Test Case: Hedonic Treadmill

hedonic treadmill | berita broadcastPertanyaan: Kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan? Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yg kemudian dikenal dengan nama: “hedonic treadmill”.

Jadi apakah yang dimaksud hedonic adaptation itu? Konsep ini diperkenalkan oleh dua orang ilmuwan bernama Philip Brickmann dan Donald Campbell. Inti dari konsep hedonic treadmill adalah bagaimana seseorang ternyata cenderung kembali pada standar kebahagiaan hidup yang sebelumnya.

Gampangnya, hedonic treadmill ini adalah seperti ini : saat gajimu 5 juta, semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta perbulan, eh semua habis juga. Kenapa begitu? Karena ekspektasi dan gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilanmu. Dengan kata lain, nafsumu untuk membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan income-mu. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill: seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju!

Nafsu materi tidak akan pernah terpuaskan

Saat income 10 juta/bulan, mau naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan pengen berubah naik Alphard. Itu salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill.

Hedonic treadmill membuat ekspektasimu akan materi terus meningkat. Itulah kenapa kebahagiaanmu stagnan, meski income makin tinggi.

Prinsip hedonic treadmill adalah “more is better”. Makin banyak materi yang kamu miliki makin bagus. Jebakan nafsu yang terus membuai. Godaan nafsu kemewahan yang terus berkobar-kobar.

Ada eksperimen menarik: seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp 5 milyar dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah. Apa yang terjadi? 6 bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level kebahagaiaan orang itu sama dengan sebelum ia menang undian berhadiah. Itulah efek hedonic treadmill.

Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill? Lolos dari jebakan nafsu materi yg tidak pernah berujung ?

Terapkanlah gaya hidup yg bersahaja! Sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.

Mengubah orientasi hidup! Makin banyak berbagi, semakin banyak memberi kepada orang lain, teruji justru semakin membahagiakan… Bukanlah banyak mengumpulkan materi yg membuat kebahagiaanmu terpuaskan !

When enough is enough

Kebahagiaan itu kadang sederhana: misal masih bisa menikmati secangkir kopi panas, memeluk anggota keluarga yang sehat, tersenyum memulai hari hari, menyapa dan mengasih tip ke tukang sampah, lanjut membaca “makanan” spiritual sepanjang perjalanan menuju tempat tugas berbakti untuk bangsa dan agama, maka betapa indahnya hidup ini!

Selamat menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya kawan.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)” (QS al-Takâtsur [102]: 1-3)

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia semakin kikir.” (QS al-Mârij [70]: 19-21).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kekayaan itu bukanlah lantaran banyak harta bendanya, akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kebahagiaan jiwa.” (HR al-Bukhari).

Semoga bermanfaat…

Tangan Tukang Batu Ini Dicium Rasulullah saw

Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah baru tiba dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin.

Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu.

Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Sang manusia Agung itupun bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”

Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasul pun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,

Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya’.

* Rasulullahl tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau siapapun. Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan tukang batu itulah yang pernah dicium oleh Rasulullah.

Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh Rasulullah justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar, kapalan, karena membelah batu dan karena kerja keras.

Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.”

Mendengar itu Rasul pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)

* Orang-orang yang pasif dan malas bekerja, sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan kehidupannya menjadi mundur. Rasulullah amat prihatin terhadap para pemalas.

”Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah 10)

”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (QS Nuh19-20)

”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad).

Semoga bermanfaat

Cerita Sufi, Syeikh Junaidi Al Baghdadi dengan Si Bahlul

Syeikh Junaidi Al Baghdadi pergi untuk jalan-jalan keluar Baghdad. Murid-murid mengikutinya.

Syeikh bertanya bagaimana kabar bahlul yang gila ?

Mereka menjawab, “Dia adalah orang gila, apa yang anda perlukan dari dia?”
“bawalah aku ke dia, karena aku ada perlu dengan nya.”

Para murid mencari Bahlul dan menemukannya di padang pasir. Mereke membawa Syeikh Junaidi Al Baghdadi kepadanya.

Ketika Syeikh Junaidi Al Baghdadi pergi mendekati Bahlul, Beliau melihat Bahlul dalam keadaan gelisah dengan batu bata ada dibawah kepalanya (posisi kepala dibawah ?)

Syeikh mengucapkan salam

Bahlul menjawab dan bertanya, “Siapakah Anda?”

”Saya Junaidi Baghdadi.”

Bahlul bertanya, “Apakah Anda Abul Qasim?”

“Ya, betul !” jawab Syeikh

Bahlul bertanya lagi ” Apakah Anda Syeikh Baghdadi yang memberikan orang-orang Petunjuk spiritual? ”

“Ya!” kemudian Bahlul bertanya ” Tahukah Anda bagaimana cara makan?”

“Ya!” Saya mengucapkan Bismillah (Dengan mengucap nama Allah SWT). Saya makan yang paling dekat dengan
saya, Saya mengambil gigitan kecil, meletakkannya di sisi kanan dari mulut saya, dan mengunyah pelan-pelan. Saya tidak nampak ke gigitan yan lain. Saya mengingat Allah SWT saat makan. Untuk sebutir apapun yang saya makan, Saya mengucap Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah SWT). Saya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.”

Bahlul berdiri, meggerakkan pakaiannya pada Syeikh, dan berkata, ” Anda ingin menjadi pemimpin spiritual dunia tapi Anda tidak pun mengetahui bagaimana cara makan.” setelah mengucapkannya, dia langsung pergi.
Para Murid Syeikh berkata, “O Syeikh! Dia orang yang gila.”

Syeikh menjawab, Dia adalah orang gila yang sangat pandai dalam berucap. dengarkan pernyataan yang benar darinya.

Setelah mengucapkan Beliau pergi dibelakang Bahlul, dan berkata, ”Saya ada perlu dengan Bahlul.”

Ketika Bahlul mencapai bangunan yang berdebu, dia duduk. Syeikh mendekatinya. Bahlul bertanya, “Siapakah Anda?”

”Syeikh Baghdadi yang pun tidak mengetahui bagaimana cara makan. ”Anda tidak mengetahui bagaiamana makan, tapi apakah Anda tahu bagaimana berbicara?”

“Ya”

”Bagaimana anda berbicara?”

”Saya berbicara secara umum dan langsung pada pokok masalah. Saya tidak berbicara terlalu tinggi atau terlalu banyak. Saya berbicara sehingga para pendengar dapat mengerti. Saya memanggil semua orang di dunia untuk kembali ke Allah dan Nabi (s). Saya tidak berbicara terlalu banyak sehingga semua orang akan bosan. Saya memperhatikan kedalaman pengetahuan spiritual dan yang umum.

Kemudian dia menggambarkan apapun yang berhubungan dengan Adab dan etika Bahlul berkata, “Lupakan soal makan, Anda pun tidak mengetahui bagaimana berbicara.”

Bahlul berdiri, menggerakkan pakaiannya pada Syeikh dan pergi.

Para murid berkata, “O Syeikh! Anda lihatkan, dia orang yang gila. Apa yang Anda harapkan dari orang yang gila!”

Syeikh berkata, ”Saya ada perlu dengan dia. Kalian tidak tahu.”

Sekali lagi Beliau pergi setelah Bahlul sampai Beliau menjumpainya.

Bahlul bertanya, “Apa yang Anda inginkan dari saya? Anda yang tidak mengetahui Adab makan dan bicara, apakah Anda mengetahui bagaimana cara untuk tidur?”

”Ya, saya tahu.”

”Bagaimana cara tidur?” Bahlul bertanya

”Ketika saya selesai sholat Isya’ dan membacakan permohonan, saya pakai baju tidur saya.”

Kemudian beliau menggambarkan adab-adab tidur yang sudah diterima oleh beliau dari Orang-orang yang telah belajar agama.

Bahlul kemudian berkata : ”Saya mengerti bahwa Anda pun tidak mengetahui juga bagaimana untuk tidur.”

