Belajar 'Goblok' dari Seorang Bob Sadino alm

bob sadino | berita broadcastSetelah memberikan saran ‘aneh’, almarhum pebisnis yang berpenampilan nyentrik ini juga memberikan nasihat ‘goblok’. Yuk simak bagaimana pebisnis kondang Bob Sadino, tentang meng-goblokan diri sendiri:

“Saya sudah menggoblokkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum menggoblokkan orang lain.”

“Banyak orang bilang saya gila, hingga akhirnya mereka dapat melihat kesuksesan saya karena hasil kegilaan saya.”

“Orang pintar kebanyakan ide dan akhirnya tidak ada satupun yang jadi kenyataan. Orang goblok cuma punya satu ide, dan itu jadi kenyataan.”

“Saya bisnis cari rugi, sehingga jika rugi saya tetap semangat dan jika untung maka bertambahlah syukur saya!”

“Sekolah terbaik adalah sekolah jalanan, yaitu sekolah yang memberikan kebebasan kepada muridnya supaya kreatif.”

“Orang goblok sulit dapat kerja akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok mempekerjakan orang pintar.”

“Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu.”

“Orang pintar mikir ribuan mil, jadi terasa berat. Saya ga pernah mikir karena cuma melangkah saja. Ngapain mikir kan cuma selangkah.”

“Orang goblok itu gak banyak mikir, yang penting terus melangkah. Orang pintar kebanyakan mikir, akibatnya tidak pernah melangkah.”

“Orang pintar maunya cepet berhasil, padahal semua orang tau itu impossible ! Orang goblok cuma punya satu harapan: hari ini bisa makan.”

“Orang pintar belajar keras untuk melamar pekerjaan. Orang goblok berjuang keras untuk sukses biar bisa bayar para pelamar kerja”

Sekian perbedaan orang goblok dan orang pintar versi Bob Sadino.

Salam Sukses!

Penyiar Muda Asal Maluku yang Penuh Inspirasi

Alur hidup perempuan Maluku kini telah berubah. Bukan hanya berperan sebagai penerima perubahan dalam masyarakat akan tetapi wajah perempuan Maluku telah menjadi pionir peradaban dalam usia yang masih muda. Kalimat bijak yang menyatakan yang muda yang berkarya pantas disematkan kepada satu sosok muda Maluku yang penuh inspirasi, Nurhayati Tuanany.

Motto hidupnya adalah

Karena perempuan adalah rahim peradaban yang Tuhan karuniakan untuk bumi untuk berbuat yang terbaik. Terus berkarya dan biarkan Tuhan menilainya.

Nurhayati Tuanany menjadi penyiar yang menginspirasiGadis 26 tahun ini sederhana, tapi penuh harapan dan cita-cita untuk kemajuan perempuan Maluku. Sosoknya yang ceria selalu menyiarkan kepada masyarakat bahwa perubahan pasti terjadi bila kita mau berbuat. Inilah citra cantik perempuan Maluku yang sebenarnya, yang ikut menjadi deretan angka citra cantik perempuan Indonesia. Ya, perempuan Indonesia dari timur Maluku ini menjadi pionir perubahan, bersama beberapa temannya mereka memprakarsai berdirinya Bank Sampah Sahapory, satu-satunya ide inspiratif di pulau Haruku.

Tumbuh di zaman dimana kecantikan perempuan selalu identik dengan tinggi badan semampai ditambah klaim wanita cantik adalah yang berkulit putih, halus, rutin ke salon tidak membuat Nurhayati kemudian termakan arus zaman yang biasanya cenderung komsumtif. Kulitnya memang lebih terang dari kebanyakan perempuan Maluku tapi semangatnya sama seperti kebanyakan perempuan Maluku yang tangguh dan pantang berputus asa.

Ia lahir dan menjalani pendidikan SD sampai SMP di desa Kailolo kemudian menyelesaikan SMU di Masohi, Maluku Tengah. Saat ini perempuan muda ini masih tercatat sebagai mahasiswi IAIN Ambon.

