Penyiar Muda Asal Maluku yang Penuh Inspirasi

Alur hidup perempuan Maluku kini telah berubah. Bukan hanya berperan sebagai penerima perubahan dalam masyarakat akan tetapi wajah perempuan Maluku telah menjadi pionir peradaban dalam usia yang masih muda. Kalimat bijak yang menyatakan yang muda yang berkarya pantas disematkan kepada satu sosok muda Maluku yang penuh inspirasi, Nurhayati Tuanany.

Motto hidupnya adalah

Karena perempuan adalah rahim peradaban yang Tuhan karuniakan untuk bumi untuk berbuat yang terbaik. Terus berkarya dan biarkan Tuhan menilainya.

Nurhayati Tuanany menjadi penyiar yang menginspirasiGadis 26 tahun ini sederhana, tapi penuh harapan dan cita-cita untuk kemajuan perempuan Maluku. Sosoknya yang ceria selalu menyiarkan kepada masyarakat bahwa perubahan pasti terjadi bila kita mau berbuat. Inilah citra cantik perempuan Maluku yang sebenarnya, yang ikut menjadi deretan angka citra cantik perempuan Indonesia. Ya, perempuan Indonesia dari timur Maluku ini menjadi pionir perubahan, bersama beberapa temannya mereka memprakarsai berdirinya Bank Sampah Sahapory, satu-satunya ide inspiratif di pulau Haruku.

Tumbuh di zaman dimana kecantikan perempuan selalu identik dengan tinggi badan semampai ditambah klaim wanita cantik adalah yang berkulit putih, halus, rutin ke salon tidak membuat Nurhayati kemudian termakan arus zaman yang biasanya cenderung komsumtif. Kulitnya memang lebih terang dari kebanyakan perempuan Maluku tapi semangatnya sama seperti kebanyakan perempuan Maluku yang tangguh dan pantang berputus asa.

Ia lahir dan menjalani pendidikan SD sampai SMP di desa Kailolo kemudian menyelesaikan SMU di Masohi, Maluku Tengah. Saat ini perempuan muda ini masih tercatat sebagai mahasiswi IAIN Ambon.

Kepeduliannya terhadap lingkungan perlu diapresiasi. Tanpa bantuan dana ditambah cibiran dari masyarakat ia terus bergerak dengan mengumpulkan anak-anak desa untuk menjadikan kawasan pantai Kailolo di Pulau Haruku bebas sampah. Ia memimpikan panorama cantik dan langit indah yang memayungi pantai-pantai bersih bebas kaleng plastik maupun sampah rumah tangga. Ia memimpikan dari desanya mengalir sampai ke pulau-pulau cantik Maluku kebersihan yang menjadi prinsip setiap rumah. Ia ingin menyaksikan keindahan pantai Eropa menjelma di sepanjang bibir pantai sebagaimana mata saya yang selalu menyaksikan keindahan pantai Eropa. Belum puas sampai disini, beberapa sampah yang bisa didaur ulang diajarkan kepada remaja-remaja desa muda untuk menjadikan kegiatan ini alternatif pendapatan.

Tuhan mengaruniakannya energi kasih. Saya ingin mengenalkan sosok ini walau ia jauh di timur Maluku. Kemilau inspirasinya terus bercahaya sebagai citra cantik perempuan Maluku, citra cantik Indonesia. Kesenjangan fasilitas antara timur dan barat Indonesia tidak menjadikannya menjadi terbelakang dalam kemajuan. Gadis manis kelahiran desa Kailolo dari pulau indah Haruku berdiri tegap untuk kemajuan perempuan Maluku. Selalu, diberbagai kesempatan ia tampil mewakili ikon perempuan muda Maluku yang berani, luwes, dan percaya diri.

Sehari-harinya, Nurhayati Tuanany atau yang akrab disapa Yathi bekerja sebagai penyiar di RRI Ambon. Selain aktivitas ini, ia seperti rahim yang selalu melahirkan inspirasi, sebuah kelas inspirasi ia prakarsai untuk mengajar, mendidik tunas-tunas Maluku yang berlokasi di Pattimura Park. Ia juga menanam inspirasi ini untuk perempuan muda lainnya untuk bergerak melakukan perubahan.

Dekadensi moral dengan maraknya kasus asusila dikalangan perempuan muda, kekerasan, hamil di luar nikah, pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat bukan saja dominasi kota -kota besar. Maluku dengan ibukota Ambon merasakan imbas dari kemajuan zaman dan tekonolgi yang tidak dibarengi dengan ilmu pengetahuan dan keimanan yang kuat turut melahirkan beberapa problematika di masyarakat. Citra buruk ini membuat masyarakat lupa bahwa masih ada citra cantik perempuan-perempuan muda yang tulus berkarya seperti sosok Yathi, penyiar muda yang memiliki rahim inspirasi.

Yathi yang mengaku kagum dengan Helvy Tiana Rosa, penulis perempuan Indonesia yang menjadi inspirasinya untuk berkarya terus melahirkan ide-ide kreatif dari ruangan kosan yang ia tempati dekat kampus IAIN Kota Ambon tempat ia menimba ilmu, belajar dan berkarya.

Dirinya bagai perempuan yang memiliki rahim peradaban, kembali ia bersama sekelompok orang-orang muda mendirikan “Ada Bioskop di Desaku”. Hiburan layaknya layar tancap yang dulu populer dalam kenangan anak-anak ia hadirkan kembali. Sungguh sosok perempuan muda ini layak disebut rahim inspirasi.

Lajang manis yang hobi fotografi, menulis dan traveling ini juga tak melupakan ajaran agama. Ia dalam berbagai kesempatan selalu terlihat cantik dengan hijab khas perempuan muslim. Mimpinya untuk memajukan perempuan Maluku perlu didukung. Citra cantik perempuan seperti ini yang perlu kita apresiasi.

Semua ide kreatif yang ia prakarsai berjalan bukan tanpa halangan bahkan ia rela merogok kocek sendiri dan bantuan dari beberapa sahabat demi mendanai kegiatan-kegiatan peradaban ini dari mulai Bank Sampah, Kelas Inspirasi, Berjualan Aksesoris Daur Ulang dan menghadirkan hiburan bagi anak-anak bangsa di desa Kailolo, Pulau Haruku Maluku. Semuanya ia jalani dengan putih bersih, senyum keceriaan tak pernah lepas. Ia sosok muda citra cantik perempuan dari Tanah Maluku di Republik Indonesia.

Aktivitas ini ia jalani tanpa berkeluh kesah. Sebagai perempuan yang lahir di tanah Maluku saya paham bahwa masyarakat kami belum terlalu mengapresiasi karya-karya perempuan muda. Perbincangan saya dengan Yathi melalui Facebook memberi inspirasi untuk saya bahwa hidup bukan untuk diri sendiri melainkan selalu siap berbagi baik ilmu, pengalaman maupun ketrampilan lainnya untuk sesama perempuan karena citra cantik perempuan Indonesia adalah berbagi inspirasi dan kebaikan. Jangan pernah takut kepada bayang-bayang kegagalan.

Berkarya dalam senyap bukti bahwa ia perempuan tulus yang memberi inspirasi tanpa pamrih karena ia yakin kebaikan yang ditanam akan berbuah, entah hari ini atau esok tunas itu akan tumbuh karena Tuhan Maha Melihat.

Nurhayati atau Yathi merupakan putri dari Bapak M. Ali Tuanany dan Ibu Umi Salam Tuanaya. Terlahir dari keluarga sederhana menjadikan sosok Yathi yang merupakan anak keempat dari lima bersaudara ini belajar banyak tentang warna hidup dari kedua orang tuanya.

Ditulis oleh Raidah Athirah via kompasiana.com

Nama Asli Tuhan, Pria Kelahiran 1973

tuhan si tukang kayu | berita broadcastBeberapa hari terakhir, netizen heboh dengan sosok yang bernama Tuhan. Ya, ayah beranak 2 ini sempat membuat geger berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

Asal-muasal hebohnya nama “Tuhan” ini bermula dari media sosial Facebook. Sepekan lalu salah seorang netizen mengunggah kartu tanda penduduk milik Tuhan dengan tambahan kalimat yang mengundang tawa sekaligus penasaran: “Teori Januari Christi terbantah…Tuhan ada di Banyuwangi!!”

Kerabatnya, Sajidi, selama ini mengganggap biasa nama Tuhan yang melekat di sepupunya itu. “Mungkin karena dari kecil sudah biasa dengan nama Tuhan,” kata dia. Nama Tuhan, kata Sajidi, sebenarnya bukan milik sepupunya saja. Di Desa Pakel, desa tetangga, ada warga bernama nyaris sama, Tohan. “Hanya hurufnya pakai o bukan u.”

