Petugas Tol Ini Perlu Ditiru

Suatu pagi saya melintas gerbang tol, seorang petugas tol paruh baya dengan gaya semangat dan wajah sumringah menyambut saya.

“Pagi boss, apa kabar?”, sambil cekatan menyiapkan kembalian.

Dengan sedikit ragu sayapun membalas sapaannya sambil tersenyum.

Setelah saya terima uang kembalian dan mulai nge-gas, dia lempar lagi kalimat luar biasa yang tidak saya duga-duga.

“Hati-hati di jalan boss!”

Sepanjang toll saya berfikir. Banyak pertanyaan muncul di benak saya.

Kok ada ya petugas toll seperti itu?
Apa maksudnya?
Apa untungnya buat dia?
Apa dia kenal sama saya?
Apakah semua pengendara dia sapa seperti itu?
Seberapa konsisten dia melakukan itu?

Menjawab penasaran, sayapun coba melewati gerbang toll yang sama dan jam yang kurang lebih sama. Tapi sayang petugasnya bukan si bapak yang kemarin. Dan benar dugaan saya, sayapun tidak mendapatkan sambutan yang sama. Karena memang ini bukan standar layanan mereka toh.

Keesokan harinya barulah saya jumpa lagi dengan dia. Sayapun mendapat sambutan dan gaya khas yang sama…

Luar biasa nih orang, pikir saya….

Karena penasaran sayapun menepi di sisi kiri ruas toll +/- 10 meter dari pintu toll, HANYA UNTUK TAHU SIAPA DIA?

Saya sapa singkat, salami dan saya membaca namanya ‘SARDJONO’. Sambil berlari kecil saya tinggalkan kartu nama saya dan teriak, “Tolong telepon saya!!”

Singkat cerita 3 hari kemudian, surprise Pak Sardjono menelpon saya dengan nada bingung. Mungkin dia tidak tahu apa maksudnya Kang Ade ini?

Dari pembicaan pertelepon saya dapatkan pelajaran yang terucap dari mulutnya.

“Pak saya ini kerja 8 jam sehari, berada di box ukuran 2×1 meter. Lima tahun pertama masa kerja saya mengalami kejenuhan yang luar biasa. Saya tidak punya teman bicara. 8 jam perhari saya habiskan waktu tanpa kata-kata. Maka dengan cara seperti itulah saya mendapatkan banyak manfaat buat diri saya dan insyaAllah bisa memberikan manfaat juga bagi orang lain. Saya berharap setidaknya saya bisa memberi semangat dan semoga doa selamat kepada para pengguna jalan toll dikabulkan Tuhan”

Hebat!

Teman-teman saya yang luar biasa,
Inilah yang disebut the value of life. Banyak waktu terbuang tanpa memberi manfaat. Kita banyak belajar dari Pak Sardjono, meskipun cuma petugas pintu toll …

“Bahwa Hidup Harus Punya Manfaat Bagi Sesama”

Dari status facebook Kang Ade.

Carilah Guru di Luar Sekolah Formal

Suatu pagi hari seorang bocah balita digendong oleh bapaknya keliling kota. balita itu melihat disekitarnya. Dalam genggam pelukan bapaknya, bocah itu sesekali bertanya.

“Pak, kenapa langit bisa berubah warna? kalau sekarang berwarna biru, terus nanti (siang) kok putih, lalu (sore) ganti oranye, habis itu hitam?”

Dengan sabar bapak menjawab singkat, “Makanya nak, kamu cepat besar. nanti tanya ke Gurumu di sekolah.”
Si balita terdiam lagi. Lalu selang beberapa langkah ada pengemis di pinggir jalan. Si balita penasaran dan bertanya “Pak, kenapa orang itu duduk-duduk dan meminta uang? Apa kerjaannya?”

Bapak dengan senyum menjawab, “Iya, nanti kamu akan tau penjelasannya kalau sudah sekolah.” Benar saja, si balita kembali terdiam.

Beberapa langkah lagi, mereka melewati tempat pembuangan sampah. Baunya sangat menyengat. Si balita pun bertanya kepada bapaknya, “Pak, kenapa sampah kok baunya menyengat?”

Si bapak dengan ramah menjawab, “Nanti juga kamu akan tahu kalau sudah sekolah nak..”

Setelah dari kota dengan beberapa pertanyaan dari si anak. Kini mereka kembali ke desa. Dengan sepeda onthel yang dikayuh bapak, si balita melihat pemandangan gunung. Karena takut bertanya dengan kata ‘kenapa’, si balita menggunakan kata tanya lainnya lantas bertanya, “Pak, apa gunung berwarna biru?”