Dia ingin berdiri, tapi Junayd menangkap memegang pakaian nya dan berkata, O Bahlul! Saya tidak mengethuinya; Demi kecintaan kepada Allah SWT ajari saya.

Bahlul berkata ”Anda mengklaim pengetahuan dan berkata bahwa anda tahu sehingga Saya mencegah Anda. Sekarang Anda mengakui ketiadaan pengetahuan Anda, Saya akan mengajari Anda.”

“Tahu apapun yang Anda utarakan itu adalah tidak penting.”

”Kebenaran dibalik memakan makanan yang Anda makan menurut hukum adalah sepotong demi sepotong. Jika Anda makan makanan yang dilarang juga, dengan seratus adab, hal itu tidak akan menguntungkan Anda, tapi bisa menjadi alasan untuk menghitamkan hati.”

”Semoga Allah memberkati Anda pahala yang sangat besar.” ucap Syeikh.

Bahlul melanjutkan, hati haruslah bersih, dan memiliki niat yang baik sebelum Anda mulai bicara. dan pembicaraan Anda haruslah menyenangkan Allah SWT. Jika itu untuk segala urusan dunia atau pekerjaan yang sia-sia, maka apapun yang Anda ekspresikan, akan menjadi bencana bagi Anda. Itulah sebabnya diam dan tenang adalah yang terbaik.”

“Apapun yang Anda ucapkan tentang tidur juga tidak penting. Kebenarannya adalah bahwa hati Anda seharusnya bebas dari permusuhan, cemburu, dan kebencian. Hati Anda seharusnya TIDAK rakus untuk dunia ini atau kekayaanya, dan ingatlah Allah SWT ketika akan tidur.

Syeikh Junaidi kemudian mencium tangan Bahlul dan berdoa untuk nya.

Para murid yang menyaksikan kejadian ini, dan yang telah berfikir bahwa Bahlul gila, melupakan tindakannya dan memulai hidup baru.

Carilah Guru di Luar Sekolah Formal

Suatu pagi hari seorang bocah balita digendong oleh bapaknya keliling kota. balita itu melihat disekitarnya. Dalam genggam pelukan bapaknya, bocah itu sesekali bertanya.

“Pak, kenapa langit bisa berubah warna? kalau sekarang berwarna biru, terus nanti (siang) kok putih, lalu (sore) ganti oranye, habis itu hitam?”

Dengan sabar bapak menjawab singkat, “Makanya nak, kamu cepat besar. nanti tanya ke Gurumu di sekolah.”
Si balita terdiam lagi. Lalu selang beberapa langkah ada pengemis di pinggir jalan. Si balita penasaran dan bertanya “Pak, kenapa orang itu duduk-duduk dan meminta uang? Apa kerjaannya?”

Bapak dengan senyum menjawab, “Iya, nanti kamu akan tau penjelasannya kalau sudah sekolah.” Benar saja, si balita kembali terdiam.

Beberapa langkah lagi, mereka melewati tempat pembuangan sampah. Baunya sangat menyengat. Si balita pun bertanya kepada bapaknya, “Pak, kenapa sampah kok baunya menyengat?”

Si bapak dengan ramah menjawab, “Nanti juga kamu akan tahu kalau sudah sekolah nak..”

Setelah dari kota dengan beberapa pertanyaan dari si anak. Kini mereka kembali ke desa. Dengan sepeda onthel yang dikayuh bapak, si balita melihat pemandangan gunung. Karena takut bertanya dengan kata ‘kenapa’, si balita menggunakan kata tanya lainnya lantas bertanya, “Pak, apa gunung berwarna biru?”

Bapak pun menjawab. “Nak, bapakmu hanya buruh tani. Bapak dulu sekolah saja tidak tamat. Jadi semoga kelak kamu bisa lulus dari sekolah, bahkan perguruan tinggi. Agar semua jawabanmu terjawab dan bisa menjadi orang yang berguna. Yang bapak tahu adalah kalau berbuat baik, hasilnya baik. Pun demikian sebaliknya.”

Si balita akhirnya mengerti. Dia harus sekolah hingga terjawab dan tercapai harapan bapaknya.

Selang beberapa tahun kemudian,si balita tadi beranjak dewasa. Usianya sekitar 20tahunan dan telah duduk di sebuah bangku perguruan tinggi. Bapaknya telah tua renta. Dan si anak itu kembali ke bapak dan mengingat pertanyaannya dulu ke bapaknya.

“Pak, ingat dulu waktu kita jalan-jalan ke kota?”

“Yang mana nak?”, tanya kembali si bapak karena sudah sedikit pelupa.

“Waktu saya masih balita. Dulu saya bertanya tentang langit, pengemis, sampah dan kota. Waktu bapak gendong saya. Lalu pulangnya saya bertanya warna gunung?”

Bapak sedikit mengingat. lalu menjawab “Oh, iya. Aku ingat. Bagaimana?”

Sambil tertunduk si anak berkata, “Belum terjawab pak. Selama sekolah saya diajari tentang rotasi dan revolusi matahari. Tidak punya waktu bertanya kenapa bisa berubah warna tentang langit. Juga tentang pekerjaan, saya tidak diajari bagaimana susahnya pengemis mencari nafkah keluarga. Di sekolah hanya dijelaskan tentang tugas dan wewenang eksekutif, yudiskatif dan legislatif saja. Lalu tentang sampah, di sekolah hanya diajari buang sampah pada tempatnya, jagalah kebersihan. Tidak diajari tentang daur ulang, dan menjaga alam agar seimbang. Bahkan dengan warna Gunung. Di sekolah saya diajarkan fungsi gunung, kelestarian flora dan fauna di dalamnya, tentang HPH dan hukum agraria pengelolaannya. Tidak ada jawaban kenapa warna bisa berubah.”

“Nak,” dengan sedikit senyumnya si bapak meneruskan,”Sekolah adalah tempat kamu menempa ilmu, dan guru adalah mereka yang punya banyak ilmu. Kalau jawaban itu tidak atau belum kamu dapatkan di bangku sekolahan, kamu masih bisa mencari guru itu di lapangan. Berkembanglah disetiap tempat. Belajarlah dari setiap orang dengan beragam pengalamannya. Sekolah formal adalah tempatmu mendapat teori, dan pengalaman lapangan adalah sekolah tentang hakikat kehidupan. Dan semuanya saling beriringan nak.

*Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan cerita, tokoh, tempat dan pengalaman harap jadi maklum adanya.

Dear Future Husband, Our Mom is Everything

Bu…. Calon Isteriku Gak Bisa Masak–

Di Subuh yang dingin…ku dapati Ibu sudah sibuk memasak di dapur.

“Ibu masak apa? Bisa ku bantu?”

“Ini masak gurame goreng. Sama sambal tomat kesukaan Bapak” sahutnya.

“Alhamdulillah.. mantab pasti.. Eh Bu.. calon istriku kayaknya dia tidak bisa masak loh…”

“Iya terus kenapa..?” Sahut Ibu.

“Ya tidak kenapa-kenapa sih Bu.. hanya cerita saja, biar Ibu tak kecewa, hehehe”

“Apa kamu pikir bahwa memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain lain itu kewajiban Wanita?”

Aku menatap Ibu dengan tak paham.

Lalu beliau melanjutkan, “Ketahuilah Nak, itu semua adalah kewajiban Lelaki. Kewajiban kamu nanti kalau sudah beristri.” katanya sambil menyentil hidungku.

“Lho, bukankah Ibu setiap hari melakukannya?”

Aku masih tak paham juga.

“Kewajiban Istri adalah taat dan mencari ridho Suami.” kata Ibu.

“Karena Bapakmu mungkin tidak bisa mengurusi rumah, maka Ibu bantu mengurusi semuanya. Bukan atas nama kewajiban, tetapi sebagai wujud cinta dan juga wujud Istri yang mencari ridho Suaminya”

Saya makin bingung Bu.

“Baik, anandaku sayang. Ini ilmu buat kamu yang mau menikah.”

Beliau berbalik menatap mataku.

“Menurutmu, pengertian nafkah itu seperti apa? Bukankah kewajiban Lelaki untuk menafkahi Istri? Baik itu sandang, pangan, dan papan?” tanya Ibu.

“Iya tentu saja Bu..”

“Pakaian yang bersih adalah nafkah. Sehingga mencuci adalah kewajiban Suami. Makanan adalah nafkah. Maka kalau masih berupa beras, itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa di makan. Sehingga memasak adalah kewajiban Suami. Lalu menyiapkan rumah tinggal adalah kewajiban Suami. Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban Suami.”

Mataku membelalak mendengar uraian Bundaku yang cerdas dan kebanggaanku ini.

“Waaaaah.. sampai segitunya bu..? Lalu jika itu semua kewajiban Suami. Kenapa Ibu tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut Bapak sekalipun?”

“Karena Ibu juga seorang Istri yang mencari ridho dari Suaminya. Ibu juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana. Karena Ibu mencintai Ayahmu, mana mungkin Ibu tega menyuruh Ayahmu melakukan semuanya. Jika Ayahmu berpunya mungkin pembantu bisa jadi solusi. Tapi jika belum ada, ini adalah ladang pahala untuk Ibu.”

Aku hanya diam terpesona.

“Pernah dengar cerita Fatimah yang meminta pembantu kepada Ayahandanya, Nabi, karena tangannya lebam menumbuk tepung? Tapi Nabi tidak memberinya. Atau pernah dengar juga saat Umar bin Khatab diomeli Istrinya? Umar diam saja karena beliau tahu betul bahwa wanita kecintaannya sudah melakukan tugas macam-macam yang sebenarnya itu bukanlah tugas si Istri.”

“Iya Buu…”

Aku mulai paham,

“Jadi Laki-Laki selama ini salah sangka ya Bu, seharusnya setiap Lelaki berterimakasih pada Istrinya. Lebih sayang dan lebih menghormati jerih payah Istri.”

Ibuku tersenyum.

“Eh. Pertanyaanku lagi Bu, kenapa Ibu tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban Ibu?”

“Menikah bukan hanya soal menuntut hak kita, Nak. Istri menuntut Suami, atau sebaliknya. Tapi banyak hal lain. Menurunkan ego. Menjaga keharmonisan. Mau sama mengalah. Kerja sama. Kasih sayang. Cinta. Dan Persahabatan. Menikah itu perlombaan untuk berusaha melakukan yang terbaik satu sama lain. Yang Wanita sebaik mungkin membantu Suaminya. Yang Lelaki sebaik mungkin membantu Istrinya. Toh impiannya rumah tangga sampai Surga”

“MasyaAllah…. eeh kalo calon istriku tahu hal ini lalu dia jadi malas ngapa-ngapain, gimana Bu?”

“Wanita beragama yang baik tentu tahu bahwa ia harus mencari keridhoan Suaminya. Sehingga tidak mungkin setega itu. Sedang Lelaki beragama yang baik tentu juga tahu bahwa Istrinya telah banyak membantu. Sehingga tidak ada cara lain selain lebih mencintainya.”

Jodoh kita adalah Hadiah dari ALLAH

Semoga sahabat bisa segera bertemu dengan jodoh Terbaik

Saling Mencintai karena ALLAH

Teruslah Berbuat Baik

Riset Ilmiah menyimpulkan :

1. Sebuah smartphone, 70% fiturnya tidak terpakai (mubazir) .

2. Sebuah mobil mewah, 70% speednya mubadzir.

3. Sebuah villa mewah, 70% luasnya dibiarkan kosong.

4. Sebuah Universitas, 70 % materinya tidak dapat diterapkan.

5. Seabreg kegiatan sosial masyarakat, 70% nya iseng-iseng tidak bermakna.

6. Pakaian dan peralatan dalam sebuah rumah, 70%nya nganggur tidak terpakai.

7. Seumur hidup cari duit banyak-banyak, 70% nya dinikmati ahli waris.

Hidup seperti pertandingan bola.