Di sekitar kampung tempatnya tinggal, laki-laki ini sebenarnya lebih akrab disapa Tohan. Namun banyak juga yang memanggilnya Pak To atau Pak Han. Ia tak menyangka jika foto KTP yang mencantumkan nama uniknya menjadi tenar.

Ketika disinggung tentang namanya, Tuhan yang merupakan bungsu dari 7 bersaudara ini terlahir dari pasangan Jumhar dan Dawijah. Semasa orang tuanya masih hidup, ia juga tidak pernah diberi penjelasan terkait pemberian nama yang tak lazim tersebut. Begitupun juga dengan 6 saudara lainnya yang tak pernah memberi penjelasan makna khusus tentang nama itu.

Adapun profesi Tuhan sendiri adalah sebagai tukang kayu dengan membuat perabotan kayu mulai dari lemari, meja, pintu, kusen, jendela hingga tempat tidur. Tuhan juga dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul. Profesinya sebagai tukang kayu membuatnya mudah dikenali di seantero desa. Warga sekitar juga tak pernah merasa aneh dengan nama yang dimiliki oleh Tuhan.

Kebersahajaan Dokter Lie Dharmawan

Dokter Lie Dharmawan sosok seorang dokter yang mungkin bagi penulis sendiri bisa dikatakan sebagai ‘malaikat’ bagi kaum miskin. Perjalanan hidupnya sangat menginspirasi dan menarik untuk disimak. Bernama lengkap Dr. Lie Augustinus Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV dengan nama kecil yakni Lie Tek Bie. Beliau lahir di Kota Padang pada tanggal 16 april 1946. Dr. Lie Dharmawan ini terlahir dalam keluarga yang amat miskin dan serba kekurangan. Lie Dharmawan mempunyai saudara berjumlah enam orang, ketika ia berumur sepuluh tahun, ayahnya meninggal dunia jadi hanya ibunyalah seorang diri yang hanya tamatan Sekolah Dasar berjuang keras menyekolahkan ketujuh anaknya yang masih sangat kecil termasuk dr. Lie Dharmawan sendiri. Semua perkerjaan ia lakoni demi bertahan hidup dan demi anak-anaknya termasuk mencuci baju, memasak, membuat kue, hingga menjadi pencuci piring.

Kehidupan Lie Dharmawan ketika Kecil :

Demi kelangsungan hidup keluarganya, Lie Dharmawan kecil sempat membantu ibunya berjualan kue, ia kagum terhadap perjuangan keras ibunya yang ia anggap tak pernah menyerah dan putus asa dalam menghadapi sesuatu juga sering mengasihi oranm-orang miskin di sekitarnya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ibunya mempunyai filosofi seperti itu. Tekad Lie Dharmawan untuk menjadi dokter datang ketika ia melihat masyarakat disekitarnya sulit untuk pergi ke dokter di rumah sakit yang disebabkan karena faktor kemiskinan. Hal ini kemudian menyebabkan masyarakat terpaksa untuk pergi berobat ke dukun karena biayanya yang murah dan juga sebagai alternatif pengobatan. Sebab lain mengapa Lie Dharmawan ingin menjadi dokter karena ia melihat sendiri adiknya meninggal karena penyakit diare aku dan telambat ditangani oleh dokter. kedua hal itulah yang membuat lie darmawan bertekad kuat untuk menjadi dokter. Namun apadaya ketika di sekolah ia menyampaikan cita-citanya ingin menjadi dokter, ia hanya mendapatkan tertawaan dari teman temannya seisi kelas, disebabkan karena ia miskin sehingga tidak bisa masuk ke jurusan kedokteran. Namun kelak, ia benar benar membuktikan cita citanya itu.

Jalan Panjang Menjadi Seorang Dokter :

Lie Dharmawan pun sadar bahwa cita citanya untuk menjadi dokter bisa dikatakan sangat berat, namun seberapa berat masalah jika dengan tekad kuat dan kerja keras pasti akan tercapai karena yang namanya kerja keras tak pernah menghianati pengorbanan, selalu ada hasil manis dari pengorbanan itu. Selain belajar dengan keras, setiap pukul enam pagi hari, ia selalu pergi ke gereja yang berada didekat sekolahnya dan kemudian berdoa dengan doa yang sama yang selalu ia ulang-ulang selama bertahun-tahun.

“Tuhan, aku mau jadi dokter yang kuliah di Jerman”

Di tahun 1965, Lie Dharmawan kemudian lulus SMA dengan prestasi yang cemerlang, berkali-kali ia mendaftar di fakultas kedokteran yang ada dipulau Jawa namun ia tidak pernah diterima. Kesempatan kuliah akhirnya ada ketika ia diterima masuk di fakultas Kodekteran di Universitas Res Publica (URECA) dimana universitas ini didirikan oleh para petinggi organisasi Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia tahun 1958 namun baru bebrapa hari kuliah, kampusnya dibakar oleh massa. Akhirnya ia tidak dapat melanjutkan kuliuahnya, dan Lie Dharmawan kemudian memutuskan untuk menjadi pekerja serabutan untuk mengupulkan uangnya membeli tiket ke Jerman untuk melanjutkan cita-citanya.

Kuliah Kedokteran DI Jerman :

Di usianya yang ke 21 tahun, Lie Dharmawan pun mendaftarkan diri ke sekolah kedokteran di Berlin Barat, Jerman namun tanpa dukungan beasiswa. Dengan tekad yang kuat ia akhirnya diteriman di fakultas Kedokteran Free University, Berlin Barat. Dan untuk memenuhi biaya kuliah dan kehidupan sehari-harinya, Lie Dharmawan kemudian bekerja sebagai kuli bongkar muat barang. pada kesempatan lain, Lie juga bekerja di sebuah panti jompo yang salah satu tugasnya adalah membersihkan kotoran orang tua berusia 80 tahunan.

Lie Dharmawan tetap berprestasi sekalipun sibuk bekerja, sehingga ia mendapat beasiswa, itu semua ia gunakan untuk biaya sekolah adik-adiknya. Tahun 1974, Lie berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendapat gelar M.D. (Medical Doctor). Empat tahun setelahnya, Lie sukses menyandang gelar Ph.D. Melalui perjuangan tanpa kenal lelah selama sepuluh tahun, Lie akhirnya lulus dengan membanggakan diaman ia lulus empat spesialisasi yakni ahli bedah umum, ahli bedah toraks, ahli bedah jantung dan ahli bedah pembuluh darah. Cita cita semasa kecilnya akhirnya tercapai.

dr. Lie Dharmawan Kembali Ke Indonesia :

Selama enam bulan Lie di Semarang kemudian ke RS Rajawali, Bandung. Tahun 1988, Lie berkarir di RS Husada, Jakarta hingga saat ini. Kegiatan sosial pertama Lie sebagai seorang dokter bedah di Indonesia dilakukan saat mengoperasi secara cuma-cuma seorang pembantu rumah tangga tahun 1988. Selanjutnya, Lie juga terus mengupayakan bedah jantung terbuka (bedah di mana jantung dihentikan dari pekerjaannya untuk dibuka untuk diperbaiki). Bedah semacam ini melawan arus karena butuh peralatan yang lebih canggih dan mahal, namun harus dilakukan dalam operasi skala besar. Tahun 1992, Lie akhirnya sukses melangsungkan bedah jantung terbuka untuk pertama kalinya di rumah sakit swasta di Jakarta.

Mendirikan yayasan DoctorSHARE dan Rumah Sakit Apung :

Jangankan berobat, jika makan sehari-hari pun sulit. Kesadaran ini menerpa batin Lie begitu kuat hingga akhirnya bersama Lisa Suroso (yang juga aktivis Mei 1998) mendirikan sebuah organisasi nirlaba di bidang kemanusiaan dengan nama doctorSHARE atau Yayasan Dokter Peduli—sebuah organisasi kemanusiaan nirlaba yang memfokuskan diri pada pelayanan kesehatan medis dan bantuan kemanusiaan. DoctorSHARE bekerja didasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan dan etika medis. DoctorSHARE memberikan pelayanan medis secara cuma-cuma di berbagai wilayah Indonesia. Selain pengobatan umum di berbagai sudut Indonesia, program awal DoctorSHARE adalah pendirian Panti Rawat Gizi) di Pulau Kei, Maluku Tenggara.

Lie Darmawan tidak pernah lupa kata-kata Ibunya sejak kecil yang ia pegang terus sampai ia berhasil menjadi dokter dengan keahlian empat spesialis bedah.

“Lie, kalau kamu jadi dokter, jangan memeras orang kecil atau orang miskin. Mungkin mereka akan membayar kamu berapapun tetapi diam-diam mereka menangis di rumah karena tidak punya uang untuk membeli beras”.

Inspirasi ini melekat kuat dalam benak Lie. Bersama DoctorSHARE, Lie mendirikan Rumah Sakit Apung (RSA) Swasta, yang diberi nama KM RSA DR. LIE DHARMAWAN. Pelayanan medis dalam RSA dilakukan dengan cuma-cuma. Dari koceknya, ia mewujudkan mimpi yang muskil, membangun rumah sakit apung. Kemudian berlayarlah Lie Dharmawan mengunjungi pulau-pulau kecil di Nusantara, mengobati ribuan warga miskin yang tak memiliki akses pada pelayanan medis. Tujuan didirikannya RSA ini adalah untuk melayani masyarakat yang selama ini kesulitan mendapat bantuan medis dengan segera karena kendala geografis dan finansial, terutama untuk kondisi darurat, khususnya bagi masyarakat prasejahtera yang tersebar di kepulauan di Indonesia. Rumah Sakit Apung milik dr. Lie hanyalah sebuah kapal sederhana yang terbuat dari kayu, yang di dalamnya disekat-sekat menjadi bilik-bilik yang diperuntukkan untuk merawat pasien-pasien inap ataupun pasien-pasien pasca operasi. Sehingga dr. Lie dianggap sebagai dokter gila, karena keberaniannya menggunakan kapal kayu mengarungi pelosok negeri ini untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu tetapi memerlukan pelayanan kesehatan segera.

Itulah sekilas biografi singkat mengenai dr. Lie Dharmawan, semoga dengan membaca biografi dr. Lie Dharmawan kita semua memperoleh inspirasi atau informasi yang bermanfaat.

Mengenal Zombie, Komandan Muslim yang Gagah Berani

Apa yang terlintas dalam pikiran Anda jika disebutkan “Zombie”? Jika yang muncul adalah sosok mayat hidup yang berlumuran darah dan mengejar manusia untuk digigit dan dijadikan mayat hidup berikutnya, berarti ghazwul fikri yang dilancarkan Barat telah berhasil 100%.

Barat melahirkan istilah “zombie” untuk menggambarkan mayat hidup yang tidak memiliki pikiran dan bernafsu memangsa manusia normal. Melalui serangkaian cara mulai dari novel, film hingga game, zombie digambarkan sebagai makhluk jahat yang harus dilawan. Ia mayat hidup yang tidak memiliki kebaikan sama sekali.

Namun, benarkah Zombie dalam dunia nyata seperti itu? Ternyata Zombie adalah nama salah seorang pahlawan Islam di Brazil.

Sejarah penyebutan ZOMBIE sudah ada sejak abad 15 Masehi di Brazil. Berikut kami sampaikan sejarah “ZOMBIE” yang kami ambilkan dari tulisan Jihad al-Turbanli berjudul Miatu min Udzoma’ Ummah al-Islam Ghoiru Majro at-Tarikh.

Pada abad ke-XVI, tepatnya sekitar tahun 1550 Masehi, Islam mulai masuk ke Brazil. Saat itu, orang-orang Portugis memasukkan budak-budak Afrika ke Brazil sebagai tenaga pekerja di kebun tebu. Mayoritas budak-budak Afrika ini beragama Islam sehingga sejak saat itu ada banyak muslim di Brazil.

Tahun demi tahun, jumlah muslim di Brazil semakin banyak. Selain para pendatang, penduduk asli juga mulai ada yang masuk Islam, menjadi mualaf. Posisi kaum muslimin pun semakin kuat, bukan hanya para pekerja tebu.

Ketika posisi Islam di Brazil menguat, Pasukan Salibis menghabisi mereka. Pasukan Salibis berusaha menghancurkan Islam hingga ke akar-akarnya. Dan mereka menganggap program mereka berhasil. Islam telah dilumatkan.

Di saat seperti itu, pada tahun 1643, tiba-tiba muncul seorang pahlawan Islam. Dengan gagah berani ia mendeklarasikan berdirinya Negara Islam di Brazil setelah sebelumnya bergerak mendakwahkan Islam ke berbagai penjuru Brazil dan mengajak para tokoh dan pimpinan di wilayah itu untuk masuk Islam. Nama pahlawan itu adalah Zombie.

Salibis yang mengira Islam di Brazil telah mati tersentak. Rupanya Islam belum mati. Zombie telah menghidupkan Islam kembali di bumi Brazil. Dan karenanya, pasukan Salibis pun segera menjadikan Zombie sebagai target. Dan rupanya, Zombie tidak hanya dimusuhi di waktu itu. Namanya pun dihancurkan di abad modern ini.

Masihkah kita umat islam mau mengira bahwa ZOMBIE adalah makhluk menakutkan, buruk dan jahat ?