Kepeduliannya terhadap lingkungan perlu diapresiasi. Tanpa bantuan dana ditambah cibiran dari masyarakat ia terus bergerak dengan mengumpulkan anak-anak desa untuk menjadikan kawasan pantai Kailolo di Pulau Haruku bebas sampah. Ia memimpikan panorama cantik dan langit indah yang memayungi pantai-pantai bersih bebas kaleng plastik maupun sampah rumah tangga. Ia memimpikan dari desanya mengalir sampai ke pulau-pulau cantik Maluku kebersihan yang menjadi prinsip setiap rumah. Ia ingin menyaksikan keindahan pantai Eropa menjelma di sepanjang bibir pantai sebagaimana mata saya yang selalu menyaksikan keindahan pantai Eropa. Belum puas sampai disini, beberapa sampah yang bisa didaur ulang diajarkan kepada remaja-remaja desa muda untuk menjadikan kegiatan ini alternatif pendapatan.

Tuhan mengaruniakannya energi kasih. Saya ingin mengenalkan sosok ini walau ia jauh di timur Maluku. Kemilau inspirasinya terus bercahaya sebagai citra cantik perempuan Maluku, citra cantik Indonesia. Kesenjangan fasilitas antara timur dan barat Indonesia tidak menjadikannya menjadi terbelakang dalam kemajuan. Gadis manis kelahiran desa Kailolo dari pulau indah Haruku berdiri tegap untuk kemajuan perempuan Maluku. Selalu, diberbagai kesempatan ia tampil mewakili ikon perempuan muda Maluku yang berani, luwes, dan percaya diri.

Sehari-harinya, Nurhayati Tuanany atau yang akrab disapa Yathi bekerja sebagai penyiar di RRI Ambon. Selain aktivitas ini, ia seperti rahim yang selalu melahirkan inspirasi, sebuah kelas inspirasi ia prakarsai untuk mengajar, mendidik tunas-tunas Maluku yang berlokasi di Pattimura Park. Ia juga menanam inspirasi ini untuk perempuan muda lainnya untuk bergerak melakukan perubahan.

Dekadensi moral dengan maraknya kasus asusila dikalangan perempuan muda, kekerasan, hamil di luar nikah, pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat bukan saja dominasi kota -kota besar. Maluku dengan ibukota Ambon merasakan imbas dari kemajuan zaman dan tekonolgi yang tidak dibarengi dengan ilmu pengetahuan dan keimanan yang kuat turut melahirkan beberapa problematika di masyarakat. Citra buruk ini membuat masyarakat lupa bahwa masih ada citra cantik perempuan-perempuan muda yang tulus berkarya seperti sosok Yathi, penyiar muda yang memiliki rahim inspirasi.

Yathi yang mengaku kagum dengan Helvy Tiana Rosa, penulis perempuan Indonesia yang menjadi inspirasinya untuk berkarya terus melahirkan ide-ide kreatif dari ruangan kosan yang ia tempati dekat kampus IAIN Kota Ambon tempat ia menimba ilmu, belajar dan berkarya.

Dirinya bagai perempuan yang memiliki rahim peradaban, kembali ia bersama sekelompok orang-orang muda mendirikan “Ada Bioskop di Desaku”. Hiburan layaknya layar tancap yang dulu populer dalam kenangan anak-anak ia hadirkan kembali. Sungguh sosok perempuan muda ini layak disebut rahim inspirasi.

Lajang manis yang hobi fotografi, menulis dan traveling ini juga tak melupakan ajaran agama. Ia dalam berbagai kesempatan selalu terlihat cantik dengan hijab khas perempuan muslim. Mimpinya untuk memajukan perempuan Maluku perlu didukung. Citra cantik perempuan seperti ini yang perlu kita apresiasi.

Semua ide kreatif yang ia prakarsai berjalan bukan tanpa halangan bahkan ia rela merogok kocek sendiri dan bantuan dari beberapa sahabat demi mendanai kegiatan-kegiatan peradaban ini dari mulai Bank Sampah, Kelas Inspirasi, Berjualan Aksesoris Daur Ulang dan menghadirkan hiburan bagi anak-anak bangsa di desa Kailolo, Pulau Haruku Maluku. Semuanya ia jalani dengan putih bersih, senyum keceriaan tak pernah lepas. Ia sosok muda citra cantik perempuan dari Tanah Maluku di Republik Indonesia.