Babak Pertama (masa muda) : Menanjak karena pengetahuan, kekuasaan, jabatan, usaha bisnis, gaji dan sebagainya

Babak kedua (masa tua) stamina menurun karena darah tinggi, gula darah, asam urat, kolestrol, dan sebagainya.

Tidak sakit juga harus check up, tidak haus juga harus minum.

Galau juga harus cari solusi, merasa benar juga harus mengalah.

Powerfull juga perlu merendah, tidak capekpun perlu rehat. Tidak kayapun perlu bersyukur, sesibuk apapun juga perlu olahraga.
Sadarlah, hidup itu pendek, pasti ada saatnya Finish!

Jangan tertipu dengan usia muda…, karena syarat mati tidak harus tua…

Jangan terpedaya dengan tubuh sehat… karena syarat mati tidak mesti sakit.

Teruslah berbuat baik, berkata baik, memberi nasihat yang baik,
walaupun tidak banyak orang yang memahami.

Jadilah seperti jantung, yang tidak terlihat tetapi terus berdenyut setiap saat hingga membuat kita terus hidup menjelang akhir hayat, Ajal tak mengenal waktu dan Usia,

Jadi… terus berbuat baik, bersyukur atas apa yg sdh ada dan selalu menyampaikan kebenaran, dimanapun dan kapanpun.
Yaa Allaah..jadikanlah kami hambaMu yang sholihiin dan sholihaat..alfaatihah..

Ujian Terberat: Terlena Kemudahan

Ternyata ujian yang paling berat itu adalah kemudahan yang melenakan..
.
1. Kehamilan dan persalinan yang mudah, lancar, normal cenderung tanpa kesulitan.. Sering membuat mencemooh yang susah hamilnya, penuh resiko, atau bermasalah dengan kata-kata mandul, manja, dll
.
2. Anak-anak yang cenderung sehat, serba normal, penuh aktivitas, mudah diurus, penuh kasih sayang.. Sering menimbulkan rasa riya’ merasa diri ibu sempurna hingga merendahkan ibu yang lain.
.
3. Suami yang setia, tidak neko-neko, romantis dan begitu perhatian, membuat terlena untuk memperbaiki diri dan akhlak agar terus menjadi bidadari surga dan bukan pencela pasangan lain yang bermasalah..
.
4. Keuangan yang stabil, bahkan berlebihan, kadangkala membuat terlupa menengok ke bawah, lupa rasanya bersyukur, mudah menghakimi yang lain pemalas dan tak mau kerja keras..
.
5. Orangtua dan mertua yang pengasih, mudah beradaptasi, membuat kita merasa sempurna sebagai anak, sering membuat kita mudah menghakimi mereka yang brmasalah dengan orangtua dan mertua sebagai anak durhaka, tak tau terima kasih..
.
6. Ilmu yang tinggi, pengetahuan yang luas tanpa sadar membuat kita merasa lebih mumpuni, malas mengejar ilmu-ilmu yang lain, akhirnya merendahkan dan menyepelekan mereka yang kita anggap tak seluas kita ilmu dan pengetahuannya.
.
7. Kemudahan dalam ibadah, sholat yang kita anggap tak pernah lalai, puasa yang tak putus, zakat milyaran rupiah, shodaqah tak terhitung, haji dan umroh berkali-kali, membuat kita merasa paling alim dan takwa, tanpa sadar tidak lagi mau belajar dgn alim ulama, enggan bergaul dengan mereka yang kita anggap pendosa..
.
Kemudahan itu ujian yang berat, melenakan sering mendatangkan penyakit hati tanpa disadari..
.
Semoga bermanfaat sahabat 🙂

Kepada Siapakah Harus Bersandar?

Ketika aku bangun Pagi dan merenungkan Kunci Sukses Hidup

“Jendela kamar bilang : Lihat dunia diluar !!!”

Langit – langit kamar berpesan :
“Bercita – citalah setinggi mungkin !!”

Jam dinding berkata : “Tiap detik itu berharga !!!”

Cermin bilang : “Berkacalah sebelum bertindak !!!”

Kalendar berbisik : “Jangan menunda sampai besok !!!”

Pintu berteriak : “Dorong yang keras, pergi & berusahalah !!!”

TAPI tiba-tiba …Lantai berbisik :

“BERLUTUT & BERDOALAH karena kunci kesuksesan kita harus dimulai dengan DOA….”

Kita belajar….
bahwa tidak selamanya hidup ini indah, kadang Allah mengijinkn kita melalui derita.

Tetapi kita tahu bahwa IA tidak pernah meninggalkan kita, sebab itu kita harus belajar menikmati hidup dengan bersyukur.

Kita belajar….
bahwa tidak semua yang kita harapkan akan menjadi kenyataan, kadang Allah membelokkan rencana kita.

Tetapi kita tahu bahwa itu lebih baik dari yang kita rencanakan, sebab itu kita belajar menerima semua itu dengan sukacita.

Kita belajar….
bahwa tidak ada kejadian yang harus disesali & ditangisi,
karena semua rancanganNYA akan indah pada waktunya.

Ketika “Kaki” sudah tak kuat berdiri… “BERLUTUTLAH”.

Ketika “Tangan” sudah tak kuat menggenggam… “LIPATLAH”

Ketika “Kepala” sudah tak kuat ditegakkan… “MENUNDUKLAH”

Ketika “Hati” sudah tak kuat menahan kesedihan… “MENANGISLAH.

Ketika “Hidup” sudah tak mampu untuk dihadapi… “BERDOALAH”

Karena di belakangmu ada kekuatan yang tak terhingga..

Di hadapanmu ada kemungkinan tanpa batas..

Di sekitarmu ada kesempatan yang tiada akhir. Lebih dari itu, di atasmu ada Allah yang selalu menyertaimu..

Kasih Allah pada kita seperti lingkaran, tak berawal & tak berakhir…

Selamat beraktifitas semoga hari ini berkah‍‌‌‌‌‍‌‍‍‌

ASI ini untuk Kalila

Air Susu Ibu sangat bagus buat perkembangan anak. Berikut kami bagikan cerita tentang ASI sang Ibu untuk anaknya. Ia sengaja pulang dari Jakarta ke Yogyakarta seminggu sekali hanya demi mengantarkan ASI.

Kereta Api 119 Senja Utama Yogya melaju kencang Minggu malam itu. Suasana di dalam kereta yang menuju Jakarta itu sesak dengan penumpang. Tidak aneh, karena sebagian dari mereka adalah anggota PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad), sebutan buat para pekerja yang mencari nafkah di ibu kota dan pada akhir pekan pulang kampung.

Besok Senin, mereka harus kembali ke tempat kerja. Perjalanan jauh itu menguras tenaga, walau sekadar duduk di tempat. Istirahat yang cukup diperlukan agar mereka bisa langsung bekerja. Sebagian dari mereka memanfaatkan sela-sela kosong di bawah kursi penumpang sebagai tempat tidur.

Walau kebanyakan anggota PJKA adalah laki-laki, ternyata malam itu terselip di antaranya seorang perempuan. Yang unik dari perempuan berjilbab ini, ia membawa cooler box. Sebagian orang menyangka, isinya adalah biota yang ditelitinya.

Ternyata, kotak yang selalu mememaninya setiap saat itu bukan berisi biota, melainkan sesuatu yang lain. Teman seperjalanannya, GusHar Wegig Pramudito, menulis di laman Facebooknya tentang hal ini.

Perempuan ini sering saya lihat di Kereta Bisnis Senja Utama Yogya dan Senja Utama Solo. Tidak ada yang menarik, karena bertahun-tahun tiap Jumat dan Minggu saya selalu naik kereta itu dan melihat penumpang perempuan naik dan turun. Bahkan, terkadang tidur berbagi bangku dan lantai, dia tidur di bangku, saya memilih tidur di lantai kereta beralas koran dan sleeping bag, kecuali box yang selalu dibawanya. Awalnya, saya kira isi box adalah biota yang sedang diteliti. Penasaran, sore itu saya tanya, “Dik, box-nya isi apa sih?” Diluar dugaan saya, “ASI, Mas,” jawabnya. Woww….selama ini ia wira-wiri Jakarta-Wates bawa box isi asi?????”

Nama perempuan ini Risa Fajarwati. Ibu dari Raihan Ditya Pratama (5 tahun, 5 bulan) dan Kalila Putri Mahanani (1 tahun, 5 bulan). Bekerja di Jakarta, sebagai staf di sebuah instansi yang bertugas melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, Pasar Modal, dan Industri Keuangan Non-Bank: Otoritas Jasa Keuangan.

Setiap Jumat malam, ia pulang ke Panjatan, Kulon Progo, dengan membawa kotak pendingin yang berisi Air Susu Ibu (ASI) yang diperah selama lima hari kerja. Ahad malam Senin, ia kembali ke Jakarta dengan membawa botol-botol kosong.

“ASI ini untuk Kalila,” tutur perempuan berusia 27 tahun itu. Ini upaya kali kedua Risa untuk memberikan ASI eksklusif kepada anaknya setelah memberikannya kepada Raihan selama satu tahun enam bulan.

Rutinitas perjalanan dengan membawa kotak pendingin yang berat itu sudah ia lakukan selama lebih dari 16 bulan. Dimulai ketika ia selesai cuti melahirkan Juli 2013 lalu. Di bulan–bulan pertama, istri dari Kristya Arindra Hercipta ini pulang ke Panjatan dengan membawa 7,5 liter ASI. “Sekarang berkisar di angka 4,5 liter-an,” jelasnya lagi.

Kotak itu tidak hanya menemaninya saat pulang pergi Stasiun Wates-Pasar Senen, bahkan saat perjalanan dinas kotak itu pun selalu dibawanya. “Karena sayang dengan anak,” jawabnya ketika ditanya untuk apa ia melakukan semua itu.

“ASI itu merupakan anugerah Allah Swt untuk anak-anak. Penghilang lapar, haus, imun untuk tubuh anak dan penguat ikatan batin antara ibu dan anak,” tambahnya lagi.

OJK merupakan gabungan dua lembaga pengawas sektor keuangan: Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia sejak awal tahun 2014. Kantornya hanya ada di Jakarta. Sedangkan sang suami bekerja di Wates. Kondisi yang menuntutnya demikian.

Suka dan duka dijalaninya selama setahun lebih membawa kotak biru itu. Mungkin kurang pas disebut sebagai suka, imbuh Risa, tapi bersyukur karena masih bisa memberikan ASI kepada anak walaupun terpisah jarak.

“Dukanya adalah saya tidak bisa memberikan ASI langsung kepada anak. Produksi ASI sedikit karena tidak maksimal dalam proses pumping,” lanjut lulusan fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada ini.

Sebagai pegawai baru dari penerimaan sarjana Kementerian Keuangan tahun 2010 yang kemudian bergabung dengan OJK ini, ia hanya punya cita-cita sederhana. “Bisa bekerja tanpa harus terpisah dari keluarga.”

Terakhir, Risa menyampaikan pesan untuk para perempuan pekerja di mana pun berada, “Harus selalu bersyukur bisa dekat dengan keluarga. Untuk ibu-ibu yang sama-sama terpisah dengan anak, apalagi cuma pisah selama sehari, jangan malas untuk menyimpan dan pumping ASI.” Believe it or not, tegas Risa, ASI merupakan penghubung batin paling kuat antara ibu dan anak.

Ya, apa yang dilakukan Risa adalah sebuah perjuangan seorang ibu yang mengarungi ratusan kilometer dalam setiap pekannya. Apa pun profesinya tidak menjadi sebuah penghalang untuk memberikan asupan yang terbaik buat sang anak sebagai penerus peradaban.

Sekarang, bagi siapa yang berjumpa dengan perempuan ini di Kereta Api Senja Utama Yogya, anda tak perlu bertanya-tanya lagi dengan apa yang dibawanya. Karena kotak itu sekarang tidak misterius lagi. Isinya: sebentuk cinta buat Kalila.

Ditulis oleh Riza Almanfaluthi