Bapak pun menjawab. “Nak, bapakmu hanya buruh tani. Bapak dulu sekolah saja tidak tamat. Jadi semoga kelak kamu bisa lulus dari sekolah, bahkan perguruan tinggi. Agar semua jawabanmu terjawab dan bisa menjadi orang yang berguna. Yang bapak tahu adalah kalau berbuat baik, hasilnya baik. Pun demikian sebaliknya.”

Si balita akhirnya mengerti. Dia harus sekolah hingga terjawab dan tercapai harapan bapaknya.

Selang beberapa tahun kemudian,si balita tadi beranjak dewasa. Usianya sekitar 20tahunan dan telah duduk di sebuah bangku perguruan tinggi. Bapaknya telah tua renta. Dan si anak itu kembali ke bapak dan mengingat pertanyaannya dulu ke bapaknya.

“Pak, ingat dulu waktu kita jalan-jalan ke kota?”

“Yang mana nak?”, tanya kembali si bapak karena sudah sedikit pelupa.

“Waktu saya masih balita. Dulu saya bertanya tentang langit, pengemis, sampah dan kota. Waktu bapak gendong saya. Lalu pulangnya saya bertanya warna gunung?”

Bapak sedikit mengingat. lalu menjawab “Oh, iya. Aku ingat. Bagaimana?”

Sambil tertunduk si anak berkata, “Belum terjawab pak. Selama sekolah saya diajari tentang rotasi dan revolusi matahari. Tidak punya waktu bertanya kenapa bisa berubah warna tentang langit. Juga tentang pekerjaan, saya tidak diajari bagaimana susahnya pengemis mencari nafkah keluarga. Di sekolah hanya dijelaskan tentang tugas dan wewenang eksekutif, yudiskatif dan legislatif saja. Lalu tentang sampah, di sekolah hanya diajari buang sampah pada tempatnya, jagalah kebersihan. Tidak diajari tentang daur ulang, dan menjaga alam agar seimbang. Bahkan dengan warna Gunung. Di sekolah saya diajarkan fungsi gunung, kelestarian flora dan fauna di dalamnya, tentang HPH dan hukum agraria pengelolaannya. Tidak ada jawaban kenapa warna bisa berubah.”

“Nak,” dengan sedikit senyumnya si bapak meneruskan,”Sekolah adalah tempat kamu menempa ilmu, dan guru adalah mereka yang punya banyak ilmu. Kalau jawaban itu tidak atau belum kamu dapatkan di bangku sekolahan, kamu masih bisa mencari guru itu di lapangan. Berkembanglah disetiap tempat. Belajarlah dari setiap orang dengan beragam pengalamannya. Sekolah formal adalah tempatmu mendapat teori, dan pengalaman lapangan adalah sekolah tentang hakikat kehidupan. Dan semuanya saling beriringan nak.

*Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan cerita, tokoh, tempat dan pengalaman harap jadi maklum adanya.

Pelajaran Penting dari Art Berg

Art Berg adalah atlet berbakat yang memiliki masa depan cerah.

Ia punya perusahaan konstruksi & seorang tunangan yang baik & cantik.

Pada malam hari, dalam perjalanan menuju rumah tunangannya di Utah untuk menuntaskan acara pernikahan mereka.

Karena perjalanan panjang, ia lelah & mengantuk hingga mobilnya menabrak tiang pembatas jalan & terjun ke jurang.

Ia terlempar dari mobil & jatuh ke tanah dengan leher patah.

Akibatnya ia lumpuh dari dada ke bawah & tak bisa menggerakkan tangan & kakinya.

Dokter berkata ia tak akan pulih dari kelumpuhan.

Teman-temannya menasehatinya agar ia melupakan pernikahannya.

Art Berg takut & putus asa, namun ibunya datang & berbisik, “Nak, hal sulit membutuhkan waktu, hal mustahil perlu sedikit lebih lama.”

Karena kata-kata itu, harapannya muncul kembali.

Ia berlatih keras hingga akhirnya bisa mandiri.

11 tahun kemudian, ia kembali memimpin perusahaannya sendiri, bisa menyetir & berolahraga, serta menikah dengan tunangannya & punya dua anak.

Sekarang ia menjadi pembicara profesional & penulis buku yang mendorong & memotivasi banyak orang.

Kadang-kadang sesuatu tidak berjalan seperti yang kita harapkan.

Jika saat ini kita mengalami hal itu, jangan putus asa!

Selalu ada KESULITAN dalam setiap KESEMPATAN & selalu ada KESEMPATAN di dalam KESULITAN.

