Arti Ru'yah Hilal Menurut Prof Dr Salman Harun

Penentuan awal bulan Ramadhan bisa dilakukan dengan melihat bulan secara langsung (rukyatul hilal) atau bisa juga dengan perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan (hisab). Di bawah ini merupakan pendapat dari salah satu Cendekiawan Muslim, Prof. Dr. Salman Harun mengenai metode rukyatul hilal.

“Bulan Ramadhan yang…siapa yang menyaksikannya (syahadat) di antara kalian, hendaklah ia berpuasa,” (Q.2:285). Mengapa ayat itu tidak pernah dijadikan landasan oleh para ulama dalam menentukan permulaan bulan Ramadhan, pada hal ayat itu jelas berkaitan dengan bulan puasa itu. Bersyahadat (meyakini) tidak mesti melihat dengan mata kepala, tetapi bisa juga dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana halnya kita bersyahadat bahwa Allah dan Muhammad saw itu ada. Begitu juga mengenai rukyah (melihat hilal), yang selalu dijadikan dasar penetapan awal bulan, selalu dimaknai dengan melihat dengan mata kepala, pada hal dalam bahasa Arab rukyah itu juga berarti melihat dengan ilmu, sebagaimana misalnya orang Arab berkata, “Ma ra’yuk?” ‘Bagaimana pendapatmu?’

Sudah 15 abad lamanya umat Islam belum juga punya kalender hijriyah yang mapan (berbeda sekali dengan kalender masehi), karena untuk menentukan awal bulan mesti bulan dilihat dulu dengan mata kepala. Oleh karena itu kalaulah umat Islam mau memakai ilmu pengetahuan, yaitu Astronomi, dalam menetapkan awal bulan itu, dijamin penetapan awal bulan itu tidak akan salah, kalender hijriyah dapat disusun secara pasti, energi dan biaya dapat dihemat, dan yang terpenting, persatuan umat akan semakin mantap.

Pendapat diatas dilengkapi dengan pendapat Muhbib Abdul Wahab, salah satu dosen UIN Jakarta.

Logika saya begini terhadap “imkanu ar-ru’yah“. Jika posisi hilal di bawah 2 derajat (yang katanya tidak mungkin dirukyat), mengapa masih juga dirukyat?? Saya kira hal ini bisa “memboroskan” energi dan anggaran negara. Mestinya langsung saja diistikmalkan menjadi 30 hari. Sebaliknya, jika posisi hilal sudah 2 derajat atau di atas 2 derajat, mengapa tidak langsung saja ditetapkan besok puasa atau lebaran, toh sudah diyakini bisa dilihat? Mana yang sebenarnya substansial dan yang instrumental? Saya melihat sebagian kita terjebak pada rukyat seolah-olah substansial, padahal instrumental. Substansinya adalah kita meyakini dan mengamalkan puasa itu sendiri, terutama melalui rukyah bi al-ilmi.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *