Bukti Walisongo Itu Ada dan Nyata

Ini adalah bukti dan fakta bahwaWalisongo itu ada dan nyata. Berikut ini saya lampirkan scan Het Boek Van Bonang yang berisikan kisah Walisongo yang ditulis oleh peneliti Belanda berdasarkan bukti-bukti manuskrip dan juga scan asli tulisan tangan nasehat Sunan Bonang dalam Bahasa Jawa. Bukti tersebut ada di museum Leiden Belanda. Dari dokumen ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti. Diantaranya disertasi Dr. B.J.O. Schrieke tahun 1816, dan Thesis Dr. Jgh Gunning tahun 1881, Dr. Da Rinkers tahun 1910, serta Dr. Pj Zoetmulder Sj, tahun 1935. (Lihat karya disertasi B.J.O Schrieke yang berjudul Het Book van Bonang dalam bahasa Belanda).

Menurut Pemerhati Sejarah Kerajaan Jawa, E.A. Indrayana, buku asli karya Sunan Bonang itu berada di perpustakaan Leiden-Belanda dan menjadi salah satu dokumen langka dari Zaman Walisongo. Kalau tidak dibawa Belanda, barangkali dokumen yang amat penting itu sudah lenyap. Buku ini ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam.

Kenapa bukti manuskrip itu ada di museum Belanda? Dulu indonesia kalah perang , Belanda merampas dan mengambil kitab-kitab kuno klasik ulama leluhur bangsa Indonesia, dulu bagi belanda apa yang mereka ambil mereka anggap rampasan perang (ghanimah). Tidak hanya manuskrip tulisan tangan asli Walisongo yang diambil Belanda, bahkan kitab Tarekat Syattariyah yang dikenal dengan kitab “Martabat Tujuh” juga ada di Belanda. Di Belanda kitab “Martabat Tujuh” dikenal dengan Mystik of Letter. Mereka (Belanda) menamakan kitab “Martabat Tujuh” dengan sebutan “Mystic of Letter” karena tidak mampu mengkaji dan mengupas rahasia keilmuan kitab tersebut.

Bahkan lukisan asli Syekh Abdurrauf Al Sinkili ternyata ada di Belanda. Belanda banyak mengambil kitab-kitab kuno ulamaNusantara untuk dipelajari dan mencoba mencari tahu rahasia kekuatan spritual yang tersimpan pada makna kitab kuno tersebut.

Mengapa Walisongo tidak membuat kitab? Tugas dan dakwah Walisongo ke Nusantara meng-Islamkan penduduk negeri tersebut. Karena beratnya tantangan dan penduduk Nusantaranya baru masuk Islam hingga mereka tak punya waktu untuk membuat kitab.

Walisongo berdakwah dengan maqom ihsan (perbuatan), yaitu terjun langsung ke lapangan mengislamkan penduduknya yang masih aninisme dan dinamisme, sedangkan ustad Salafi Wahabi dakwahnya hanya dengan cuap-cuap bebek, mencari-cari celah kekurangan amaliah orang, sering menuduh sembarangan terhadap amaliah sunnah yang dilestarikan dengan sebutan bid’ah, kadang sampai mengkafirkan, bahkan terkadang menyebut terhadap orang yang bukan termasuk golongannya, dan anehnya motto para ustad Salafi Wahabi “berdakwah meng-Islamkan yang sudah Islam” bukannya meng-Islamkan yang belum Islam.

Salah satu catatan menarik yang terdapat dalam dokumen “Het Book van Mbonang” adalah peringatan dari Sunan Bonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih, dan mencegah diri dari kesesatan dan bid’ah.

“Ee..mitraningsun! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah,” sebagaimana kata Abu Yahta Arif Mustaqim, pengedit buku Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah Para Wali hal. 12-13.

Artinya: “Wahai saudaraku! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan bid’ah.

bukti walisongo | beritabroadcast

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *