WordPress Masih Juara Satu Kategori Content Management System

Banyak sekali website berita maupun blog pribadi menggunakan sistem pengelola konten, lebih sering disebut CMS singkatan dari content management system. CMS adalah perangkat lunak yang digunakan untuk menambahkan atau memanipulasi (mengubah) isi dari suatu situs web. Beberapa CMS yang kita kenal adalah sebut saja wordpress, drupal, blogger, joomla, liferay dll.

Gambar: piwik.org
Gambar: piwik.org

Penggunaan CMS tidak memerlukan pengetahuan pemrograman web yang handal karena proses instalasi dan cara penggunaannya sudah user friendly. CMS sendiri ada yang dibuat khusus menyesuaikan kasus yang ada dan biasanya berbayar dan ada yang berupa template instan yang fungsionalitasnya dibuat dengan menyeuaikan pada beberapa proses bisnis yang ada didunia nyata yang dapat digunakan secara gratis.

Menurut situs builtwith.com, saat ini wordpress masih menduduki posisi pertama untuk kategori CMS. Adapun wordpress VIP dan blogger menduduki posisi masing-masing 5 dan 7.

Untuk kategori blog, peringkat 1 sampai 3 diduduki oleh wordpress, blogger dan tumblr.

Berikut daftar selengkapnya. Bisa dilihat di link ini.

Name 10k 100k Million Entire Web
WordPress 2,677 22,240 298,760 15,886,021
Drupal 603 4,555 30,150 773,689
Adobe CQ 172 576 1,553 12,466
vBulletin 123 1,145 10,295 33,487
WordPress VIP 118 268 462 1,524
Adobe Experience Manager 88 313 707 4,813
Blogger 83 854 12,683 649,770
Adobe Scene7 83 303 1,049 3,432
Salesforce Desk 81 307 2,282 1,610
ExpressionEngine 78 690 4,981 60,654
Sitecore CMS 74 489 1,670 9,668
Oracle RightNow 74 178 318 660
Liferay 72 233 1,325 13,154
Joomla! 70 1,513 28,718 2,765,237
Thomson Reuters Corporate Solutions 66 223 1,863 835
Endeca 63 141 376 659
WPTouch Pro 60 630 4,913 5,518
Interwoven TeamSite 59 141 455 2,087
MoovWeb 54 125 283 142
iAPPS 52 493 2,596 13,675

Gadis Asal Nias Terpilih Menjadi Duta Indonesia di Eropa

Bila sebelumnya desa-desa di Nias, yang terkenal dengan lompat batunya, hanya berupa hamparan rumput dan ilalang, kini Nias dibuatnya menjadi kebun-kebun buah dan sayuran, yang sangat bermanfaat bagi pemenuhan gizi anak-anak Nias. Inilah Si remaja cantik pemiliki nama Restanti Waruwu, peraih penghargaan “Program Community Heroes – Wahana Visi Indonesia” 2015, Sang penggagas Kebun Gizi asal Ononamolo I Bot, Hiliduho, Nias, Sumatera Utara.

Kalau melihat usianya, siswa Sekolah Menengah Kejuruan di Gunung Sitolui itu masih sangat muda. Namun tukang kebun cantik ini berhasil melakukan perubahan besar bagi masyarakat sekaligus daerah yang dicintainya. Tergabung dalam Forum Anak Nias (FORANI), dara berusia 17 tahun ini (bersama teman-temannya) menggarap lahan-lahan di daerahnya, hingga membuat Nias bukan hanya dikenal dengan lompat batu atau pun pantai indahnya. Tekad gigihnya sejak tahun 2012 menambah keindahan Nias dengan menghadirkan kebun buah dan sayur yang disebut dengan “Kebun Gizi”.

Gambar: nias-bangkit.com
Gambar: nias-bangkit.com

Kebun Gizi adalah salah satu isu yang ditangkap FORANI yang dijadikan program sejak pembentukan lembaga tersebut. Menurutnya, saat itu ia dan teman-temannya sepakat untuk melakukan sosialisasi cara pengelolaan makanan sehat dan pembuatan kebun gizi. Mereka bertekat agar setiap desa memiliki satu kebun gizi, seberapa pun ukuran lahan yang didapat. Setelah mendapat lahan di masing-masing desa, mereka menanami berbagai macam sayur dan buah di lahan-lahan tersebut.

Ketahanan pangan menjadi isu utama di Nias, melihat bahwa di Nias masih banyak lahan kosong yang tidak dimanfaatkan dengan baik, sedangkan anak-anak Nias juga banyak yang mengalami kekurangan gizi. Pemahaman masyarakat tentang makanan yang bergizi tentunya masih sangat terbatas. Hal ini akan berdampak pada kondisi terganggunya anak yang sedang tumbuh kembang.

Berdasarkan permasalahan nyata di lingkungan sekitarnya, Restanti bersama FORANI dan dibantu oleh Wahana Visi Indonesia membuat sebuah kegiatan nyata yang mereka beri nama “Kebun Gizi”. Kebun gizi merupakan lahan yang dibuka oleh Restanti dan rekannya untuk ditanami tanaman yang memiliki kandungan gizi yang baik. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan pemahaman kepada masyarakat perihal makanan bergizi yang baik untuk anak.

Dalam menjalankan niatan baik untuk sesama ini, perempuan yang juga menjabat sebagai ketua OSIS ini menemui berbagai kendala dari masyarakat. Pada awalnya masyarakat menganggap bahwa kebun gizi ini bukanlah sesuatu yang penting dan manfaatnya tidak begitu besar, bahkan mereka sempat diusir dan dianggap mengganggu. “Tantangan awalnya adalah masyarakat yang belum begitu percaya dengan kami, melihat kami hanyalah remaja yang suaranya masih belum begitu didengar,” lanjut Restanti.