Aktivitas ini ia jalani tanpa berkeluh kesah. Sebagai perempuan yang lahir di tanah Maluku saya paham bahwa masyarakat kami belum terlalu mengapresiasi karya-karya perempuan muda. Perbincangan saya dengan Yathi melalui Facebook memberi inspirasi untuk saya bahwa hidup bukan untuk diri sendiri melainkan selalu siap berbagi baik ilmu, pengalaman maupun ketrampilan lainnya untuk sesama perempuan karena citra cantik perempuan Indonesia adalah berbagi inspirasi dan kebaikan. Jangan pernah takut kepada bayang-bayang kegagalan.

Berkarya dalam senyap bukti bahwa ia perempuan tulus yang memberi inspirasi tanpa pamrih karena ia yakin kebaikan yang ditanam akan berbuah, entah hari ini atau esok tunas itu akan tumbuh karena Tuhan Maha Melihat.

Nurhayati atau Yathi merupakan putri dari Bapak M. Ali Tuanany dan Ibu Umi Salam Tuanaya. Terlahir dari keluarga sederhana menjadikan sosok Yathi yang merupakan anak keempat dari lima bersaudara ini belajar banyak tentang warna hidup dari kedua orang tuanya.

Ditulis oleh Raidah Athirah via kompasiana.com

Para Peneliti Ini Lebih Memilih Mengabdi di Indonesia

Apresiasi terhadap para peneliti di Indonesia yang dianggap masih kurang memang membuat sebagian ilmuwan Indonesia lulusan luar negeri memilih melabuhkan diri untuk bekerja di luar negeri. Namun beda cerita dengan peneliti muda yang baru saja meraih Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) XIII tahun 2015 ini.

Gambar: lipi.go.id
Gambar: lipi.go.id

Seperti dilansir dari Humas LIPI, ia lebih memilih kembali ke Indonesia untuk mengembangkan riset di negeri kelahirannya tersebut ketimbang di negeri orang. Suharyo Sumowidagdo adalah peneliti dimaksud. Saat ini, dia merupakan sivitas pegawai negeri sipil Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang bekerja pada Pusat Penelitian Informatika.

Aktivitas utama Suharyo saat ini adalah membangun kegiatan fisika partikel eksperimen dan bidang terkait dalam ranah kolaborasi LIPI dan eksperimen A Large Ion Collider Experiment (ALICE) di Conseil Europeen pourla Recherche Nucleaire (CERN) atau laboratorium nuklir untuk Eropa. Selain itu, ia juga aktif dalam membangun kegiatan fisika terutama fisika partikel eksperimen di Indonesia.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. L T Handoko mengungkapkan, Suharyo bisa menjadi sosok dan contoh ilmuwan muda yang memilih berkarir di Indonesia. “Keputusannya untuk kembali ke Indonesia patut diapresiasi. Saya harap Suharyo bisa menjadi role model dan memotivasi banyak anak muda Indonesia lain yang saat ini ‘berkeliaran’ di luar negeri untuk kembali dan mau berjuang bersama untuk meningkatkan dinamika riset di tanah air,” tutur pria yang juga menjadi atasan Suharyo ini.

Apalagi setelah kembali ke Indonesia dan bergabung di LIPI, lanjut Handoko, Suharyo sudah langsung tancap gas dengan berbagai raihan prestasi seperti peringkat tertinggi secara nasional pada Google Cendekia untuk karya ilmiah terindeks global pada awal tahun ini. Belum lagi penganugerahan PAB yang baru saja diterima pada Jumat (21/8) lalu.

“Bukan sekedar berbagai prestasi tersebut yang dilihat, tapi kita harus melihat keberanian dan dedikasinya sekali lagi untuk kembali dan berkarya ke tanah air meski sudah lama malang melintang sebagai akademisi di luar negeri. Inilah yang perlu digarisbawahi dan dicontoh,” tekan Handoko.

Secara khusus, Handoko berharap prestasi yang diraih Suharyo bisa menjadi penambah semangat bagi segenap peneliti muda LIPI serta diaspora Indonesia yang masih berada di luar negeri untuk berkenan kembali dan membangun riset di tanah air.

Enam Tokoh

Di sisi lain, Suharyo memperoleh penghargaan terbaru PAB XIII bersama lima tokoh lain yang dianggap berprestasi di bidangnya masing-masing. Mereka adalah Azyumardi Azra, Ahmad Tohari, Kaharuddin Djenod, Suryadi Ismadji, Tigor Silaban.

Dalam keterangan tertulisnya, Ketua Umum Organizing Committee (OC) PAB XIII, Anindra Ardiansyah Bakrie, menegaskan meski penghargaan ini diberikan oleh Keluarga Bakrie melalui Yayasan Achmad Bakrie, namun pemilihan dan penetapan para penerima PAB dilakukan dewan juri yang bekerja independen.

“Mereka berasal dari institusi perguruan tinggi, lembaga-lembaga penelitian dan pengkajian, asosiasi dan komunitas profesi, kalangan jurnalis, serta lembaga non pemerintah lain,” katanya.

Enam tokoh penerima PAB XIII merupakan insan terpilih yang disaring dari banyak tokoh kandidat lainnya. Proses penjurian berlangsung dengan merahasiakan nama-nama dewan jurinya layaknya penghargaan Nobel.

Sedangkan, Suharyo terpilih berkat peran aktifnya dalam kerjasama eksperimen global yang menandaskan keberadaan Partikel Boson-Higgs di CERN, yang diramalkan oleh model standar Fisika partikel. Pria ini bersedia kembali ke Indonesia sebagai pionir untuk memulai dan memimpin grup eksperimen global pertama di Tanah Air.

“Ya, seneng bisa meraih penghargaan tersebut. Namun bukan pada penghargaannya, ini adalah amanah agar saya ke depan bekerja lebih giat lagi,” tutup Suharyo.

Lewat 'Jet Engine Bracket', 2 Anak SMK Ini Mendunia

jet engine bracket karya smk salatiga | berita broadcastDunia desain adalah salah satu bidang yang cukup menjanjikan saat ini. Hal ini terlihat dari bermunculannya berbagai usaha yang bergerak di bidang ini seperti usaha percetakan digital ataupun offset, percetakan kaos, desain logo, desain web, desain interior, desain produk, dan lain sebagainya.

Kemudahan untuk menyajikan jasa tersebut juga memicu banyak orang untuk usaha sendirian seperti freelance/kerja lepas. Beruntung pendidikan kejuruan di negara kita saat ini sudah mengalami perkembangan. Banyak SMK telah mulai bermunculan sehingga lulusan-lulusannya pun juga dapat menghasilkan uang dari keahlian yang mereka miliki.

Arfi’an, adalah salah satu anak muda yang mengenyam pendidikan menengah kejuruan di Salatiga. Meskipun tidak sempat mencicipi bangku kuliah, namun bukan berarti hal itu mematahkan semangatnya untuk berusaha memperbaiki hidupnya.

Berawal dari kehidupan yang sangat sederhana dan modal pendidikan terakhir SMK, dia bersama adiknya mampu menunjukkan bahwa lulusan SMK pun juga mampu menjadi sukses. Bahkan belum lama ini,  desain “jet engine bracket” buatan mereka berhasil memenangkan kompetisi Global 3D Printing Design Quest yang digelar oleh General Electric, perusahaan multinasional asal Amerika Serikat.

Saat ini, setidaknya ada 10 proyek lebih yang sedang dikerjakan. Salah satunya mengerjakan design ultralight aircraft untuk pasar Jerman, Kanada, dan Inggris. Beberapa desain sebelumnya untuk pasar Amerika Serikat.

Penjual Susu dan Tak Memiliki Latar Belakang Desain

Apa yang dicapai Arfian dan Arie dalam kancah internasional tidak terjadi tiba-tiba. Sebelum berkecimpung di dunia desainengineering  mereka adalah pedagang susu dan tukang tambal ban.

Kehidupan ekonomi  keluarga yang tidak mencukupi membuat mereka harus bekerja apa saja untuk mendapatkan penghasilan.

Uniknya, kalau lah boleh dibilang begitu, baik Arfian dan Arie tak memiliki latar belakang akademis di dunia desain engineering. Arfian yang lahir pada 2 Juli 1986 lulusan SMA, sedang Arie yang lahir pada 11 Juli 1991 lulusan SMK jurusan otomotif.

Arfianlah yang pertama-tama tertarik dengan dunia ini. Ia semata-mata hobi, belajar sendiri dengan meminjam komputer milik sepupunya. Komputer adalah barang yang amat mewah yang tidak mungkin mereka miliki.

Arie mengenal desain engineering dari kakaknya. Arie mengaku secara akademis dirinya tidak cemerlang di bangku sekolah. Ia mengalami kesulitan memahami setiap pelajaran. Kata dia, materi pelajaran di sekolah kebanyak disampaikan dalam bentuk teori tanpa praktik. Siswa di kelas hanya membayangakan apa yang diajarkan oleh guru.

Proyek pertama senilai Rp 90 ribu

Proyek pertama membuat desain dimulai dari seringnya mengunjungi salah satu situs tempat para klien mereka berkumpul dan berbincang di dunia maya.

Pada tahun 2005, proyek pertama yang mereka kerjakan adalah membuat jarum untuk alat ukur yang berfungsi sebagai alat medis. Pemesannya adalah perusahaan asal Jerman. Mereka mendapat honor perdana sebesar 10 dollar AS atau sekitar Rp 90 ribuan kala itu.

Sejak proyek pertama itu, mereka terus mendapat permintaan untuk membuat desain-desain alat-alat lain yang semakin canggih. Bahkan, mereka sempat ditawari membuat senjata namun mereka menolak karena senjata dapat digunakan untuk tindakan kriminal.

Selanjutnya, mereka juga pernah membuat desain pesawat ringan yang dipesan oleh perusahaan asal Amerika Serikat. Mereka mendapat bayaran ribuan dollar dari proyek itu.

Mereka kini adalah pemilik usaha Dtech Engineering, bisnis jasa desain yang mendunia. Mereka melayani pemesanan desain tiga dimensi dari seluruh penjuru bumi.

Gadis Asal Nias Terpilih Menjadi Duta Indonesia di Eropa

Bila sebelumnya desa-desa di Nias, yang terkenal dengan lompat batunya, hanya berupa hamparan rumput dan ilalang, kini Nias dibuatnya menjadi kebun-kebun buah dan sayuran, yang sangat bermanfaat bagi pemenuhan gizi anak-anak Nias. Inilah Si remaja cantik pemiliki nama Restanti Waruwu, peraih penghargaan “Program Community Heroes – Wahana Visi Indonesia” 2015, Sang penggagas Kebun Gizi asal Ononamolo I Bot, Hiliduho, Nias, Sumatera Utara.

Kalau melihat usianya, siswa Sekolah Menengah Kejuruan di Gunung Sitolui itu masih sangat muda. Namun tukang kebun cantik ini berhasil melakukan perubahan besar bagi masyarakat sekaligus daerah yang dicintainya. Tergabung dalam Forum Anak Nias (FORANI), dara berusia 17 tahun ini (bersama teman-temannya) menggarap lahan-lahan di daerahnya, hingga membuat Nias bukan hanya dikenal dengan lompat batu atau pun pantai indahnya. Tekad gigihnya sejak tahun 2012 menambah keindahan Nias dengan menghadirkan kebun buah dan sayur yang disebut dengan “Kebun Gizi”.

Gambar: nias-bangkit.com
Gambar: nias-bangkit.com

Kebun Gizi adalah salah satu isu yang ditangkap FORANI yang dijadikan program sejak pembentukan lembaga tersebut. Menurutnya, saat itu ia dan teman-temannya sepakat untuk melakukan sosialisasi cara pengelolaan makanan sehat dan pembuatan kebun gizi. Mereka bertekat agar setiap desa memiliki satu kebun gizi, seberapa pun ukuran lahan yang didapat. Setelah mendapat lahan di masing-masing desa, mereka menanami berbagai macam sayur dan buah di lahan-lahan tersebut.

Ketahanan pangan menjadi isu utama di Nias, melihat bahwa di Nias masih banyak lahan kosong yang tidak dimanfaatkan dengan baik, sedangkan anak-anak Nias juga banyak yang mengalami kekurangan gizi. Pemahaman masyarakat tentang makanan yang bergizi tentunya masih sangat terbatas. Hal ini akan berdampak pada kondisi terganggunya anak yang sedang tumbuh kembang.

Berdasarkan permasalahan nyata di lingkungan sekitarnya, Restanti bersama FORANI dan dibantu oleh Wahana Visi Indonesia membuat sebuah kegiatan nyata yang mereka beri nama “Kebun Gizi”. Kebun gizi merupakan lahan yang dibuka oleh Restanti dan rekannya untuk ditanami tanaman yang memiliki kandungan gizi yang baik. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan pemahaman kepada masyarakat perihal makanan bergizi yang baik untuk anak.

Dalam menjalankan niatan baik untuk sesama ini, perempuan yang juga menjabat sebagai ketua OSIS ini menemui berbagai kendala dari masyarakat. Pada awalnya masyarakat menganggap bahwa kebun gizi ini bukanlah sesuatu yang penting dan manfaatnya tidak begitu besar, bahkan mereka sempat diusir dan dianggap mengganggu. “Tantangan awalnya adalah masyarakat yang belum begitu percaya dengan kami, melihat kami hanyalah remaja yang suaranya masih belum begitu didengar,” lanjut Restanti.

Meskipun demikian, mereka tidak menyerah begitu saja. Mereka memperlihatkan kepada masyarakat bahwa mereka benar-benar bersungguh-sungguh mengenai manfaat dari kebun gizi tersebut. Lambat laun setelah melihat hasil dari kebun gizi tersebut, masyarakat secara berlahan mempercayai mereka. Di Nias saat ini, kegiatan membuka kebun gizi semakin bertambah, hal itu berarti upaya anak-anak muda ini mendapatkan manfaat positif. Bahkan kebun gizi kini beberapa sudah berada di halaman rumah warga.

Tindakan Restanti dan rekannya yang awalnya terlihat sederhana ternyata memberikan pengaruh yang luar biasa. Bahwa anak muda juga mampu mengambil peranan yang bermanfaat bagi lingkungan. Restanti sendiri tidak berhenti sampai disitu, dia masih terus mencoba untuk mengembangkan potensi yang ada di Nias. Keterbatasan tidak membuat mereka terbatas untuk lebih peduli lagi.

Berkat kerja kerasnya, Restanti kemuian didaulat sebagai duta anak dari Nias yang mewakili Indonesia di forum European Development Days di Belgia. “Harapannya anak-anak Indonesia terbebas dari kekurangan gizi, dapat merangkul semua kalangan untuk lebih peduli serta fasilitias di Nias yang cukup terbatas mulai ada perbaikan lebih baik lagi,” harap Restanti.

Mobil Bertenaga Surya Hasil Karya Anak Indonesia

Mobil listrik tenaga surya Widya Wahana V hasil inovasi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) memulai ekspedisi perdana menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bali pada Senin (17/8).

Mobil listrik berkekuatan 12 x 2 kW ini, Kamis (20/8) menuju Denpasar, Bali sebagai titik akhir dari tour de Java Bali. Aufar Nugraha, Ketua Tim Ekspedisi Jawa Bali menjelaskan, panjang rute yang dilewati selama tur ini sekitar 1.250 kilometer.

Gambar: kompas.com
Gambar: kompas.com

Mobil ini memiliki spesifikasi di antaranya, berkekuatan jarak tempuh 700 kilometer per charge dengan bobot 150 kilogram.  Kapasitas mobil ini hanya untuk dua penumpang, dengan berat badan masing-masing minimal 80 kilogram.

 

Diluncurkan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Widya Wahana V akan menjadi mobil tenaga surya yang menempuh perjalanan terjauh di Indonesia.