Perbedaan antara kesulitan & kesempatan, terletak pada sikap kita memandangnya.

☑ GEMBIRA membuat kita sehat.

☑ SABAR membuat kita bijak.

☑ LEMAH LEMBUT membuat kita di kagumi.

☑ SETIA membuat kita di cintai.

☑ MENGASIHI membuat kita mengerti arti kehidupan.

☑ BERDOA membuat kita kuat.

☑ MURAH HATI membuat kita diberkati.

Hal sulit membutuhkan waktu

Hal mustahil perlu sedikit lebih lama

Tapi orang yang bertahan sampai akhir akan MENANG!

Selamat, Tim Olimpiade Biologi Indonesia Raih Medali Emas

Melalui fanpage-nya di situs jejaring sosial facebook, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengumumkam bahwa Tim Olimpiade Biologi Internasional asal Indonesia meraih medali emas. Berikut berita selengkapnya.

Selamat kepada Tim Olimpiade Biologi Indonesia Raih Medali Emas 26th International Biology Olympiad, 12-19 Juli 2015 di AARHUS, DENMARK.

Kabar gembira kembali datang dari putera-puteri terbaik bangsa yang berhasil mempersembahkan prestasi membanggakan di ajang International Biology Olympiad (IBO) ke-26 yang diselenggarakan di AARHUS, DENMARK.

Empat orang pelajar Indonesia yang tergabung dalam Tim Olimpiade Biologi Indonesia berhasil meraih prestasi.

Mereka adalah:
1. Maria Patricia Inggriani (SMA Kharisma Bangsa) berhasil meraih medali Emas.
2. Valdi Ven Japranata (SMAK IPEKA Sunter, Jakarta) meraih medali Perak;
3. Hana Fauzyyah Hanifin (SMA SEMESTA, Semarang) meraih medali Perak;
4. Nagita Gianty Annisa (MAN Insan Cendekia, Serpong) meraih medali Perunggu.

Peraih medali Emas dari Indonesia, Maria Patricia Ingriani dan Peraih Medali Perak, Hana Fauzyyah Hanifin telah diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, sedangkan Valdi Ven Japranata (Perak) dan Nagita Gianty Annisa (Perunggu) akan melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.

Selama menempuh pendidikan S1, keempat siswa ini akan mendapatkan beasiswa penuh dari Pemerintah Indonesia. Peraih medali perak mendapat beasiswa hingga S2 dan peraih Medali Emas akan mendapat beasiswa sampai S3.

Keberhasilan siswa Indonesia meraih medali setelah bersaing dengan 241 siswa dari 61 negara peserta IBO.

Terima kasih atas prestasi kalian.

Subhanallah, Anak Lahir Prematur Ini Hafal Quran di Usia 4,5 Tahun

Namanya Fajar, beliau lahir preterm (prematur), 28 minggu dg BB 1.6 kg. Beliau juga menderita cerebral palsy dan katup jantungnya ada yang bocor..

Fajar baru bisa berbicara di usia 3,5 tahun. Tahu apa yang pertama kali keluar dari mulutnya? Bukan “ma-ma” atau “pa-pa” seperti anak pada umumnya, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah ayat-ayat Al Quran. Subhanallah!

Kisah Saat Lahir

Ayahnya, dengan kondisi anak yang dilahirkan seperti itu, ia sangat sabar dan terus membacakan Al Quran 1/2 juz pada pagi hari dan 1/2 juz pd malam hari untuk Fajar, setiap hari. Ibu dan ayahnya bilang, “Kami ingin lingkungan yang terbaik untuk anak kami. Kami putarkan murrottal 24 jam sehari.”
Dan sesuatu yang sebetulnya tidak direncanakan, sesuatu yang sepertinya hanya kebetulan, Fajar hafal 30 juz Al Quran di usia 4.5 tahun.

Ketika tadi pagi secara live, Fajar dengan terbata-bata (karena penyakit yang dideritanya, semoga diberikan kesembuhan, aamiin) melanjutkan ayat demi ayat yang dibacakan oleh Ust Yusuf Mansur. Ust. YM menutup sesi tes tersebut dengan berkata, “Insya Allah tahun depan Fajar akan saya kirim ke Makkah al Mukarramah untuj mengikuti Musabaqah Hifdzil Quran Internasional. Karena ia hafal quran di usia 4.5 tahun, menjadi hafidzul quran paling muda di dunia.”

Ketika ditanya, “Apa cita-citamu, dik Fajar?” Ia menjawab, “Menjadi imam Masjidil Haram.”

Selengkapnya, silakan simak video berdurasi 10 menit berikut ini 🙂

Saran 'Aneh' dari Almarhum Bob Sadino

Bob Sadino adalah kakek yang kerap tampil dengan celana pendek meskipun sedang live wawancara di televisi. Ia adalah contoh pebisnis sukses yang berawal dari hidup susah. Pria yang meninggal 19 Januari lalu sering kali memberikan pernyataan-pernyataan aneh dan ‘sinting’ ketika berdiskusi, terlebih tentang berwirausaha.

Silakan simak statement yang sering beliau lontarkan sebagaimana dilansir dari merdeka.com berikut ini.

1. “Jika ingin bahagia (Sukses) jangan jadi karyawan”.

Di salah satu seminar beliau pernah menyatakan statement yang membuat gemuruh peserta adalah, bahwa ‘jika ingin bahagia (sukses), jangan jadi karyawan’. Padahal peserta dari seminar itu adalah sebagian besar adalah karyawan, bayangkan!

Statement beliau ini menurut saya, tidak salah. Namun juga tidak sepenuhnya benar. Kebahagian dan kesuksesan itu tidak semata-mata diukur dari banyaknya materi, dan apa profesi seseorang. Lalu apakah hidup sebagai karyawan itu tidak bahagia? Tidak juga. Banyak karyawan yang bahagia dengan segala kondisinya. Tentu parameter kebahagian berbeda, beda setiap orang.

Apakah statement ini salah? Tidak juga. Memang peluang mencapai kebahagian dengan keberlimpahan materi akan lebih terasa jika kita menggapainya melalui bisnis, melalui dagang dan sukses. Tetapi tidak sedikit juga pengusaha yang terlilit hutang dan akhirnya sengsara. Sekali lagi pilihan sukses dan bahagia itu bergantung yang menjalani. Tentu dengan konsekuensi masing-masing memang dengan berbisnis, peluang seseorang untuk mencapai puncak kebahagian jauh lebih terbuka.

2. “Kuliah itu bikin goblok, siapa yang hadir di seminar ini, besok jangan masuk kuliah”

Di seminar yang lain, beliau secara terang-terangan menyampaikan kalau kuliah itu kegiatan “goblok”, dan menyuruh besok jangan masuk kuliah. Sangat frontal memang, menyampaikan statement seperti itu didepan ratusan mahasiswa dan akademisi.

Tentu saja banyak audience yang kemudian heboh dengan sendirinya, maklum sebagian peserta seminar itu adalah mahasiswa muda yang polos, lugu, dan baru semangatnya mencari jatidiri di kampus tercinta. Mendengar statement itu tentu batinnya berontak.

Namun kalau kita mau berpikir mendalam, apa yang disampaikan om Bob ini sebenarnya sangat masuk akal. Namun bagi sebagian orang ini justru menyesatkan, apalagi bagi MABA (mahasiswa Baru).

Maksud saya, jika Anda ingin mencapai karir bisnis Anda dengan otodidak dan belajar berjualan sablon printing, misalnya (seperti yang banyak dilakukan MABA saat membuat bisnis plan) terus apa gunanya kuliah, kalau yang dipelajari adalah science. Maka apa istilah yang tepat kalau bukan “goblok (versi Bob Sadino). Contoh lagi: bisnis di bidang hiburan padahal kuliahnya Psikologi, bisnis di bidang desain padahal kuliahnya di MIPA, bisnis makanan padahal kuliahnya di Teknik.
Bagaimana enggak goblok? apa yang susah-susah di pelajari, tidak dipakai dalam bisnis. Lalu bagaimana seharusnya? Anda seharusnya bisa menjawabnya.

3. “IPK di atas 3 koma alamat calon karyawan”

Ini ada salah satu fakta yang menarik. Kata Om Bob kalau kuliah kok IPK-nya diatas 3, itu tandanya calon karyawan. Hmm, sangat masuk akal, karena kecenderungan orang yang memiliki IPK bagus apalagi di fakultas favorit, tentu memiliki idealisme tinggi untuk mengaplikasikan ilmunya. Tidak lain adalah melamar kerja, di perusahaan dan menjadi karyawan.

Itulah mengapa justru Bob Sadino mengajarkan, kalau mau sukses bisnis IPK harus jeblok. Tidak salah sih. karena dengan demikian tidak memiliki pilihan lain selain berwirausaha, karena kalaupun mau melamar kerja juga tidak ada yang menerima karena IPK-nya dibawah standar, justru dengan demikian akan “terpaksa” memilih jalan entrepreneur. Lalu apa jadinya kalau IPK diatas 3, kemudian memilih berbisnis? Ada, tapi sangat sedikit.