Meskipun demikian, mereka tidak menyerah begitu saja. Mereka memperlihatkan kepada masyarakat bahwa mereka benar-benar bersungguh-sungguh mengenai manfaat dari kebun gizi tersebut. Lambat laun setelah melihat hasil dari kebun gizi tersebut, masyarakat secara berlahan mempercayai mereka. Di Nias saat ini, kegiatan membuka kebun gizi semakin bertambah, hal itu berarti upaya anak-anak muda ini mendapatkan manfaat positif. Bahkan kebun gizi kini beberapa sudah berada di halaman rumah warga.

Tindakan Restanti dan rekannya yang awalnya terlihat sederhana ternyata memberikan pengaruh yang luar biasa. Bahwa anak muda juga mampu mengambil peranan yang bermanfaat bagi lingkungan. Restanti sendiri tidak berhenti sampai disitu, dia masih terus mencoba untuk mengembangkan potensi yang ada di Nias. Keterbatasan tidak membuat mereka terbatas untuk lebih peduli lagi.

Berkat kerja kerasnya, Restanti kemuian didaulat sebagai duta anak dari Nias yang mewakili Indonesia di forum European Development Days di Belgia. “Harapannya anak-anak Indonesia terbebas dari kekurangan gizi, dapat merangkul semua kalangan untuk lebih peduli serta fasilitias di Nias yang cukup terbatas mulai ada perbaikan lebih baik lagi,” harap Restanti.

Kebahagiaan Suami Istri di Usia Senja

❤”Disebuah rumah sederhana yang asri tinggal sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja. Pasangan ini dikaruniai 2 orang anak yang telah dewasa & memiliki kehidupan sendiri yang mapan.

❤Sang suami merupakan seorg pensiunan sedang kan istrinya seorg ibu rumah tangga. Suami istri ini lebih memilih utk tetap tinggal dirumah mereka menolak ketika putra-putri mereka menawarkan utk ikut pindah bersama mereka.

❤Jadilah mereka, sepasang suami istri yang hampir renta itu menghabiskan wkt mereka yang tersisa dirumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa dlm kel itu.cinta kakek nenek | berita broadcast

❤Suatu senja ba’da Isya disebuah masjid tak jauh dr rumah mereka, sang istri tidak menemukan sandal yang dikenakannya ke masjid tadi.
Saat sibuk mencari, suaminy datang menghampiri “Knp Bu?”
Istriny menoleh sambil menjawab “Sandal Ibu tidak ketemu Pa”.
“Ya udah pakai ini saja” kata suaminy sambil menyodorkan sandal yang dipakainy. Walau agak ragu sang istri tetap memakai sandal itu dengan berat hati.

❤Menuruti perkataan suaminy adalah kebiasaanny. Jarang sekali ia membantah apa yang dikatakan oleh sang suami.
Mengerti kegundahan istriny, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan istriny.

❤“Bagaimanapun usahaku utk berterimakasih pada kaki istriku yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukanny.

❤Kaki yang sllu berlari kecil membukakan pintu untuk-ku saat aku plg, kaki yang telah mengantar anak2ku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai kebutuhanku & anak2ku”.

❤Sang istri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus & merekapun mengarahkan langkah menuju rumah tempat bahagia bersama.

❤Karena usia yang telah lanjut & penyakit diabetes yang dideritany, sang istri mulai mangalami gangguan penglihatan. Saat ia kesulitan merapikan kukuny, sang suami dengan lembut mengambil gunting kuku dr tangan istriny.
Jari2 yang mulai keriput itu dlm genggamanny mulai dirapikan &setelah selesai sang suami
mencium jari2 itu dengan lembut & bergumam “Terimakasih ya, Bu ”.
“Tidak, Ibu yang terimakasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu” tukas sang istri tersipu malu.

❤“Terimakasih utk semua pekerjaan luar biasa yang belum tentu sanggup aku lakukan. Aku takjub betapa luar biasany Ibu. Aku tau semua takkan terbalas sampai kapanpun” kata suaminy tulus.

❤Dua titik bening menggantung disudut mata sang istri “Bapak kok bicara begitu?
Ibu senang atas semuany Pak, apa yang telah kita lalui bersama adalah luar biasa.
Ibu sllu bersyukur atas semua yang dilimpahkan pada kel kita, baik ataupun buruk. Semuany dpt kita hadapi bersama.”

❤Hari Jum’at yang cerah setelah beberp hari hujan. Siang itu sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at,
Setelah berpamitan pada sang istri, ia menoleh sekali lg pada sang istri menatap tepat pada matanya sebelum akhirny melangkah pergi.
Tak ada tanda yang tak biasa di mata & perasaan sang istri hingga saat beberapa orang mengetuk pintu membawa kabar yang tak pernah didugany.

❤Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalananny di dunia. Ia telah plg menghadap sang penciptany ketika sedang menjalankan ibadah Shalat Jum’at, tepatny saat duduk membaca Tahyat terakhir.

Masih dlm posisi duduk sempurna dengan telunjuk kearah Kiblat, ia menghadap Yg Maha Kuasa.

❤“Subhanallah sungguh akhir perjalanan yang indah” gumam para jama’ah setelah menyadari kalau dia telah tiada.

Sang istri terbayang tatapan terakhir suaminy saat mau berangkat ke masjid. Terselip tanya dlm hatiny, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan pengganti ucapan selamat tinggal.
Ataukah suaminy khawatir meninggalkanny sendiri didunia ini. Ada gundah menggelayut dihati sang istri. Walau masih ada anak2 yang akan mengurusny,

❤Tapi kehilangan suami yang telah didampinginy selama puluhan tahun cukup
membuatny terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun keikhlasan dihatiny yang bisa menghambat perjalanan sang suami menghadap Sang Khalik.
Dlm do’a dia sllu memohon kekuatan
agar dpt bertahan & juga memohon agar suaminy ditempatkan pada tempat yang layak.

❤Tak lama setelah kepergian suaminya, sang istri bermimpi bertemu dengan suaminy. Dgn wajah yang cerah sang suami menghampiri istriny &menyisir rambut sang istri dengan lembut. “Apa yang Bapak lakukan?’ tanya istriny senang bercampur bingung.
“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang. Bapak tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan didunia berakhir, Bapak sllu butuh Ibu. Saat disuruh memilih pendamping Bapak bingung, kemudian blg pendampingny tertinggal, Bapakpun mohon izin utk menjemput Ibu.”

❤Istriny menangis sebelum akhirny berkata “Ibu ikhlas Bapak pergi, tp Ibu juga tidak bisa bohong kalau Ibu takut sekali tinggal sendiri. Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lg & utk selamanya tentu saja tidak. akan Ibu sia-kan2.”
Sang istri mengakhiri tangisanny & menggantiny dengan senyuman.

Prof. Dr. Khoirul Anwar, Pemuda Kediri Penemu Teknologi 4G

teknologi jaringan 4G | berita broadcastSiapa sangka teknologi jaringan 4G yang saat ini menjadi sedang menjadi perbincangan hangat karena kecepatan datanya yang sangat cepat tersebut, ternyata penemunya adalah orang Indonesia. Dia adalah Khoirul Anwar, seorang profesor muda asal Kediri Jawa Timur.

Prof. Dr. Khoirul Anwar, demikian nama lengkap dan gelar yang menempel pada dirinya saat ini. Ia merupakan seorang ilmuwan top di Jepang yang berasal dari Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Khoirul Anwar adalah lulusan cumlaude Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2000. Setelah itu kemudian dia melanjutkan pendidikan di Nara Institute of Science and Technology (NAIST) dan memperoleh gelar master di tahun 2005 serta doktor di tahun 2008.

Profesor muda kelahiran 1978 itu menemukan metode komunikasi yang lebih cepat dengan energi yang lebih sedikit dalam keterbatasan kanal komunikasi. Ia mengurangi daya transmisi, hasilnya kecepatan data yang dikirim meningkat tajam.

Sistem ini mampu menurunkan energi sampai 5dB atau 100 ribu kali lebih kecil dari yang diperlukan sebelumnya,” demikian diungkapkan sang Profesor Khoirul Anwar. Ternyata penemuan hebat putra dari almarhum Sudjianto dan Siti Patmi ini terinspirasi dari film animasi Dragon Ball, sebuah film animasi dari Jepang yang kerap ia tontonnya sejak remaja.

Ketika Goku (tokoh utama Dragon Ball) akan melayangkan Spirit Ball yang merupakan jurus terdahsyatnya, Goku akan menyerap semua energi makhluk hidup di alam sehingga menghasilkan energi yang luar biasa,” katanya. Konsep itu, kemudian dia formulasikan dalam rumus matematika untuk diterapkan pada penelitian oleh Khoirul Anwar.

Jurus Spirit Ball dianalogikan sebagai turbo equalizer yang mampu mengumpulkan seluruh energi dari blok transmisi yang ter-delay, maupun blok transmisi terdahulu, untuk melenyapkan distorsi data akibat interferensi gelombang.

Kini sebuah sinyal yang dikirimkan secara nirkabel, tak perlu lagi diperisai oleh guard interval untuk menjaganya kebal terhadap delay, pantulan, dan interferensi. Padahal awalnya hal itu dianggap tak mungkin di dunia telekomunikasi,” katanya.

Lebih lanjut Khoirul mengatakan bahwa guard interval merupakan sesuatu yang tidak berguna di perangkat penerima. Selain hanya untuk pembatas, mengirimkan power untuk sesuatu yang tidak berguna adalah sia-sia, demikian ucap suami dari Sri Yayu Indriyani.

Metode ala jurus Dragon Ball ini bisa dibilang mampu memecahkan masalah transmisi nirkabel. Apalagi temuan ini bisa diterapkan pada hampir semua sistem telekomunikasi, termasuk di jaringan GSM, CDMA, dan cocok untuk diterapkan pada sistem 4G yang membutuhkan kinerja tinggi dengan tingkat kompleksitas rendah.

Menurut Khoirul, dalam penerapannya metode ini mampu menjawab masalah telekomunikasi di kota besar yang punya banyak gedung pencakar langit maupun di daerah pegunungan. Sebab di daerah itu biasanya gelombang yang ditransmisikan mengalami pantulan dan delay lebih panjang,” katanya.

Tak heran bila temuan ini menghasilkan penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientist pada Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC) 2010-Spring yang digelar 16-19 Mei 2010 lalu di Taiwan.

Kini hasil temuan yang telah dipatenkan itu digunakan oleh sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang. Bahkan teknologi ini juga tengah dijajaki oleh raksasa telekomunikasi China, Huawei Technology.

Dengan digunakannya teknologi ini oleh industri, Khoirul berhak mendapatkan royalti. Dan sebagai bentuk penghargaan terhadap orang tuanya, royalti pertamanya dia berikan kepada sang ibu di Kediri.

Awal pendidikan

Ini bukan sukses pertama bagi Khoirul. Pada 2006 lalu, ia juga telah menemukan cara mengurangi daya transmisi pada sistem multicarrier seperti Orthogonal Frequency-division Multiplexing (OFDM) dan Multi-carrier Code Division Multiple Access (MC-CDMA).

Caranya yaitu dengan memperkenalkan spreading code menggunakan Fast Fourier Transform sehingga kompleksitasnya menjadi sangat rendah. Dengan metode ini ia bisa mengurangi fluktuasi daya. Maka peralatan telekomunikasi yang digunakan tidak perlu menyediakan cadangan untuk daya yang tinggi.

Belakangan, temuan ini ia patenkan. Teknik ini telah dipakai oleh perusahaan satelit Jepang. Dan yang juga membuatnya kaget adalah, sistem telekomunikasi 4G ternyata sangat mirip dengan temuan yang ia patenkan itu.

Namun, Khoirul tak pernah lupa dengan asalnya. Hasil royalti paten pertamanya itu ia berikan untuk ibunya yang kini hidup bertani di Kediri. Ini adalah sebagai bentuk penghargaan saya kepada orang tua, terutama Ibu, demikian diucapkan oleh Khoirul Anwar.

Ayah Khoirul meninggal karena sakit, saat ia baru lulus SD pada tahun 1990. Sang ibu kemudian berusaha keras menyekolahkannya, walaupun kedua orang tuanya tidak ada yang lulus Sekolah Dasar.

Sejak kecil, Khoirul hidup dalam kemiskinan. Tapi selalu ada jalan baginya untuk terus menuntut ilmu. Misalnya, ketika dia melanjutkan SMA di Kediri, tiba-tiba ada orang yang menawarkan kos gratis untuknya.

Begitu pula saat ia meneruskan kuliah ITB di Bandung, selama 4 tahun ia selalu mendapatkan beasiswa. “Orang tua saya tidak perlu mengirimkan uang lagi,” kata Khoirul mengenang masa lalunya.

Otaknya yang moncer terus membawa Khoirul ke pendidikan yang lebih tinggi. Ia mendapatkan beasiswa S2 dari Panasonic, dan selanjutnya meneruskan kuliah S3 dari salah satu perusahaan Jepang.

“Alhamdulillah, meski saya bukan dari keluarga kaya, tetap bisa sekolah sampai S3. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pemberi beasiswa,” katanya.

Tak pernah lupa Indonesia

Sukses di negeri orang tak membuatnya lupa dengan tanah kelahiran. “Suatu saat saya juga akan tetap pulang ke Indonesia. Setelah meraih ilmu yang banyak di luar negeri,” kata Khoirul.

Di luar kehidupannya sebagai seorang periset atau peneliti, Khoirul juga mengajar dan membimbing mahasiswa master dan doktor. Kedalaman pengetahuan agama pria yang sempat menjadi takmir masjid di SMA-nya itu, juga membawanya sering didaulat memberi ceramah keagamaan di Jepang, bahkan kerap dipercaya menjadi khatib saat pelaksanaan Shalat Ied.

Tak hanya itu, Khoirul juga kerap diundang memberikan kuliah kebudayaan Indonesia. “Keberadaaan kita di luar negeri tak berarti kita tidak cinta Indonesia, tapi justru kita sebagai duta Indonesia,” kata dia.

Selama mengajar kebudayaan Indonesia, ia banyak mendengar berbagai komentar tentang tanah airnya. Ada yang memuji Indonesia, tentu, ada pula yang menghujat. Untuk mereka yang sering menghujat, ia biasanya menjawab dalam bahasa Jepang: Indonesia ha mada ganbatteimasu (Indonesia sedang berusaha dan berjuang).

Khoirul Anwar dan Keluarga
Khoirul tinggal di Nomi, Ishikawa, Jepang, tak jauh dari tempat kerjanya, bersama istrinya, Sri Yayu Indriyani, dan tiga putra tercintanya. “Semua anak saya memenuhi formula deret aritmatika dengan beda 1,5 tahun,” Khoirul menjelaskan.

Anak pertamanya lahir di Yokohama, 1,5 tahun kemudian lahir anak keduanya di Nara, disusul anak ketiganya yang lahir 1,5 tahun setelah anak keduanya lahir. Ia tak sependapat dengan beberapa rekan Jepangnya, yang mengatakan kehadiran keluarga justru akan mengganggu risetnya.

Baginya keluarga banyak memberikan inspirasi dalam menemukan ide-ide baru. “Belakangan ini saya berhasil menemukan teknik baru dan sangat efisien untuk wireless network saat bermain dengan anak-anak,” katanya.

Mudah-mudahan dengan mengulas cerita Prof. Dr. Khoirul Anwar, Sang penemu jaringan 4G dari Kediri ini menjadi inspirasi untuk anak muda untuk terus belajar dan berprestasi.

Mobil Bertenaga Surya Hasil Karya Anak Indonesia

Mobil listrik tenaga surya Widya Wahana V hasil inovasi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) memulai ekspedisi perdana menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bali pada Senin (17/8).

Mobil listrik berkekuatan 12 x 2 kW ini, Kamis (20/8) menuju Denpasar, Bali sebagai titik akhir dari tour de Java Bali. Aufar Nugraha, Ketua Tim Ekspedisi Jawa Bali menjelaskan, panjang rute yang dilewati selama tur ini sekitar 1.250 kilometer.

Gambar: kompas.com
Gambar: kompas.com

Mobil ini memiliki spesifikasi di antaranya, berkekuatan jarak tempuh 700 kilometer per charge dengan bobot 150 kilogram.  Kapasitas mobil ini hanya untuk dua penumpang, dengan berat badan masing-masing minimal 80 kilogram.

 

Diluncurkan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Widya Wahana V akan menjadi mobil tenaga surya yang menempuh perjalanan terjauh di Indonesia.

Dalam peluncuran, Nasir mengucapkan selamat dan sukses bagi mobil inovatif yang nantinya juga akan dilombakan di ajang World Solar Challenge 2015 di Australia pada Oktober nanti. Ia mengatakan bahwa dunia sudah ulai melirik surya sebagai sumber energi kendaraan. Beberapa waktu lalu, pesawat bertenaga surya produksi Swiss, Solar Impulse, juga diujicoba untuk menyeberangi Samudera Pasifik dari Tokyo ke Honolulu dan sukses.

Yusuf Alif, mahasiswa Teknik Perkapalan ITS yang berperan sebagai manager desain dalam rekayasa Widya Wahana V mengatakan, mobil diperkirakan akan menempuh jarak Jakarta – Denpasar dalam waktu 5 hari. Tiba di Denpasar 21 Agustus 2015.

Ayuning Fitri Desanti, anggota tim elektrik rekayasa Widya Wahana V, mengatakan bahwa secara teoretis mobil bisa berjalan dengan kecepatan maksimum 90 km/jam.

Dengan daya penuh, mobil dengan kapasitas baterai 15 KWh ini secara teoretis bisa melaju nonstop selama 4 jam dengan kecepatan maksimum.

Widya Wahana V masih dikatakan sebagai mobil hybrid. Pengisian energi tidak 100 persen dengan tenaga surya namun masih membutuhkan listrik.

Pekerjaan rumah untuk mewujudkan mobil tenaga surya yang bisa dipakai sehari-hari adalah mengupayakan panel surya yang lebih efisien dan daya mobil yang lebih rendah.

Budaya Menghukum

Gambar: kompas.com
Gambar: kompas.com

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Ditulis oleh Rhenald Kasali

Gantungkan Cita-citamu Setinggi PNS

Gambar: Robbi Gandamana
Gambar: Robbi Gandamana

Saya sangat berhati-hati menulis ini, takut banyak orang yang tersinggung. Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan atau sinis pada pilihan hidup seseorang untuk jadi PNS. Sama sekali bukan itu. Kerja apa pun nggak masalah, asalkan halal, bisa menghidupi anak istri plus ada dana sisa buat keliling dunia…maya.

Tulisan ini sekedar refleksi pada keheranan saya pada orang yang begitu mengagungkan PNS. Dan praktek kecurangan saat penerimaan PNS. Seolah-seolah PNS adalah sebuah kasta tertinggi. PNS bisa mendongkrak status sosial sampai ke posisi puncak di masyarakat. Serta seakan-akan PNS menjamin hidup pasti bahagia. Dan kerja selain PNS itu pasti sengsara. Seolah-olah quote-nya : “Gantungkan cita-citamu setinggi langit, jadilah PNS”. Subhanalloh…

PNS Is Indonesian Dream

Saya selalu takjub melihat euphoria anak muda yang begitu excited bila ada pengumuman penerimaan PNS di Instansi Nganu milik negara. Saya sendiri dari dulu tidak tertarik blass ikutan tes CPNS. Saya nggak ceritakan di sini, itu cuma soal selera, hati dan pikiran saja.

Ada beberapa alasan kenapa PNS masih jadi idaman : Durasi kerja pendek ( 37, 5 jam seminggu), gaji lumayan, tunjangan okelah, tanpa PHK, tanpa target, Sertifikat laku digadaikan, jaminan pensiun di hari tua dan sebagainya. Apesnya, banyak perusahaan swasta yang tidak mampu memenuhi itu semua. Apalagi sistem Outsourcing yang dicanangkan di era Megawati dulu, semakin membuat buruh atau karyawan swasta mrongos jaya.

Sebegitu terobsesinya rakyat pada PNS (juga adanya persaingan yang sangat ketat), akhirnya banyak yang tergoda lewat jalan belakang : nyogok!. Dan praktek percaloan pun berjaya. “Wani piro….!?”

Cara-cara nggak fair begitu yang perlu diberantas tuntas. Kalau masuk awalnya sudah menyuap (dengan biaya yang nggak sedikit) maka otomatis saat jadi PNS nanti, pasti berpikir untuk mengembalikan modal. Maka korupsi-lah yang jadi solusi.

Bukannya sok alim, tapi kalau awal masuknya sudah haram otomatis (gaji) anak turunnya juga haram. Tapi ironisnya, hal tersebut (yang sebetulnya aib) malah jadi sebuah kebanggaan : “Aku wingi melbu PNS mbayar 150 juta lho mboel..”

Saya sih monggo-monggo saja kalau ada yang lewat jalur cepat. Itu pilihan hidup juga. Mau lewat belakang atau samping..silakan. Yang nanggung juga mereka sendiri. Cuman menyerobot jatah orang yang seharusnya lebih layak, itu termasuk dzolim.

Terimakasihlah Pada Gus Dur

Di tahun 80’an ke bawah, jarang ada yang mau jadi Pegawai Negri. Karena gaji pas-pasan plus beras jatah yang kwalitasnya mblendess (dari pengalaman ibu saya yang berpuluh-puluh tahun jadi guru SMP). Kalau pun ada yang mau jadi PNS, itu karena terpaksa. Satu-satunya pilihan kerjaan yang bisa diambil. Gelem gak gelem, kudu gelem.

PNS baru berjaya di era Gus Dur. Bak anak emas, PNS begitu dimanja, gaji naik fantastik, tunjangan ditambah dan sebagainya. Alhasil, lowongan PNS pun jadi idaman para pencari kerja. Mereka berbondong-bondong mengikuti tes CPNS bak laron yang mendatangi lampu petromak. Pasukan bodrek serbuuuu..!

Tapi sayang kinerja para (oknum) PNS tetap nggak jauh berbeda. Uang rakyat terbuang sia-sia untuk menggaji (buta) para oknum tadi. Nggak sedikit yang terlihat di Mall atau pasar saat jam kerja. Tertangkap razia saat ‘oh yess..oh noo’ di sebuah Hotel. Atau begitu mudahnya minta ijin nggak masuk (berdasar pengalaman teman yang suka nonton konser musik di luar kota).

Seperti juga pengalaman saya mengurus sesuatu di kelurahan, saya lihat mereka begitu rileksnya bekerja. Jam kerja pun masih bisa main ping pong. Lurahnya juga nggak tiap hari ngantor. Dan ada semacam kotak sumbangan yang harus diisi. “Ini administrasi seikhlasnya mas…gawe ngopi, tuku rokok, gorengan..5000..10.000..”. Pungli semprul..!

‘Negeri’ Bukan Bahasa Birokrasi

Kata ‘Negeri’ pada Pegawai Negri Sipil pun sebenarnya nggak tepat. Harusnya kepanjangan PNS adalah Pegawai Negara Sipil. Karena kata ‘Negri’ itu adalah bahasa budaya bukan bahasa konstitusi atau birokrasi. Kata ‘Negeri’ hanya cocok untuk suatu karya seni maupun budaya. Misal judul lagu “Padamu Negeri”, “Negeri Di Awan” dan sebagainya. Coba saja ganti kata “Negeri” dengan “Negara” di lagu tadi. Bakalan jadi naif dan wagu. ..”Padamu Negara”, “Negara Di Awan”.

Kata ‘negeri’ itu nuansa, sedangkan ‘negara’ itu benda padat. Maka Pegawai negeri itu tidak pernah ‘beres’ karena mereka hanya nuansa. Seharusnya memang Pegawai Negara (bukan Pegawai Negeri), sehingga mereka tidak terikat pada pemerintah. Jika ada pegawai negeri ada di kantor kabupaten, seharusnya mereka bukan bawahan Bupati.

**
Tapi sudahlah, semua orang berhak menentukan hidupnya sendiri-sendiri. Mau jadi PNS, berwiraswasta, buruh pabrik, wong gendeng atau apa pun..monggooo. Cuman ingatlah wahai PNS bahwa anda semua dibayar pakai uang negara (uang rakyat). Jadi hargai itu dengan kesungguhan kerja. Kalau anda mengingkarinya, maka itu adalah bentuk pengkhianatan pada rakyat.

Jadi sekarang bagi mereka yang belum jadi PNS atau yang gagal jadi PNS nggak usah memble. Hidup bahagia tidak harus jadi PNS. Jadilah apa pun yang anda mau dan yakinlah itu bisa membuat bahagia. So…Merdekakan dirimu dari ketakutan tidak bahagia bila tidak jadi PNS. Merdeka!!!!

Ditulis oleh Robbi Gandamana. Blog http://www.kompasiana.com/robbigandamana/gantungkan-cita-citamu-setinggi-pns_55d436a0b27a61f6130cbc5d

Url Shortener/Penyingkat Tautan Indonesia

url shortener indonesia | berita broadcastBagi seorang yang sering berkecimpung di dunia maya, penyingkat URL atau URL shortener bukan hal yang asing. Biasanya digunakan saat akan membagi link postingannya di media social. Link postingan blog yang bias mencapai 20 karakter bisa disingkat menjadi 5 sampai 10 karakter.

Jika selama ini telah ada pemendek link URL berupabit.ly, t.co, ow.ly, goo.gl, fb.me dll, maka pada akhir bulan November 2014, PANDI sebagai pihak yang berkuasa penuh atas domain .id milik Indonesia, juga meluncurkan produk penyingkat tautan, yaitu URL shortener bernama s.id.

Apa itu URL s.id?

Dibaca dari istilahnya, S.ID tentunya serupa dengan singkatan sebuah grup band terkenal Indonesia asal Pulau Bali, bernama Superman Is Dead. Kali ini agak berbeda, meskipun masih sama-sama produk Indonesia, namun s.id adalah sebuah tautan singkat, taua lebih dikenal dengan istilah “URL Shortener” milik Indonesia yang diluncurkan PANDI.

 

Tampilan Menarik Situs

Sehubungan dengan penyajian pemendek link s.id ini pihak PANDI juga tak hendak membuang kesempatan dan ingin mendapatkan manfaat lebih dalam penampilan situs nya. Oleh karena itu pada latar halaman situs diisi pula beberapa gambar ‘slide’ berupa obyek-obyek khas Nusantara yang mempesona, sebagai contoh adalah Jam Gadang di Tanah Minang, Tanah Lot – Bali, dan juga Kepulauan Raja Ampat di Indonesia Timur.

Memanfaatkan Link Pemendek S.id

Untuk menggunakan tools pemendek alamat website ini sangat sederhana. Setelah mengunjungi laman S.id yang beralamat di S.id/ (silakan klik), maka kita akan langsung disuguhkan sebuah kolom yang hendak kita isi dengan alamat URL awal. Setelah itu langsung saja kita tekan tombol navigasi shorten.

Apabila kita sudah yakin dengan URL pilihan otomatis dari s.id, kita bisa langusng menyimpannya, yaitu dengan menekan tanda “save” yang ada di sebelah kanannya. Akan tetapi sekiranya masih mau mengubahnyasesuai keinginan, bisa pula diganti dnegan cara mengeditnya terlebih dahulu. Setelah semuanya selesai, kita bisa menyalinnya (copy) atau bisa pula langsung menyebarkannya di sosial media guna dibagikan pada teman lain.

Waduh! Ada Mikrofon di Perut Orang Ini

Gambar: dailymail.co.uk
Gambar: dailymail.co.uk

Ketika kita tidak hati-hati dan waspada, akan ada banyak hal berbahaya yang bisa menyerang kita kapan saja dan di mana saja. Tidak hanya berbahaya, beberapa hal yang konyol dan tidak masuk akal juga bisa terjadi dengan sangat mudah.

Jika sebelumnya ada seorang wanita yang harus melakukan operasi karena nekat menelan spatula, kali ini pria di China harus melakukan operasi setelah tim medis menemukan sebuah mikrofon tertelan ke dalam perutnya.

Dilansir dari laman dailymail.co.uk, pria yang tidak disebutkan namanya tersebut awalnya memeriksakan diri ke salah satu rumah sakit di Guangzhou, China Selatan. Saat tiba di Rumah Sakit Guangzhou University of Chinese Medicine, pria setengah baya itu tidak terlihat terluka. Ia hanya menunjukkan bagian belakang tubuhnya dan terlihat kesakitan.

Pria ini mengaku bahwa tubuhnya terasa tidak enak dan perutnya sakit. Setelah dilakukan sinar-X, tim medis menemukan sebuah benda sepanjang 10 inci bersarang di usus besarnya. Karena benda tersebut menancap terlalu dalam di usus besar, tim medis pun akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi bedah untuk mengeluarkan benda tersebut.

Setidaknya memerlukan waktu selama 2 jam hingga benda tersebut bisa dikeluarkan dari tubuh pria yang diketahui bermarga Cai itu. Saat diwawancara, pria tersebut enggan untuk menjelaskan bagaimana benda sepanjang 10 senti meter tersebut bisa bersarang di usus besarnya. Dokter pun tidak menjelaskan secara detail bagaimana benda tersebut bisa masuk ke perut pria. Dokter hanya mengatakan jika benda sepanjang 10 senti meter dan terbuat dari plastik itu diperkirakan sudah ada di tubuh pasien selama 27 jam.

Sebelum memeriksakan diri ke rumah sakit, diketahui pria tersebut baru saja terlibat sebuah perkelahian di sebuah tempat karaoke setempat. Jika melihat hasil city scan, tidak sedikit orang yang menganggap bahwa benda yang masuk ke dalam perut pria tersebut adalah sebuah mikrofon yang ada di tempat karaoke.

Wah, ada-ada saja ya Ladies. Beruntung, pria ini memeriksakan diri dengan cepat ke rumah sakit dan ia pun segera mendapatkan pertolongan. Semoga saja pria ini cepat sembuh.

Refleksi 70 Tahun Proklamasi : Penguatan Karakter & Ekonomi Rakyat

Dirgahayu-Republik-Indonesia | berita broadcastMomen 17 Agustus tiap tahunnya selalu spesial bagi bangsa Indonesia. Karena pada hari itu menjadi momentum bangsa ini menapaki usia yang ke- 70 tahun. Sejarah mencatat 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka, bebas lepas dari belenggu pendudukan bangsa luar dan berdiri tegak di tanah sendiri.

Meski sebenarnya kemerdekaan yang dikumandangkan Bung Karno dan Bung Hatta saat itu masih dalam suasana yang sebenarnya belum benar-benar merdeka. Kemerdekaan yang disuarakan pada hari jumat jam 10 di jalan pegangsaan timur jakarta saat itu sebagai momentum untuk mengisi kevakuman pemerintahan setelah awal agustus 1945, Jepang sebagai pemerintah yang menduduki Hindia Belanda menyerah ditangan tentara sekutu.

Meski kalah perang, namun tentara jepang di wilayah pendudukan Indonesia masih memegang senjata lengkap. Amunisi dan persenjaatan militer, serta armada tempur masih bersliweran di jalan-jalan kota. Tidak ada yang berani melucuti apalagi melawan tentara Jepang yang masih kuat. Maka generasi tua saat itu pun berpikir panjang untuk menndapatkan momen kemerdekaan tanpa ada pertumpahan darah dengan Jepang. Dibawah pimpinan bung Karno , generasi tua lebih sabar dan memilih kemerdekaan RI mendapat dukungan dari Kaisar jepang.

Berbeda dengan generasi muda, yang lebih menggebu-gebu dan bersemangat untuk segera merdeka. Apalagi ada momentum yang tepat sehingga dibawah pimpinan Caherul Saleh, generasi muda “mengamankan” tokoh utama bangsa yakni Bung Karno dan Bung Hatta ke sebuah desa kecil bernama Rengasdengklok, Karawang, pada 16 Agustus 1945. Mereka mendesak agar dua tokoh bangsa tersebut segera memproklamasikan kemerdekaan RI.