Dalam peluncuran, Nasir mengucapkan selamat dan sukses bagi mobil inovatif yang nantinya juga akan dilombakan di ajang World Solar Challenge 2015 di Australia pada Oktober nanti. Ia mengatakan bahwa dunia sudah ulai melirik surya sebagai sumber energi kendaraan. Beberapa waktu lalu, pesawat bertenaga surya produksi Swiss, Solar Impulse, juga diujicoba untuk menyeberangi Samudera Pasifik dari Tokyo ke Honolulu dan sukses.

Yusuf Alif, mahasiswa Teknik Perkapalan ITS yang berperan sebagai manager desain dalam rekayasa Widya Wahana V mengatakan, mobil diperkirakan akan menempuh jarak Jakarta – Denpasar dalam waktu 5 hari. Tiba di Denpasar 21 Agustus 2015.

Ayuning Fitri Desanti, anggota tim elektrik rekayasa Widya Wahana V, mengatakan bahwa secara teoretis mobil bisa berjalan dengan kecepatan maksimum 90 km/jam.

Dengan daya penuh, mobil dengan kapasitas baterai 15 KWh ini secara teoretis bisa melaju nonstop selama 4 jam dengan kecepatan maksimum.

Widya Wahana V masih dikatakan sebagai mobil hybrid. Pengisian energi tidak 100 persen dengan tenaga surya namun masih membutuhkan listrik.

Pekerjaan rumah untuk mewujudkan mobil tenaga surya yang bisa dipakai sehari-hari adalah mengupayakan panel surya yang lebih efisien dan daya mobil yang lebih rendah.

Budaya Menghukum

Gambar: kompas.com
Gambar: kompas.com

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Ditulis oleh Rhenald Kasali

Kekuatan Sikap Positif, Cerita Presdir Aramco

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya yg kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas

Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: “Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur” Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.

Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan SD. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan,sedangkan mereka insinyur ? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka?

Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan “SIKAP POSITIF” . Muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.

Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur.

Kini ia sudah menaklukkan ”rasa sakit”nya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja. Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain.

Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya.

Suatu hari insinyur tersebut datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; “Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu”

Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: “Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini.

Kini sikap positfnya sudah membuahkan hasil, lalu apakah ceritanya sampai disini?

Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut.
Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.

Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company), perusahaan minyak terbesar di dunia.

Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.

Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.

Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.

Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi hal yang positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.

Itulah kekuatan”SIKAP POSITIF”

Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita.

Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita.

Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya.

Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat “Bersikap Positif” dan menjadi bagian dari solusi.

Tarian Tradisional Indonesia Memukau Warga Meksiko

Festival Zacatecas del Folklor Internacional “Gustavo Vaquera Contereas” (FZFI) ke-20 berlangsung di  Zacatecas, wilayah utara Meksiko  25 Juli-2 Agustus 2015. Beragam tarian Indonesia dibawakan oleh 18 pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 8 Jakarta sebagai wakil CIOFF (Conseil International des Organisation de Festival de Folklore et de’Arts Traditionnels).

Foto: Facebook CIOFF Indonesia

Tari Saman, Tari Ronggeng Ganjen, Tari Yapong, Tari Greget Jawara dan beberapa tarian tradisional Indonesia memukau 300an penonton yang hadir pada event tersebut. Penonton bertepuk tangan meriah pada saat tim menarikan Tari Saman. Selain kelihaian menarinya, tim SMAN 8 juga dipuji penonton atas keindahan kostum tarian yang mempesona, menurut pernyataan Febby Fahrani sebagai Pelaksana Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI di Meksiko.

Selain Indonesia, ada 15 negara yang turut memeriahkan festival tersebut. Antara lain,  Argentina, Bolivia, Brasil, Costa Rica, Kanada, Colombia, Chile, Spanyol, Mesir, Prancis, Honduras, Rusia, Panama, Peru, Polandia, dan El Salvador.

Duta Besar Indonesia untuk Meksiko menyatakan Yusra Khan bahwa partisipasi Indonesia yang diwakili oleh pelajar SMA Negeri 8 Jakarta ini tidak hanya berkontribusi pada promosi Indonesia di seluruh dunia, termasuk Meksiko, namun juga pada penguatan hubungan Indonesia – Meksiko.

Gubernur Meksiko City, Miguel Alonso Reyes, menyampaikan apresiasi tinggi kepada perwakilan negara yang berpartisipasi dalam FZFI 2015, kehadiran 16 negara, termasuk Indonesia, di Meksiko dalam festival menunjukan semangat yang sama dalam melestarikan kekayaan seni budaya rakyat.

Secara khusus Reyes menyampaikan apresiasi kepada Indonesia sebagai satu-satunya peserta dari kawasan Asia yang hadir di FZFI 2015.

Paduan Suara Asal Indonesia Raih Prestasi di AS

Berdiri tahun 2007, paduan suara “The Resonanz Children Choir” berhasil menjuarai ajang The Golden Gate International Choral Festival 2015. Kelompok paduan suara yang diikuti oleh 48 anak berusia sembilan tahun keatas ini berkompetisi di empat kategori.

Adapun kategori yang diikuti adalah lagu daerah, historis, gospel, dan kontemporer. Tidak tanggung-tanggung, kelompok paduan suara anak dibawah the Resonanz Music Studio pimpinan konduktor Avip Priatna di Jakarta ini berhasil meraih dua juara pertama untuk kategori lagu daerah dan historis, juara dua di kategori gospel, dan juara tiga untuk kategori komtemporer. Ini sekaligus menjadikan Indonesia satu-satunya grup di Asia yang berhasil menjuarai dua kali.

Menurut konduktor sekaligus pelatih, Devi Fransisca, kompetisi di Amerika kali ini adalah yang paling bergengsi. Tidak hanya bisa melihat kelompok paduan suara dari berbagai belahan bumi lainnya, tetapi mereka juga berkesempatan untuk mengharumkan nama bangsa, sekaligus memperkenalkan kebudayaan Indonesia.

“(Penonton dan juri) senang melihat Bungong Jeumpa sama melihat Janger. Kemudian kita juga bawa banyak kostum nasional. Kita bawa kostum dari Aceh (dan) Bali. Kemudian anak-anak (di kategori lagu daerah) juga menyanyi sambil menari,” tambah perempuan yang tengah melanjutkan kuliah di The University of Music, Drama and Media Hanover di Jerman ini.

Namun, memang semua ini harus dilakukan dengan kerja keras dan disipin. Devi mengaku banyak sekali persiapan yang harus dilakukan dalam mengikuti kompetisi ini. Tidak hanya harus latihan menyanyi setiap hari, anak-anak ini harus tinggal berjauhan dengan orang tua mereka selama kompetisi berlangsung. Maka dari itu para pelatih dan pembimbing juga harus merangkap menjadi orang tua mereka. Untungnya, untuk kompetisi kali ini ada sekitar 10 orang tua yang ikut berangkat, sehingga bisa membantu anak-anak, mulai dari mengatur jam tidur hingga makanan mereka.

“Persiapan mental mereka yang paling penting. Sama fisik mereka,” ujar konduktor yang pernah memperoleh gelar konduktor terbaik sebanyak dua kali saat mengikuti kompetisi-kompetisi di tingkat internasional ini.

Selain itu para pembimbing dan orang tua juga ikut membantu dalam hal kostum. Mulai dari pembuatan, persiapan, dan juga pemakaiannya. “Selama pertandingan kan harus ada yang memakaikan kostum, make-up, itulah peran kami ibu-ibu di sini,” ujar Giok Hartono, penasihat anak di the Resonanz Children Choir.

Musibah sempat melanda ketika beberapa kostum yang mereka tinggal di mobil dicuri orang ketika di San Francisco, “(Kaca) mobilnya dipecah. Gimana ya, lagi sial. Untung saya ada cadangan jadi bisa terpecahkan,” lanjut Giok.

Sebelumnya kelompok paduan suara anak yang berdiri pada tahun 2007 ini juga sudah pernah mengikuti bahkan menang di berbagai kompetisi internasional lainnya, termasuk di Hungaria dan Hongkong. Devi selalu menekankan kepada anak-anak bimbingannya untuk selalu bangga akan tanah air tercinta. “Kita kaya dan benar-benar mampu secara potensial bersaing di dunia Internasional, khususnya untuk bidang paduan suara dan musik.”

Sumber: Website VOAIndonesia