Sekali lagi Life is a Choice, secara logika harusnya yang IPKnya diatas 3 ini jika diaplikasikan dalam bisnis harusnya lebih bagus lagi hasilnya, bukankah begitu?

4. “Kuliah itu hanya memasukkan “sampah” ke kepala Anda”

Salah satu saran “sinting” lainnya adalah “Kuliah itu memasukkan sampah ke kepala Anda”. Bagi setiap orang yang masih kuliah mendengar statement ini pasti protes, tidak terkecuali peserta seminar yang notabene masih kuliah.

Mereka merasa apa yang dilakukan setiap hari berarti memasukkan sampah ke kepala mereka? Apakah ini salah? Tidak juga, karena memang apa yang dipelajari itu tidak dipakai di kemudian hari, jika kita bercita-cita menjadi bisnisman sukses seperti om Bob.

Apa sebabnya? Bob Sadino meniti karir bisnisnya dari nol dan mempelajarinya dari lapangan, dari pengalaman dan dari percobaannya sendiri. Makanya saat mempelajari sesuatu di bangku kuliah sementara apa yang dipelajari itu tidak dipakai maka apa yang dipelajari itu menjadi sampah bagi otak kita.

Satu statement yang menguatkan ini adalah bahwa dia berpesan, “Jadilah manusia pembelajar”. Jangan hanya dari bangku kuliah, tapi pelajarilah dari kuliah kehidupan yang Anda jalani.

5. “Kalau ingin kaya, bisnis sayuran”

Haha.. secara, awalnya beliau adalah pengusaha sayuran pantas saja usaha yang direkomendasikan adalah bisnis sayuran. Mengapa ini saya sebut “sinting”?
Tidak lain karena ini adalah tipikal orang yang konsisten dengan apa yang diucapkan. Dia mengajarkan apa yang dia lakukan, menunjukkan apa yang sudah dilalui – jadi tidak asal bunyi saja. Cerdas bukan?

6. “Pebisnis itu harus nyentrik”

Apakah pebisnis harus nyentrik? Hmm bisa iya, bisa juga tidak, kalau tipikalnya om Bob Sadino, senyentrik itu pun tentu orang akan menaruh rasa hormat ke beliau, maklum, selain pengusaha, dia juga menjadi mentor banyak orang, dan menghasilkan pengusaha yang berbobot juga dibawah angkatannya om Bob.
Wajar bila senyentrik apapun penampilannya oran akan segan dengan beliau. Nah kalo kita-kita, itu kembali ke kita saja, ingin nyentrik silahkan, tidak juga tidak menjadi masalah.

7. “Bisnis itu hanya modal dengkul. bahkan jika Anda tidak punya dengkul, pinjam dengkul orang lain

Banyak peserta di sesi tanya jawab mengeluhkan tentang keterbatasan modal yang dimiliki, lalu apa kata om Bob tentang ini?

Dia berujar, “Mau gak kira-kira kalau dengkulnya dibeli 500 juta? Tidak mau kan, berarti Anda punya modal 1 milyar dengan 2 dengkul Anda!” Paham?
Begitulah karakter om Bob yang nyentrik, “sinting” bagi sebagian orang yang hanya menangkap apa yang diucapkan tapi bukan apa yang ingin disampaikan, beruntunglah orang yang di”sinting”kan beliau ke jalan kebaikan kemudian menjadi entrepreneur dan sukses.

Jika gagal, maka wajib menghabiskan kegagalan itu hingga hanya berhasil yang bersisa. Ada satu ucapan yang menarik yang patut Anda catat. Inilah mengapa saya menulis tulisan ini dan membaginya untuk Anda. Ketika itu saya mengikuti seminarnya, kemudian dalam sesi tanya jawab saya iseng-iseng bertanya sekaligus juga ingin menjebak om Bob.

Pertanyaan saya seperti ini “Bisnis apakah yang prospektif om Bob?”
Sebelum menjawab dia menanyakan kepada saya, “Kamu sendiri sudah punya bisnis?” saya sahut “Belum, makanya saya ingin tanya kepada om Bob?”
Sambil tertawa beliau menjawab “Bisnis yang prospektif adalah bisnis yang “dijalankan” bukan ditanyakan terus!”

Sangat singkat namun mengena, saya terhenyak dengan jawabannya. Selama ini saya hanya mencari referensi, bertanya sana sini tanpa segera berdiri dan memulai membuka bisnis. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda memulai bisnis Anda?

Inspirasi dari Helen Adam Keller

Helen Adam Keller lahir sebagai anak yang sehat di Tuscumbia, Alabama, Amerika serikat pada 27 Juni 1880 disuatu tempat yang dikenal dengan nama “Ivy Green”. Dari ayahnya, ia merupakan keturunan Alexander Spottswood seorang gubernur colonial dari Virginia yang juga memiliki hubungan dengan keluarg-keluarga pahlawan Utara Amerika. Dari ibunya, ia memiliki hubungan darah dengan keluarga-keluarga new England termasuk Hales, Everetts dan Adamses. Ayahnya bernama Kapten Arthur Keller, seorang editor surat kabar North Alabamian. Kapten Arthur Keller juga memiliki ketertarikan yang kuat kepada kehidupan public dan merupakan orang yang berpengaruh dilingkungannya. Pada tahun 1885 dibawah administrasi Cleveland, ia diangkat menjadi Marshal untuk Alabama Utara.

Penyakit yang menimpa Helen Keller pada saat berumur 19 bulan membuat ia menderita tuli dan buta sebelum ia mengetahui cara membaca dan menulis. Pada saat itu ia diduga mengidap demam otak dan mungkin saja sekarang lebih tepatnya dikenal dengan nama demam scarlet. Karena penyakitnya sejalan bersama pertumbuhannya, ia menjadi anak yang liar dan tidak patuh serta tidak mengenal dengan jelas dunia yang ada disekelilingnya.

Kehidupan Helen Keller yang baru dimulai pada Maret 1887 ketika ia berumur kurang lebih 7 tahun. Hari itu merupakan hari yang paling penting yang selalu ia ingat dalam hidupnya, ia kedatangan seorang perempuan Anne Mansfield Sulivan dari Tuscumbia yang menjadi gurunya. Nona Sulivan, merupakan perempuan berumur 20-an lulusan Sekolah khusus orang buta bernama Perkin School. Ia merupakan orang yang mendapatkan penglihatannya kembali melalui serangkaian operasi. Ia datang atas anjuran simpatik Alexander Graham Bell yang merupakan kenalan keluarga Anne. Semenjak hari itu, kedua orang tersebut, menjadi guru-murid yang tak terpisahkan hingga kematiannya pada awal 1936.

Nona Sullivan memulai tugasnya untuk mengubah anak yang tidak terkontrol menjadi sosok yang sukses dengan memberikan boneka yang merupakan buatan anak-anak dari sekolah Perkin (sekolah khusus orang cacat yang kemudian dibuat khusus untuk Helen). Dengan mengejakan d-o-l-l (boneka) melalui tangan , ia berharap dapat menghubungkan objek dengan huruf. Helen ternyata belajar dengan cepat dengan metode yang tepat pula, namun ia tidak tahu bagaimana cara untuk mengucapkan kata-kata. Selama beberapa hari, ia banyak belajar mengeja kata-kata baru namun dengan cara yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain.

Suatu hari ia dan “guru”-panggilan Helen untuk Sullivan- pergi ke tempat sumur pompa terbuka. Nona Sullivan mulai memompakan air dan menaruh tangan Helen dibawah keran air tersebut. Begitu air menyentuh tangan Helen, ia mencoba untuk mengeja secara perlahan kata ‘w-a-t-e-r (air) melalui tangan helen yang satunya kemudian semakin cepat. Tiba-tiba, sinyal itu dapat dimengerti oleh pikiran Helen. Ia akhirnya tahu bahwa water (air) adalah zat dingin luar biasa yang mengalir ditangannya. Setelah ia mengerti, ia berhenti dan menyentuh tanah dan menanyakan ejaan untuknya. Pada saat malam tiba, ia sudah mempelajari 30 kata-kata baru.

Sewaktu ia mengecap pendidikan, ia belajar menguasai alphabet dengan cepat, baik manual maupun huruf timbul khusus bagi orang buta serta meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Di tahun 1890, ketika umurnya masih 10 tahun, ia mencoba untuk belajar berbicara. Entah bagaimana ia mengetahui bahwa seorang gadis buta tuli di Norway sudah dapat berbicara dengan baik. Nona Sarah Fuller di Horace Mann School merupakan orang pertama yang menjadi guru vokal untuknya.

Sejak ia masih kecil, ia selalu berkata suatu hari saya akan masuk perguruan tinggi dan akhirnya ia membuktikannya. Pada tahun 1898, ia berhasil masuk ke Cambrige school for young ladies sebelum akhirnya ia masuk ke Radcliffe College pada musin gugur 1900 dan menamatkan sekolahnya pada tahun 1904 dengan prestasi Cumlaude. Selama tahun-tahun berikutnya sampai ia meninggal di tahun 1936, Anne Sullivan selalu berada disampingnya, terus menerus mengeja buku demi buku, ceramah demi ceramah melalui tangan Helen.

Pendidikan formalnya berakhir sewaktu ia menerima gelar Sarjana Muda, namun selama hidupnya ia selalu belajar secara informal hal-hal yang penting bagi masyarakat modern. Dengan pengetahuannya yang luas serta banyaknya pencapaian dibidang pendidikan, ia dianugerahkan gelar doktor kehormatan dari Temple University dan Harvard University serta dari Universitas Glasgow di Skotlandia; Berlin, Jerman; Delhi, India; dan Witwatersran di Johannesburg Afrika Selatan. Ia juga merupakan peserta kehormatan untuk Education Institute di Scotland.

Pada tahun 1905, Anne Sullivan menikah dengan John Macy, seorang kritikus dan sosialis terkemuka. Pernikahan tersebut tidak merubah hubungan guru dan murid tersebut. Helen akhirnya tinggal bersama Anne dan suaminya. Keduanya terus memberikan waktu untuk pendidikan dan aktifitas Helen. Selama masih berstatus murid di Radcliffe, Helen memulai karir menulis yang kemudian ditekuninya selama hampir 50 tahun. Pada tahun 1903, The story of My Llife (kisah hidupku) muncul dalam bentuk cerita bersambung di Ladies Home Journal dan kemudian muncul dalam bentuk buku. Merupakan karya yang paling populer dan telah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa termasuk Marathi, Pusthu, Tagalog dan Vedu. Juga dibuat dalam bentuk edisi buku tipis di Amerika Serikat. Publikasinya yang lain adalah : Optimis; An Essay; The World I Live In; The song of the stone wall; Out of the Dark; My Religion; Midstream- my later life; Peace at eventide; Helen Keller in Scotland; Helen Keller Journal; Let us have faith; Teacher, Anne Sullivan Macy dan the open door.

Helen Keller adalah wanita tegar yang menjadi inspirasi bagi dunia, dan ia di kenal sebagai pejuang hak-hak wanita, pembela orang cacat serta pengarang produktif dan sukses. Helen Keller bisa membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak bisa mengekang manusia untuk sukses, selama ada keyakinan diri, kerja keras dan semangat.

Dialog Chrisye & Taufiq Ismail

Suatu saat, Chrisye minta Taufiq Ismail untuk menuliskan syair religi untuk satu lagunya. Dan disanggupi sebulan.

Ternyata, minggu pertama macet, tidak ada ide. Minggu kedua macet, ketiga macet hingga menjelang hari terakhir masih juga tidak ada ide.

Taufiq gelisah dan berniat telpon Chrisye dan bilang: Chris maaf, macet!

Malam harinya, Taufiq mengaji. Ketika sampai ayat 65 surat Yaasiin dia berhenti.

Makna ayat ini tentang Hari Pengadilan Akhir.
ini luar biasa, kata Taufiq.

Dan segera dia pindahkan pesan ayat tersebut ke dalam lirik-lirik lagu.

Ketika pita rekaman itu sudah di tangan Chrisye, terjadi hal yang tidak biasa. Ketika berlatih di kamar, baru dua baris Chrisye menangis, mencoba lagi, menangis lagi. Dan begitu berkali-kali.

Menurut Chrisye, lirik yang dibuat adalah satu-satunya lirik paling dahsyat sepanjang karirnya.

Ada kekuatan misterius yang mencekam dan menggetarkan. Setiap menyanyi dua baris, air mata sudah membanjir. Yanti, istri Chrisye, sampai syok melihat hal tidak biasa tersebut.

Lirik lagu tersebut begitu merasuk kalbu dan menghadapkan kenyataan betapa manusia tidak berdaya ketika hari akhir tiba.

Sepanjang malam dia gelisah, lalu ditelponlah Taufiq dan diceritakan kegelisahannya.

Taufiq mengatakan bahwa lirik lagu tersebut diilhami surat Yaasiin: 65. Disarankan kepada Chrisye, agar tenang.

Di studio rekaman hal itu terjadi lagi. Chrisye mencoba, tetapi baru dua baris sudah menangis. Dan berulang kali hasilnya sama.

Erwin Gutawa yang menunggu sampai senewen. Yanti lalu shalat untuk khusus mendoakannya.

Akhirnya dengan susah payah, Chrisye berhasil menyanyikannya hingga selesai. Rekaman itu sekali jadi, tidak diulang karena Chrisye tak sanggup menyanyikannya lagi.

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” [QS. Yaasiin(36): 65]

KETIKA TANGAN DAN KAKI BERKATA
Lirik: Taufiq Ismail
Lagu: Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu  kita  bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah

Kukuhkanlah
Di jalan cahaya… sempurna

Mohon karunia 
Kepada kami
HambaMu… yang hina….

Rahasia Mental Pemenang

Siapa tak kenal Sandiaga Uno? Pengusaha muda, sederhana namun bisnisnya sudah melimpah ruah. Luar Biasa Prima!

Di sini saya tidak akan cerita tentang bagaimana bisnisnya, namun saya akan cerita tentang rahasianya menang dalam persaingan, menang dalam kompetisi, dan menang dalam pertarungan bisnis. Sederhananya adalah mengupas Rahasia Mental Pemenang dari seorang Sandiaga Uno.

Jika Anda jago dalam marketing, lawan Anda pun bisa mempelajarinya. Anda pun bisa menang bisa juga kalah.

Jika Anda berhasil melakukan inovasi produk yang luar biasa. Seringkali, beberapa minggu ke depan, bahkan dalam hitungan hari, kompetitor Anda pun segera menirunya. Anda bersusah-payah, namun lawanlah yang memetik hasilnya.

Jika Anda jago dalam sistem, jago dalam membina karyawan, atau jago pula dalam leadership.

Ketahuilah, sistem Anda bisa dicopy-paste lawan, karyawan Anda bisa dibajak dengan iming-iming gaji yg lebih besar, dan lawan Anda pun bisa ikut pelatihan, training, coaching, workshop apa pun yang membuat skill, leadership dan management juga meningkat pesat.

Lalu bagaimana Anda bisa menang di masa kini dan sepanjang masa? Menang di masa kini, esok, nanti dan nanti lagi?

Sederhana sekali jawaban Sandiaga, salah satu orang terkaya di Indonesia. “Menanglah dalam iman dan taqwa. Menanglah dalam ibadah Anda. Itulah yg lawan akan susah menyaingi Anda, bahkan mengalahkan Anda.”

Orang sehebat Sandiaga Uno selalu berusaha punya Mental Pemenang dalam iman dan takwa, bagaimana dg kita?

Salam Luar Biasa Prima!

Oleh Wuryanano

Keluarlah dari Zona Nyaman!

Suatu hari seorang Raja mendapatkan hadiah 2 ekor anak rajawali. Raja senang sekali & selalu memamerkan anak rajawalinya.

Lalu dia berpikir, akan bagus sekali jika rajawali ini dilatih untuk terbang tinggi. Tentu akan lebih indah lagi. Ia memanggil pelatih burung yang tersohor di negerinya untuk melatih 2 rajawali ini.

Setelah beberapa bulan, pelatih burung ini melapor kepada Raja. Seekor rajawali telah terbang tinggi & melayang-layang di angkasa. Namun seekor lagi tidak beranjak dari pohonnya sejak hari pertama ia tiba.

Raja pun memanggil semua ahli hewan & para tabib sakti utk memeriksa rajawali kesayangannya ini. Namun tidak ada yang berhasil untuk “menyembuhkan” & membuat rajawali ini terbang.

Berbagai usaha telah dilakukan rajawali ini tidak kunjung bergerak dari dahannya.

Kemudian Raja mendapat ide untuk memanggil orang yg biasa “melihat” rajawali.

Kemudian ia bertemu dengan petani yang sangat mengenal akan sifat rajawali & Raja meminta bantuan petani itu.

Keesokan harinya ketika Raja mengunjungi rajawali ini, ia kaget melihat rajawali ini sudah terbang tinggi.

Dengan penuh penasaran Raja bertanya kepada petani, apa yang ia lakukan.
Petani menjawab, “Saya hanya memotong cabang pohon yang selama ini dihinggapinya saja yaitu DAHAN yang membuatnya NYAMAN”.

Sahabatku, kita dilahirkan untuk sukses, kita ditakdirkan untuk terbang tinggi.
Namun, ada yang memegang erat ketakutannya, tidak mau melepaskan ketakutannya & tidak beranjak dari posisinya.

Atau kadang kita terlalu memegang zona kenyamanan kita, hingga kita takut & tidak mau melepaskannya, takut gagal, takut kecewa, takut capek, takut malu, dll.

Sahabat,
Satu-satunya cara untuk bisa membubung tinggi adalah… Keluar dari zona nyaman!
Tidak ada jalan pintas.

Hanya ada 2 pilihan: tetap bergantung di dahan selamanya atau membubung ke angkasa.