Namun peredebatan yang terjadi malam Jumat di bulan Puasa itu berlangsung alot. Bung Karno masih keukeuh bahwa kemerdekaan RI sejalan dengan persetujuan jepang yang telah berjanji akan memberikan kemerdekaan dengan pembentukan BPUPKI dan PPKI. Tidak mudah bagi para pemuda saat itu meluluhkan hati bung Karno hingga dini hari. Setelah itu, bung karno dan bung Hatta kembali ke Jakarta untuk menemui pimpinan Angkatan darat jepang, menyampaikan keinginan bangsa Indonesia untyk merdeka. Namun Jepang tidak memberi ijin bung Karno untuk mengumunkan proklamasi kemerdekaan, karena kondisi RI masih stastus quo sebelum kedatangan sekutu. Tentu saja hal ini membuat generasi tua kecewa berat karena jepang telah ingkar janji.

Maka, pada jam 2 sampai dengan dini hari, golongan tua dan muda berkumpul di rumah laksamana tadashi Maeda, seorang perwira AL Jepang yang mendukung kemerdekaan RI. Bertempat di jalan Imam Bonjol no 1 menteng Jakarta pusat, akhirnya naskah proklamasi dibuat yang ditulis sendiri dari tangan bung Karno. Tokoh muda Sukarni mengusulkan agar Bung Karno dan bung Hatta yang mennadatangi teks proklamasi atas nama bangsa Indonesia. Maka teks proklamasi kemudian diketik oleh Sayuti Melik dan dibacakan oleh bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 10 pagi di jalan Pegangsaan Timur no 56 Jakarta.

70 Tahun kemudian

Usia 70 tahun bagi manusia mungkin bisa dibilang tua, namun bagi sebuah bangsa dan Negara relatfe masih muda. Tahun 2015 jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 250 juta jiwa sedangkan tahun 1945 diperkirakan sekitar 60 juta jiwa atau mengalamai peningkatan 4 kali lipat. Situasi awal kemerdekaan masih suasana revolusiner karena masih menghadapi tentara sekutu yang diboncengi Belanda. Hingga tahun 1949 ketika diadakan perjanjain meja bundar secara de fakto bangsa Indonesia mendapatkan kemerdekaan dengan wilayah yang terbatas. Dan baru tahun 1964 kemudian Papua Barat bergabung dalam NKRI. Kemudian disusul Timor Timur tahun 1975 meski akhirnya menjadi Negara merdeka.

Nuansa jaman sekarang jelas berubah, bangsa Indoensia sudah membangun. Dalam segala hal bangsa ini sudah mengalami kemajuan, kota-kota semakin maju, inftsratuktur banyak dibangun, ekonomi berliat dan pendidikan sudah menjamur. Teknologi semakin maju dan peralatan kian canggih

Namun tahun 2015 ini bangsa ini mengalami tantangan yang tidak mudah. Dalam pidato kenegaraan presiden 14 Agustus 2015 di gedung MPR Senayan, Jokowi menyampaikan laporan dan rencana pemerintah membangun bangsa. Dengan dana yang dikelola Negara mencapai Rp 1600 triliun presiden Jokowi bertekad untuk menciptakan kemajuan bangsa dengan berbagai program kerjanya. Antara lain, pembanguan infrastuktur yang digenjot, subsidi ntuk rakyat miskin dan kebijakan lainnya.

Bangsa ini masih mempunyai pekerjaan rumah yang besar. Tahun 2015 jumlah penduduk miskin Indonesia saat ini sekitar 27,5 juta jiwa sesuai data BPS 2015. Jumlah penggangguran mencapai 7,4 juta jiwa. Pendapatan per kapita bangsa 41 juta setahun atau rata2 peghasilan Rp 3,5 juta per orang. Dan pendapatan Negara atau APBN 2015 sekitar Rp. 1800 trilun

Sedangkan dalam ekomomi makro, bangsa ini sedang mengalami perlambatan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia turun hanya 4,7 persel kuartal 1 tahun 2015, tingkat inflasi yoy 6,8 %, nilai tukar rupiah mencapa 13.700 per 1 dollar AS. Cadangan devisa Negara 107 milyar dollar As dan jumlah hutang negara mencapai Rp 4000 trilun .

Dari data diatas dan gejolak ekonomi dunia saat ini, artinya fondasi ekonomi kita belum terlalu kuat. Maka pemerintah harus membuat kebijakan agar postur anggaran lebih langsing namun berisi. Selain itu pemberantasakan korupsi juga harus digalakkan agar uang Negara seamat dari tangan –tangan kotor para penjahat berdasi.

Selain ekonomi yang tak kalah penting adalah pembinaan karakter bangsa, yang kian lama makin tergerus jaman. Budaya gotong royong yang terkikis, budaya malu yang hilang, budaya kebersihan yang terbuang, budaya antre yang sulit, budaya toleransi yang acak adut, budaya penghormatan anak pada orang tua yang buyar dan budaya untuk saling nenghormati perbedaan yang kian tersingkir.

Pemerintah harus berupaya memperbaiki segala sendi kehidupan disamping ekonomi juga karakter bangsa yang luntur. Percuma jika Negara ekonominya kuat tapi banyak koruptor, banyak kejahatan, banyak kedholiman dan kemunafkan. Bangsa ini akan kuat jika karakter bangsa kembali pada dasar Negara pancasila . bangsa ini harus bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan. Maka 70 tahun kemerdekaan Indonesia adalah momentum untuk mewujudkan karakter bangsa yang kuat dan ekonomi nasional yang tangguh. Sehingga bisa membuat masyarakat adil dan sejahtera baik jasmani maupun rohani serta menempatkan Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat dan disegani bangsa lain di dunia.

Dirgahayu bangsaku Tercinta!

Ditulis oleh Dudun Parwanto via www.pusakaindonesia.org