya kenal seorang Kyai di daerah Pasir Putih, Parung. Orang memanggil dia: Haji Ali. Orang Betawi asli, lulusan Pesantren Gontor. Saya pergi ke rumah ibu saya, lalu pinjam mobil ayah saya untuk berangkat ke daerah Pasir Putih. Ibu saya bingung, “Tumben kamu mau ke tempat Pak Ali. Mau ngapain, Ben?”. Saya senyum sambil menjawab seada-adanya, ”mau tanya sesuatu ke Pak Ali, Mah”. Ibu saya kayaknya gak terlalu terganggu mendengar jawaban gak mutu seperti itu. Jadi saya langsung ngeloyor aja nyetir ke rumah Pak Haji Ali yang juga merangkap pesantren dan panti asuhan.

Pak Haji Ali kayaknya agak kaget melihat saya datang sendiri ke rumahnya. Dia senyum seakan tahu bahwa saya datang membawa masalah. “Waalaikumsalam, Wah si Benben dateng sendirian. Tumben. Ayo masup”, katanya ramah. Saya ikut ke dalam rumahnya yang luas. Konon katanya lahan luas yang dia buat menjadi panti asuhan itu adalah pemberian seorang yang sangat berterima kasih setelah ditolong oleh Pak Haji. Pak Haji ini memang helper sejati. Tapi ternyata bingung juga mau curhat ke Kyai, tuh. Gak biasa. Seumur hidup saya cuman pernah curhat sama ibu, pacar dan teman baik. Gak punya pengalaman curhat ke Kyai sama sekali. Jadi agak lama basa-basi kiri kanan gak jelas dulu.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *