Carilah Guru di Luar Sekolah Formal

Suatu pagi hari seorang bocah balita digendong oleh bapaknya keliling kota. balita itu melihat disekitarnya. Dalam genggam pelukan bapaknya, bocah itu sesekali bertanya.

“Pak, kenapa langit bisa berubah warna? kalau sekarang berwarna biru, terus nanti (siang) kok putih, lalu (sore) ganti oranye, habis itu hitam?”

Dengan sabar bapak menjawab singkat, “Makanya nak, kamu cepat besar. nanti tanya ke Gurumu di sekolah.”
Si balita terdiam lagi. Lalu selang beberapa langkah ada pengemis di pinggir jalan. Si balita penasaran dan bertanya “Pak, kenapa orang itu duduk-duduk dan meminta uang? Apa kerjaannya?”

Bapak dengan senyum menjawab, “Iya, nanti kamu akan tau penjelasannya kalau sudah sekolah.” Benar saja, si balita kembali terdiam.

Beberapa langkah lagi, mereka melewati tempat pembuangan sampah. Baunya sangat menyengat. Si balita pun bertanya kepada bapaknya, “Pak, kenapa sampah kok baunya menyengat?”

Si bapak dengan ramah menjawab, “Nanti juga kamu akan tahu kalau sudah sekolah nak..”

Setelah dari kota dengan beberapa pertanyaan dari si anak. Kini mereka kembali ke desa. Dengan sepeda onthel yang dikayuh bapak, si balita melihat pemandangan gunung. Karena takut bertanya dengan kata ‘kenapa’, si balita menggunakan kata tanya lainnya lantas bertanya, “Pak, apa gunung berwarna biru?”

Bapak pun menjawab. “Nak, bapakmu hanya buruh tani. Bapak dulu sekolah saja tidak tamat. Jadi semoga kelak kamu bisa lulus dari sekolah, bahkan perguruan tinggi. Agar semua jawabanmu terjawab dan bisa menjadi orang yang berguna. Yang bapak tahu adalah kalau berbuat baik, hasilnya baik. Pun demikian sebaliknya.”

Si balita akhirnya mengerti. Dia harus sekolah hingga terjawab dan tercapai harapan bapaknya.

Selang beberapa tahun kemudian,si balita tadi beranjak dewasa. Usianya sekitar 20tahunan dan telah duduk di sebuah bangku perguruan tinggi. Bapaknya telah tua renta. Dan si anak itu kembali ke bapak dan mengingat pertanyaannya dulu ke bapaknya.

“Pak, ingat dulu waktu kita jalan-jalan ke kota?”

“Yang mana nak?”, tanya kembali si bapak karena sudah sedikit pelupa.

“Waktu saya masih balita. Dulu saya bertanya tentang langit, pengemis, sampah dan kota. Waktu bapak gendong saya. Lalu pulangnya saya bertanya warna gunung?”

Bapak sedikit mengingat. lalu menjawab “Oh, iya. Aku ingat. Bagaimana?”

Sambil tertunduk si anak berkata, “Belum terjawab pak. Selama sekolah saya diajari tentang rotasi dan revolusi matahari. Tidak punya waktu bertanya kenapa bisa berubah warna tentang langit. Juga tentang pekerjaan, saya tidak diajari bagaimana susahnya pengemis mencari nafkah keluarga. Di sekolah hanya dijelaskan tentang tugas dan wewenang eksekutif, yudiskatif dan legislatif saja. Lalu tentang sampah, di sekolah hanya diajari buang sampah pada tempatnya, jagalah kebersihan. Tidak diajari tentang daur ulang, dan menjaga alam agar seimbang. Bahkan dengan warna Gunung. Di sekolah saya diajarkan fungsi gunung, kelestarian flora dan fauna di dalamnya, tentang HPH dan hukum agraria pengelolaannya. Tidak ada jawaban kenapa warna bisa berubah.”

“Nak,” dengan sedikit senyumnya si bapak meneruskan,”Sekolah adalah tempat kamu menempa ilmu, dan guru adalah mereka yang punya banyak ilmu. Kalau jawaban itu tidak atau belum kamu dapatkan di bangku sekolahan, kamu masih bisa mencari guru itu di lapangan. Berkembanglah disetiap tempat. Belajarlah dari setiap orang dengan beragam pengalamannya. Sekolah formal adalah tempatmu mendapat teori, dan pengalaman lapangan adalah sekolah tentang hakikat kehidupan. Dan semuanya saling beriringan nak.

*Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan cerita, tokoh, tempat dan pengalaman harap jadi maklum adanya.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *